Lord Didi dan Sobat Ambyar

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Beberapa bulan terakhir, mungkin sekitar 2 bulanan, nama Didi Kempot berkibar lagi. Di berbagai kota Indonesia. Dalam bulan ini, Didi Kempot hampir full di Yogya. Bahkan di Boshe, diskotik anak muda, dia nyanyi disitu dengan tiket 100K. 

Didi Kempot tak bisa dikata bintang lawas. Baru 20 tahun silam setelah debut ‘Setasiun Balapan’ (1999). Waktu itu, XMal Sindikasi membuat program televisi ‘Es Campur Es’ (Show Campursari) di TV7 milik Kompas, sebelum menjadi Trans7. Program komedi musikal dengan materi lagu Didi Kempot. Sebagai penulis script dan sutradara musik, saya harus ndengerin lagu-lagunya, yang memang soal jatuh cinta dan patah hati mulu, dengan berbagai variannya. 

 

Ketika menemui beberapa produser rekaman campursari Didi Kempot (kebanyakan di Semarang), mereka menyodorkan puluhan kaset rekaman Kempot. Jumlah lagunya lebih dari 400-an! Jika setiap episode memainkan 4-5 lagu, bisa jalan seratusan episode lebih. Dan acara itu, bertahan tiga tahun (2000 – 2003).

Konsep Es Campur Es sebagaimana spirit campursari Didi Kempot. Mix media, bersyair bahasa Jawa tapi dengan idiom-idiom modern. Campuraduk. Dalam setiap episode, kami mengundang penyanyi pop seperti Titiek Puspa, Hetty Koes Endang, Katon Bagaskara, bahkan pernah grup musik Konser Rakyat Leo Kristi. Senyampang itu, kami undang juga seniman lokal atau tradisi; Nining Maida, Cak Kartolo, Bolot, Bodong, Sudjud Kendang. Didi Kempot sebagai jembatan dua kutub itu. 

Syuting tahun pertama di Gedung Pewayangan TMII, terasa lebih impresif. Berikutnya di Pantai Festival, Ancol, Jakarta, konsep berubah. Lebih dominan dangdhut koplo dibanding campursari mellow khas Kempot. Penonton selalu membludag, dan goyang. Di situ muncul istilah Kempoters untuk penggemarnya.

Selalu ada kenangan lucu setiap event. Dalam duet ke-3 kalinya, turun dari panggung Pantai Festival, Katon Bagaskara berbisik pada saya, “Nah, salah lagi kan dia, nada dasarnya!” Kempot memang penyanyi otodidak. Nggak ngerti not, tapi suaranya keren. Beberapa penyanyi yang saya duetkan Didi Kempot, selalu slip. Leo Kristi menolak mentah-mentah. Dengan grup utuh, dia menyanyikan Bra-bra Desember.

Di pantai Festival, karena live, tingkat pressure lebih kuat. Menjelang pertunjukan, saya dan Didi Kempot selalu punya ritual di belakang panggung. Dengan segelas bir di tangannya, kalau dia PD akan duluan meminumnya separoh. Sisanya disorongkan ke saya. Tapi kalau tingkat stressnya tinggi, nggak PD, saya disuruh terlebih dulu minum. Sisanya dia akan habiskan sekali tenggak. Tapi saya punya kenangan manis, ehm, dapat hadiah cipokan Hetty Koes Endang, karena saya ngajari penyanyi macan festival itu nyanyi ‘Sewu Kutha’.

Ah, masa lalu. Kini, 20 tahun kemudian, senang mendengar ia meledak lagi. Reborn bersama sad boys dan sad girls. Para sobat ambyar yang menahbiskan Lord Didi sebagai The Godfather of Broken Heart. Dalam dunia pop hiburan di Indonesia, konsistensi Didi Kempot hal yang patut dihargai. 

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Sunday, October 20, 2019 - 22:45
Kategori Rubrik: