LTN PBNU Terus Islamkan Suku Asmat

Ilustrasi

Oleh : Agus Setyabudi

Namanya Rafael. Tapi itu dulu. Dulu, sebelum ia tiap hari menyambangi masjid. Dulu, sebelum ia mengerjakan ibadah yang namanya sholat. Dulu, sebelum ia menyatakan diri sebagai seorang muslim dengan mengikrarkan dua kalimat syahadat.

"Ustadz Syafi'i bicara pada saya: kau punya nama sekarang Rifa'i, sudah. Saya Syafi'i, kau Rifa'i," ucapnya pada saya yang disertai senyum-senyum menirukan perkataan ustadz Syafi'i.

Ustadz Syafi'i adalah ustadz yang menuntun Rafael membaca dua kalimat syahadat. Beliau pulalah yang mengganti nama Rafael menjadi Rifa'i. Meskipun hanya sebuah nama, namun hal ini merupakan fase bersejarah yang sangat penting dan paling bermakna bagi Rifa'i. Sebab, sejak dari sinilah fase kehidupannya sebagai seorang muslim baru dimulai.

Tak berselang lama kemudian, pria yang telah membaca syahadat di salah satu masjid di Merauke ini pun melaksanakan khitan. Meski waktu itu usia Rifa'i sudah 20-an tahun, namun ia tak merasa ada beban untuk melaksanakan khitan.

Rifa'i merupakan pria kelahiran distrik Atsi. Dulu, Atsi termasuk dalam Kab. Merauke. Tapi, sejak pemekaran pada tahun 2004, distrik Atsi kini masuk dalam wilayah Kab. Asmat.

Sebagai distrik yang tergolong pedalaman, jarang ada penduduk asli Atsi yang berpendidikan tinggi. Karenanya, banyak tenaga-tenaga pendidik dan kesehatan yang bertugas disana berasal dari luar. Dan Rifa'i mengenal salah satu dari mereka. Yaitu seorang suster dari Jawa.

Dari perkenalan inilah kemudian Rifa'i diajak suster tersebut pergi ke Merauke. Kendati asli orang Jawa, orang tua si suster tersebut juga memiliki rumah dan tinggal di Merauke. Oleh orang tua suster tersebut, akhirnya Rifa'i diangkat menjadi anak. Dan singkat cerita, di Merauke inilah Rifa'i menyatakan diri sebagai muslim.

"Bapak, saya ingin masuk Islam," ucap Rifa'i pada bapak angkatnya waktu itu.

Kendati seorang muslim, bapak angkat Rifa'i tidak lantas meloloskan begitu saja keinginan Rifa'i. Bapak angkatnya bilang bahwa Islam itu bukan agama main-main. Jadi, ia meminta Rifa'i untuk tidak usah pindah ke agama Islam.

Larangan orang tua angkat Rifa'i, ternyata tidak menyurutkan niatnya. Berulang-ulang ia sampaikan pada orang tua angkatnya itu bahwa ia tidak sedang main-main. Ia serius.

Setelah orang tua angkatnya berhasil diyakinkan, akhirnya diajaklah Rifa'i untuk menemui seorang ustadz setempat, yaitu ustadz Syafi'i. Bertempat di salah satu masjid di Merauke, akhirnya berlangsunglah pengikraran dua kalimat syahadat oleh Rifa'i atau Rafael yang dibimbing oleh ustadz Syafi'i.

"Saya sering menangis di dalam Gereja. Di depan (patung) Yesus, saya sering menangis sambil meminta supaya Tuhan memberikan firdaus (surga)," terangnya pada saya ketika saya menanyakan bagaimana hidayah Islam datang padanya.

Kebiasaan Rifa'i menangis di depan patung Yesus di dalam Gereja ini, berlangsung lama. Baik selama ia masih berada di Atsi, maupun ketika ia sudah berada di Merauke. Tidak ada sesuatu atau kejadian khusus lainnya yang menuntun Rifa'i dalam perjalanannya merengkuh hidayah Islam selain hal tersebut.

Memang, jalan menuju hidayah Islam itu macam-macam. Kendati demikian, bila Allah SWT. sudah menghendaki siapa saja untuk memeluk Islam, pasti itu akan terjadi walaupun tanpa ada proses yang berjalan. 
انّ الله يهدى من يشاء

Akhirnya, pria yang kini tinggal di distrik Agats, Asmat, Papua itu, kini juga aktif mensyiarkan Islam di beberapa daerah di tanah Papua bersama Jama'ah Tablighnya.

#CatatanDiAsmat #SantriGoesToPapua #ppmAswaja #LTNpbnu#MuslimPapua #AktivisMudaNU

Sumber : Status Facebook Agus Setyabudi

Sunday, March 11, 2018 - 16:15
Kategori Rubrik: