Lompatan China

Ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Ada yang.mengatakan...: hidup tidak ramah...., berat..., manusia berpacu dengan waktu.

Semua itu adalah benar...; tidak ada orang yang bisa melawan waktu.

Tidak ada orang yang bisa menghentikan detak jarum jam..., atau memundurkan jarum jam...; tidak ada.

Manusia bukan hanya berpacu dengan waktu..., tetapi juga berpacu dengan perubahan yang diakibatkan oleh waktu.

Kita dulu boleh merasa bangga saat usia muda...., boleh bangga dengan titel hebat..., boleh bangga dengan keturunan orang kaya.

Tetapi yang jelas..., kita akan menua.

Kalau masa muda santai..., maka masa tua akan sengsara..., karena faktor persaingan tidak bisa dihindari.

Jika.kita diam..., orang lain yang bergerak dengan kerja keras menghadang resiko.

Makanya yang berhak hidup dalam peradaban modern..., hanyalah orang yang waras secara intelektual.

Contohlah China...: dengan komunitas di atas 1 miliar orang..., dengan sumber daya alam yang terbatas..., cuaca yang ekstrim..., hancur dihantam revolusi kebudayaan...; tetapi tetap percaya diri untuk bangkit dari luka masa lalu.

Revolusi Deng tidak dengan retorika lompatan China jauh ke depan ala Mao...; tetapi berakit rakit ke hulu berenang-renang ke tepian..., bersakit sakit dahulu..., bersenang-senang kemudian.

Tidak ada lagi jaminan sosial ala komunis..., semua harus bayar...; dan semua barang harus sesuai harga pasar.

Subsidi..., yang menjadikan negara diperas oleh rakyat yang malas harus dihapus.

Selanjutnya..., China harus tampil menjadi komunitas baru..., komunitas yang ulet untuk menjadi pemenang dalam berproduksi dengan cara modern..., dan unggul dalam perdagangan International.

Ketika negara lain sibuk berkonsumsi..., China sibuk berproduksi...; walau harus menjual dengan laba rendah.

Ketika negara lain..., elite politiknya sibuk berebut kekuasaan..., sibuk bersaing dalam pemilu demokratis..., parlemen sibuk merubah struktur UU...; bangsa China lebih memfocuskan diri melakukan transformasi dari masyarakat yang lemah..., menjadi masyarakat yang kuat lewat kerja keras dan kebersamaan.

Akhirnya China mampu berdaulat secara ekonomi..., karena kemakmuran tidak berasal dari hutang..., tapi dari kemandirian.

Kebanyakan dari kita..., merasa selalu di atas angin dengan potensi yang ada.

Karena memiliki gelar kesarjanaan..., merasa berhak menjadi middle class.

Karena Sumber Daya Alam (SDA) kita melimpah..., merasa berhak minta subsidi.

Karena banyak doa dan zikir..., merasa berhak mendapatkan kesuksesan dengan mudah dari Allah.

Tetapi apa hasilnya....?

Para sarjana bukannya menjadi asset bangsa..., tetapi malah menjadi beban negara...; karena menambah daftar angkatan kerja yang harus negara sediakan.

SDA tidak menghasilkan kemakmuran..., tetapi penjajahan gaya baru.

Agama tidak melahirkan spiritual sosial.

Berkeluh kesah menyalahkan orang lain..., dan menghujat pemerintah.

Semua itu adalah bentuk kemiskinan akal dan spiritual..., mengapa....?

Karena..., apa yang terjadi pada diri kita adalah manifestasi dari sikap mental kita sendiri.

Sudah saatnya kita..., dan generasi sesudah kita berubah.

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Friday, January 17, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: