Luhut Diserang, Kenapa?

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Manusia dgn nol nafsu pastilah tidak bisa, bahkan seorang sufi pun masih bernafsu. Hanya tingkat pengendalian mereka paripurna.

Belakangan ini kita melihat keberingasan nyaris terjadi pada semua lapisan, herannya yg naik kepermukaan malah pelaku politik, dan publik figur yg didominasi oleh yg berlebel ngerti agama. Baik yg masih di jalur ulama, ustadz, maupun yg berlatar belakang sama hanya saja sdh masuk ke ruang politik nan licik. Mereka beringas, dan buas mengganas di tengah rakyat yg sdg mengalami was-was dan kekhawatiran mengundang kecemasan.

 

Keberingasan mereka bak pandemi karena keberingasan yg di lakonkan mereka tidak sama dgn begal speda. Begal di jalan sebatas buat makan. Kalau beringas yg di lakukan politikus dampaknya bs meracuni masyarakat, dan urutannya.

Membaca tulisan Prof. Ary Hadi Dharmawan, ttg post truth, atau kebenaran yg diragukan, bahwa lakon mereka tidaklah sendiri, ini sebuah serangan dgn strategi serta terencana. Ini pola lama ttg persaingan yg bertarget besar atas isi perut bumi Indonesia dan negara. Tersamar tapi jelas, siapa mereka. Mereka adalah musuh Jokowi, antek orba, yg dikendalikan adi daya dan biaya, didukung dari dalam dgn rasa dendam ingin membalikkan kekuasaan dgn menguasai pemerintahan. Ingat saat 7.000 T mau di ambil pulang, mereka berang dan menggalang perang. 

Saat ini banyak orang melakukan statement tidak jujur utk kepentingannya. Mereka melakukan * act of hiding the truth * ( suka menyembunyikan kebenaran hakiki ) demi utk memuaskan atau meraih cita-cita yg egoistik. Kepentingan masyarakat diabaikan, kehancuran sosial sbg akibat dari satatementnya yg membakar kebohongan dianggap bukan urusannya, tapi dgn pongahnya dia tampil bak manusia beradab, padahal sejatinya tak beradab, bhkn dia adalah bangsat. Karena manusia jenis ini justru bangga kalau sistim sosial kita goyah krn ucapannya.

Serangan terhadap LBP adalah sebuah strategi penyerangan bersayap, mereka tau Jokowi sdh imun terhadap fitnah dan isu miring, shg serangan diarahkan kepada orang dekatnya. Lihat saja orang kuat di sekitar Jokowi semua diserang, Ahok, Erick, sàat ini LBP, sebentar lagi, bisa Basuki, kalau Sri Mulyani sdh selalu di recoki.

Masyarakat yg di bangun dgn budaya dishonesty dan deception, ketidak jujuran dan menyamaratakan sangat membahayakan utk ke stabilan sebuah negara, tapi itulah cara manusia sesat berkuasa, karena kulit luarnya yg seolah benar adalah bungkus kesesatan yg di permanenkan.

Lihatlah masa kita sdg diserang covid19, disana mereka bermain. Jangan tanya apa agamanya, pendidikannya, dst. Selama keinginannya bermukim di batok kepalanya disana kita merasakan kerusakan yg dibuatnya, walau kdg kesadaran kita terkesima karena framingnya luar biasa, sehingga yg bahkan sesat fakta dan data bisa bisa diterima masyarakat karena terus di yakinkan dlm frekuensi dan waktu yg terus menerus. 

Disini peran media yg mereka punya dijadikan alat membangun kebohongan yg terencana. Dan akhirnya menjadi kebenaran umum, walau lemah logikanya.

The art of lie, seni kebohongan meluas menjadi budaya. Sebuah kesesatan yg diyakini menjadi kebenaran. Jadilah ia adalah KESESATAN YG MAHA BENAR.

HOAKS, HASUTAN, FITNAH, adalah fenomena fost truth dlm masyarakat hari ini. Walau scr teologis semua kitab suci melarangnya, tapi apa mau dikata barang haram itu terlanjur mengasyikkan dan membuat biji mata membalik ke hitam, hilang putihnya, karena pikirannya tenggelam dlm karma yg dalam.

Sekarang tinggal pilih anda mau masuk kemana, ke POST TRUTH SOCIETY atau kelompok yg harus lebih hati-hati dan mawas diri. Karena covid19 tdk hanya wabah disana sdh bercampur dgn HARAM JADAH DAN MANUSIA RUBAH.

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

Wednesday, April 8, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: