Luluh Lantaknya Wilayah yang Dimasuki ISIS

ilustrasi

Oleh : Rijal Mumazziq

Sebelum 2017, masyarakat muslim di Marawi, Mindanao, Filipina Selatan, mayoritas berpandangan moderat, bercorak Ahlussunah wal Jamaah dengan madzhab Syafi'i yang kuat, para ulamanya alumnus universitas al-Azhar, dan sangat menghormati muslim Indonesia.

Manuskrip-manuskrip kuno bertarikh lawas yang membuktikan adanya interaksi kebudayaan dan keilmuan di antara para ulama di Asia Tenggara beberapa abad silam juga masih bisa dijumpai. Tokoh kunci yang membuka cakrawala pengetahuan keislaman di Marawi ini bernama Haji Muhammad Said alias Sayyidna, ulama pengembara abad ke-19 asal Magonaya, Mindanao, yang pernah singgah di Borneo, Johor, Lingga dan Palembang, sebelum tujuh tahun berlajar di Haramain.

Dalam artikelnya yang berjudul "Jangan Menjadi Marawi", yang dimuat di Kompas, 21 Juni 2017, Prof. Oman Fathurrahman, filolog terkemuka Indonesia, menjelaskan apabila selain manuskrip peninggalan Haji Muhammad Said, ada juga koleksi milik perpustakaan Jamiatu Muslim Mindanao, sekolah Arab tertua di Filipina selatan. Dari dua koleksi ini, ada sekirtar 100 manuskrip yang mayoritas berbahasa Melayu selain Arab dan Maranao.

Manuskrip-manuskrip di Marawi adalah bukti tertulis sejarah pertemuan dan dialog agama Islam abad ke-18 dan 19 dengan keragaman budaya lokal setempat. Tidak beda dengan di Indonesia, manuskrip-manuskrip semacam itu sangat penting dalam konteks memahami watak Islam Nusantara yang mampu berdialog dengan keragaman, beradaptasi dengan tradisi lama, bukan sebaliknya, Islam yang hanya berkiblat pada satu tafsir kebenaran tunggal.

Sayang, kekayaan ilmu pengetahuan ini tidak diketahui lagi nasibnya setelah Militan Maute, yang merupakan ISIS Cabang Asia Tenggara menjadikan Marawi sebagai basis pertempuran. Kaum muslim awam, yang tidak tahu menahu misi ISIS, pada akhirnya terjebak dalam pertempuran antara milisi tersebut dengan tentara Filipina. Marawi hancur, penduduk mengungsi, korban jiwa tak terhitung, dan akhirnya artefak kebudayaan dan jejak pengetahuan harus ikut menjadi korban.

Di Niniveh, Irak, makam Nabi Yunus diledakkan. Di Suriah, makam Imam Nawawi mengalami nasib yang sama. Kitab-kitab yang tidak seideologi dimusnahkan. Mereka juga menghancurkan kekayaan arkologis berusia puluhan abad di Palmyra, menghancurkan isi museum dan menjarah barang berharga, lantas ketika terpepet mereka juga meledakkan Masjid An-Nour yang sempat dijadikan basis kekuatan, padahal menara masjid kuno ini berusia ratusan tahun. Ini belum menghitung gereja klasik dan biara kuno yang diledakkan dengan TNT.

Sebagaimana brutalitas ISIS di Suriah dan Irak dalam penghancuran nilai kemanusiaan dan jejak peradaban, militan Maute menduplikasinya di Marawi. Kota ini menjadi kota mati. Militan Maute, sebagaimana ISIS di Suriah, mengundang para bajingan atas nama jihad untuk datang ke daerahnya, lantas bersama-sama mewujudkan kehancuran kota dan membunuhi penduduk yang tidak mendukungnya.

Di manapun militan radikal berada, mereka tak segan merusak rumah ibadah, lembaga pendidikan, situs arkeologis, museum, perpustakaan, monumen serta pembakaran manuskrip-manuskrip bersejarah.
***
Saya tak hendak membicarakan kebrutalan milisi ISIS dalam melakukan eksekusi terhadap lawan-lawannya. Semua sudah paham. Terlalu mengerikan dan sulit dijangkau nalar. Memuakkan. Mengerikan!

Karena itu, wacara memulangkan Eks WNI yang bergabung dengan ISIS adalah wacana tolol! Sudah tidak terhitung mafsadat yang dihasilkan oleh kelompok ini. Aksi Lone Wolf ISIS di tanah air dalam beberapa tahun terakhir sudah mengerikan: bom bunuh diri di gereja, penyiksaan dan pembunuhan Brimob, penusukan polantas, bom sepeda motor, dll, apalagi ketika 600 orang ini, dipulangkan.

Biarkan saja mereka di kamp yang dijaga tentara Kurdistan maupun serdadu Suriah. Mereka sudah membakar paspor RI, bersumpah setia dengan Abu Bakar al-Baghdadi, mencaci maki negaranya, menuduh kafir umat Islam yang tidak seideologi dengannya, dan kini, setelah kalah, mereka mau pulang. Ini karena mereka kalah, bagaimana jika mereka menang?

Ketika ditanya wartawan, mereka bilang: kami ingin hidup normal kembali, tertawa, dan hidup bahagia seperti dulu.

Kini saatnya kita menjawab: kami juga ingin hidup normal, tertawa riang, dan hidup bahagia tanpa kehadiran kalian.

Ketika sok kuat, mereka menuduh kita sebagai musyrik penyembah Pancasila, pendukung Taghut, kaum penjilat kuffar, kilabun nar, dan seterusnya. Kini setelah kepepet, seperti biasa, mereka bermuka melas, mendaku diri sebagai korban, dan kesana kemari mengecer slogan Ukhuwah Islamiyyah!

Dalam istilah Zimbabwe, mereka ini disebut dengan istilah khas, yaitu Kampretos Mamamia Lezatos Domestos Nomos!

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

Friday, February 14, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: