Luar Biasa! Jokowi Bangun Bandara di Pulau Paling Ujung Indonesia, Miangas, Begini Hasilnya

Oleh : Hysebastian 

Pulau Miangas merupakan salah satu pulau yang paling ujung berada di Indonesia. Pulau yang merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Utara, berhadapan langsung dengan negara Filipina. Keindahan pantai dengan pasir putih yang ada di sana membuat pulau tersebut sangat eksotis.

Melihat dari letak geografis, Pulau Miangas memiliki koordinat lokasi: 5°34′2″LU,126°34′54″BT. Miangas adalah pulau terluar Indonesia yang terletak dekat perbatasan antara Indonesia dengan Filipina. Pulau ini termasuk ke dalam desa Miangas, kecamatan Nanusa, Kabupaten Kepulauan Talaud, provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Miangas adalah salah satu pulau yang tergabung dalam gugusan Kepulauan Nanusa yang berbatasan langsung dengan Filipina.

Jika dilihat dari aplikasi google map, pulau ini nyaris tidak terlihat, kecuali dengan perbesaran berkali-kali lipat. Pulau ini adalah pulau yang memiliki penduduk hanya 750 orang per sensus terakhir. Mereka berkumpul di bagian selatan Pulau Miangas.

Pulau ini merupakan salah satu pulau terluar Indonesia sehingga rawan masalah perbatasan, terorisme serta penyelundupan. Pulau ini memiliki luas sekitar 3,15 km². Jarak Pulau Miangas dengan Kecamatan Nanusa adalah sekitar 145 mil, sedangkan jarak ke Filipina hanya 48 mil. Pulau Miangas memiliki jumlah penduduk sebanyak 678 jiwa (2003) dengan mayoritas adalah Suku Talaud.

Perkawinan dengan warga Filipina tidak bisa dihindarkan lagi dikarenakan kedekatan jarak dengan Filipina. Bahkan beberapa laporan mengatakan mata uang yang digunakan di pulau ini adalah peso.

Pada bulan Oktober 2016, Presiden Joko Widodo sempat datang ke pulau tersebut untuk melihat bagaimana keadaan surga dunia yang ada sebuah bandara kecil di Pulau Miangas. Jokowi pun meresmikan banar udara Miangas, Kabupaten Talaud.

Tidak lupa Jokowi ke ujung dan mencuci mukanya di pantai Miangas. Kebiasaan Pak Presiden, janji tidak tinggal janji. Pada hari Rabu 31 Mei 2017, para pejabat sipil dan militer Provinsi Sulawesi Utara pun berhasil mendarat di pulau ini, dengan bandara yang baru diresmikan pada tahun 2016.

Para pejabat yang datang, dipimpin oleh Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey. Di ruang gedung bandara, Pak Gubernur pun menggelar rapat kerja dengan para pejabat pemerintahan untuk membicarakan kemungkinan kedatangan orang-orang ilegal, apalagi teroris dari Filipina.

Dalam rapat, Pangdam XIII Mayjen TNI Ganip juga mengatakan bahwa Pulau Miangas akan dijaga ketat oleh polisi dan militer angkatan darat, laut, dan udara. Tentu daerah perbatasan adalah daerah-daerah yang harus dijaga secara ketat dan tidak boleh dibiarkan ada penyusup.

Penjagaan ketat di setiap daerah perbatasan memang harus dilakukan demi menjamin kedaulatan sebuah negara. Wakapolda Brigjen Pol Refdi Andri pun mengatakan bahwa masyarakat di Miangas tidak boleh memiliki mental minoritas dan terpencil. Para penduduk harus sadar betul bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia yang merupakan negara kesatuan.

Laksamana Pertama TNI Susel pun mengatakan bahwa pihaknya sudah mengerahkan personel prajurit, kapal laut dan kapal selam di perairan sekitar Miangas. Arifaini Nur Dwianto juga tidak ingin kalah di dalam menunjukkan kebolehannya di dalam pengintaian TNI AU dari udara secara akurat.

Setelah rapat selesai, Olly dan para pejabat tinggi sipil militer datang blusukan ke tengah-tengah masyarakat dan menuju pos-pos keamanan dari polisi, TNI AD, AL, dan AU.

Semangat blusukan Jokowi tertular kepada gubernur Sulawesi Utara dan para jajaran. Mereka datang blusukan bukan untuk sesuatu hal yang bersifat “cari muka”, melainkan memang ingin mengenal betul situasi dan kondisi yang ada pada saat itu. Kepada masyarakat Miangas, Olly pun mengatakan bahwa Presiden Jokowi sangat memerhatikan pulau ini.

Tentu 750 masyarakat yang berada di pulau tersebut mendapatkan semangat yang lebih lagi, karena mungkin saja, mereka baru pertama kali diperhatikan oleh presidennya. Apa yang dikatakan oleh Olly kepada masyarakat di sana adalah bahwa mereka harus cerdas dan harus benar-benar merasa bahwa mereka adalah orang Indonesia, bukan orang minoritas.

Dalam sesi tanya jawab, ada seorang yang dituakan oleh masyarakat Miangas menyatakan bahwa para warga berketetapan hati terhadap NKRI dan Pancasila sebagai harga mati. Tentu kita sebagai warga Indonesia yang hidup di kota besar, harus belajar dari orang-orang yang ada di pinggiran Indonesia.

Mereka yang hidup di ujung Indonesia, justru merupakan orang-orang yang paling rentan mendapatkan pengajaran maupun ideologi dari negeri tetangga. Namun ternyata itu adalah hal yang sangat salah.

Justru orang-orang yang tinggal di sisi terujung negara Indonesia, rata-rata memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. NKRI yang adalah harga mati, tentu harus kita aminkan bersama-sama. Masih banyak orang-orang Indonesia yang merasa bahwa ideologi Pancasila merupakan ideologi yang harus diubah.

Mereka yang hidup di ujung Indonesia, benar-benar mengalami bagaimana tekanan dari pihak luar. Baik dari sisi ideologi, identitas, karakter kebangsaan mereka, dan banyak hal, membuat mereka harus memperjuangkan kesatuan dan ideologi Indonesia.

Mereka yang ingin mengganti Pancasila dengan ajaran lain, tentu sekali-sekali harus berlibur. Sering kali kita mengatakan bahwa orang semacam itu kurang piknik. Saya setuju dengan hal tersebut, mereka harus piknik dan belajar bagaimana sikap seorang nasionalis, kepada warga Pulau Miangas.

Terima kasih Pak Jokowi sudah menjadi pemersatu Indonesia, bukan hanya Pulau Jawa, namun seluruh pulau di Indonesia, berhasil dipersatukan oleh Pak Jokowi, melalui kebijakan-kebijakan yang dilakukan. Saya tidak habis pikir, Pak Jokowi sampai rela datang jauh-jauh ke pulau terujung, hanya untuk mempersatukan harga minyak, membangun infrastruktur, dan mendirikan bandara.

Kita tahu bahwa penduduk di pulau-pulau terujung Indonesia, dihuni oleh sedikit orang. Namun Pak Jokowi rela dan memang ingin mempersatukan Indonesia tanpa ada keuntungan politik sama sekali bagi Pak Jokowi. Merdeka! NKRI harga mati!

Betul kan yang saya katakan?

Sumber : Hysebastian

Tuesday, June 6, 2017 - 13:45
Kategori Rubrik: