Lopa dan Kalla

Oleh: Muhammad Ilham Fadli

 

Beberapa hari belakangan ini, baik di kedai maupun di TV, pada ribut masalah KPK. Ribut dengan figur-figur terpilih. 

Entah mengapa, saya hanya ingat dengan Baharuddin Lopa. Jaksa Agung RI. pada masa pemerintahan Gus Dur.

Banyak orang-orang besar pada masa dulu, berkesempatan untuk bergelimang harta, memiliki kewenangan besar, dan dengan kewenangan itu, mereka bisa untuk hidup mewah. Tapi tak mereka lakukan. Banyak contoh. Katakanlah hal ini bisa kita menoleh pandangan pada Hatta, Natsir, Agus Salim dan pada pendiri bangsa Indonesia lainnya. Tapi mungkin mereka telah "berjarak" waktu. Ada di generasi silam. Maka, pada Baharudin Lopa (almarhum) yang "pernah" hidup pada generasi kini, cerita hidupnya nan inspiratif, kita bisa bercermin, bagaimana seharusnya yang dilakukan seseorang itu ketika ia memilki jabatan dan kewenangan yang besar. .

 

Lopa dikenal amat bersahaja. Selain dari gaji, penghasilannya diperoleh dengan membuka warung telekomunikasi dengan lima bilik telepon dan penyewaan PlayStation di samping rumahnya di Pondok Bambu, Jakarta. Ia juga rajin menulis kolom di berbagai majalah dan harian. Terang-terangan diakui, itu caranya menambah penghasilan dari keringat sendiri. Honor ratusan ribu rupiah dari menulis kolom inilah yang sering diandalkannya untuk memperbaiki ini dan itu di rumahnya. Kisah pengusaha Jusuf Kalla, yang kini menjadi wakil presiden, menunjukkan kejujuran Lopa. Suatu hari, Kalla sebagai pengusaha pemegang agen tunggal Toyota di kawasan timur Indonesia ditelepon Lopa yang mau membeli mobil. Di benak Jusuf, sebagai Direktur Jenderal Lembaga Pemasyarakatan, Lopa pasti mau sedan kelas satu. Toyota Crown ia tawarkan. Tapi Lopa menyatakan tak sanggup membeli sedan seharga Rp 100 juta itu. Cressida seharga Rp 60 juta pun masih dianggap mahal.

Akhirnya, Jusuf menyodorkan Corona senilai Rp 30 juta. Harganya tak ia sebutkan karena ia berniat memberikannya untuk Lopa. Lopa kontan menolak. Yang lucu, malah Kalla si penjual yang sampai menawar harga. Begini saja. Saya kan pemilik mobil, jadi terserah saya mau jual berapa. Saya mau jual mobil itu Rp 5 juta saja. Lopa masih menolak. Jangan begitu. Kau harus jual dengan harga sama seperti ke orang lain. Tapi kasih diskon, nanti saya cicil. Tapi jangan kau tagih. Akhirnya, Lopa akan membelinya seharga Rp 25 juta. Uang muka sebesar Rp 5 juta langsung dibayar dan diantar Lopa dalam bungkusan koran bekas. Selebihnya betul-betul dicicil sampai lunas selama tiga tahun empat bulan. Kadang-kadang dibayar Rp 500 ribu, kadang-kadang sejuta, tutur Jusuf Kalla.

Adakah yang diributkan itu, figur seperti LOPA ? 
________________
Sebagian kisah, dikutip langsung dari (c) Ibnu Muslim/kompasiana.

 

(Sumber: Facebook Muhammad Ilham Fadli)

Monday, September 16, 2019 - 19:45
Kategori Rubrik: