Lu Bisa Ngomong Inggris Ga Bro?

Oleh : Aldie El Kaezzar

Beberapa waktu lalu saya mengikuti sebuah pelatihan menulis yang pengajarnya merupakan lulusan sastra Inggris dari India. Pemegang gelar PhD bidang studi Budaya ini jg merupakan seorang dekan di sebuah institut seni di Belanda.

Dalam satu sesi, dia meminta kami untuk menulis sebuah cerita, boleh berupa legenda, fabel bahkan mitos dari negara masing2 peserta. Apa saja, bebas. Tapi satu hal yang menarik, dia tidak meminta kami menulis dalam bahasa Inggris. Silahkan tulis dalam bahasa yg kalian inginkan, katanya. Kenapa?

Menurut dia, selain kadangkala ada istilah dalam bahasa lokal yg sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Inggris, bahasa seharusnya tidak menjadi penghalang bagi seseorang untuk berkarya. Apalagi di Asia, banyak negara yg memang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama. Jadi akan sangat disayangkan kalau sebuah karya atau ide jadi "mandek" cuma karena masalah bahasa Inggris.

Dia berharap, suatu hari nanti teknologi kecerdasan buatan akan mampu memecahkan persoalan bahasa di tingkat pergaulan dunia. Jadi tidak perlu lagi orang bergantung pada bahasa Inggris dalam berkomunikasi satu dengan lainnya di era keterbukaan informasi yg semakin tanpa batas ini.

Menariknya, baru2 ini di Indonesia malah ada usulan untuk melakukan debat pilpres dalam bahasa Inggris. Sebuah hal yg "aneh" untuk alat ukur kompetensi jabatan kepala negara karena praktis untuk urusan sehari-hari tidak diperlukan kemampuan ini.

Lancar bicara Inggris tidak ada bedanya dengan mahir berbahasa Indonesia, Melayu, Tagalog, Mandarin, Arab, Hindi, Jawa, Sunda atau bahasa hati (heh?). Ya, sama saja. Menguasai satu bahasa tersebut tidak menjadikan kita lebih pintar dibanding yg tidak menguasai.

Orang Sunda tidak lebih pintar dibanding orang Jawa cuma karena mereka fasih bahasa Sunda kan? Apa iya seorang kandidat doktor di Jepang yg tidak fasih bicara Inggris lebih bodoh dibanding anak kelas 1 SD di London yg bisa cas cis cus bahasa Inggris?

Lancar bicara bahasa asing adalah satu kemampuan, sangat bagus. Tapi itu bukan ukuran kecerdasan.

Anda lulus, belum tentu artinya pintar.
Anda berumur, belum tentu artinya dewasa.
Anda cakep, belum tentu ga jomblo, apalagi ga cakep, sila kerja lebih keras.

Sori, abaikan yg barusan. Intinya, punya kemampuan belum tentu artinya cerdas. Tapi seorang yg cerdas biasanya punya kemampuan.

Jadi, waktu "dunia luar" malah semakin menyadari kalau kemampuan bahasa Inggris bukan hal yg harus dibanggakan berlebihan, akan sangat disayangkan kalau kita di sini justru masih "minder" atau tidak pede cuma karena tidak fasih bicara Inggris.

Tapi kalau debat bahasa Inggris mau dimasukkan ke dalam agenda pilpres, saya sih oke aja. But basically KPU harus nambah satu syarat, which is kandidat presiden literally wajib berasal dari Jakarta Selatan. Even you know, mereka boleh aja tinggal di manapun like Bogor atau Bandung. Honestly, ini worth it banget diperjuangin gitu deh...

TTD,
Anak Jaksel,
Ethan Hunt Widobianto

 

Sumber : facebook Aldie El Kaezzar

Monday, September 17, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: