Logika Tidak Logis

ilustrasi

Oleh . Ahmad Sarwat, Lc.MA

Pernah bikin kue tapi salah bikin dan gosong?

Ya, begitulah kalau tangan tidak profesional alias tangan amatiran.

Sebagai pemula, coba-coba bikin kue sih boleh-boleh saja. Kalau salah bikin dan gosong, resiko tanggung sendiri. Asal jangan maksa semua orang kudu makan kue salah bikin.

Tahu diri lah, serahkan saja urusan bikin kue kepada chef ahlinya. Setidaknya kalau mau coba belajar, belajar lah di bawah bimbingan ahlinya.

Urusan kue salah bikin itu biasa. Tapi bagaimana kalau di dunia dakwah dan kaderisasi umat terjadi salah asuhan dan salah kader?

Emang ada, ya?

Ada, banyak pula. Ini contohnya :

Kalah debat dengan ulama, akhirnya si kader militan tapi jahil itu malah memaki-maki sang ulama.

Dituduhnya lah ulama itu bayaran, budak penguasa, ilmunya tidak berkah, sinting dan beragam sumpah serapah lainnya.

Entah hasil didikan siapa kok bisa seperti itu akhlaqnya. Muridnya siapa ini kok kayak gini? Hayo ngaku . . .

Konyolnya lagi yang diperdebatkan justru tafsir Al-Quran. Menurut si kader jahil, ayat itu harus dipaksakan maknanya sesuai dengan selera dan kepetingan dirinya sendiri. Setidaknya ayat itu mengendors jalan pemikiran dia dan kelompoknya.

Kebetulan Sang ulama ditanya orang lain, apa benar kayak gitu tafsiran ayat itu. Maka dibukalah sekian banyak kitab tafsir, baik yang klasik atau pun yang modern. Satu persatu dibacakan dengan detail. Dicek, recek dan crosscek.

Ternyata tak satu pun kitab tafsir yang mendukung pendapat dan maunya di kader jahil itu.

Eh, bukannya terima kasih sudah dikasih tahu, malah marah-marah dan mulai mencaci-maki, keluar kata kotor yang tidak layak dari mulutnya, tangannya berkecak pinggang bak jagoan, dari mulutnya penuh sumpah serapah tidak terbendung lagi.

Habis lah si ulama itu jadi bulan-bulanan misuh-misuhnya. Puas rasanya bisa melampiaskan kekesalan kepada tokoh ulama yang juga tidak terlalu dikenalnya itu. Rasanya sudah jadi pahlawan.

Rupanya dia selama ini terlanjur ikut pemahaman yang tidak jelas rujukannya. Belajar agama bukan dari ahlinya, tapi dari kalangan yang serba punya banyak kepentingan. Si kader ini memang cuma korban, tapi dia tidak sadar karena memang sudah matang hasil pengkaderannya.

Di dadanya selama ini telah terlanjur ditanamkan indoktrinasi gaya militer, yang mana dia siap menghajar siapa pun yang dianggapnya bertentangan dengan apa yang didoktrinkan, bahkan meskipun datangnya dari kalangan ulama yang spesialis di bidang tersebut.

Jadi kita sekarang ini malah direpotkan dengan kader-kader militan salah asuhan model ini. Entah siapa yang telah mengkadernya selama ini, yang jelas hasil didikan model begini error dan nambah-nambahin kerjaan saja.

Ibarat kue salah bikin, sudah bantet tidak bisa mengebmbang, gosong pulak. Sejak dari adonan sudah salah bikin, prosesnya pun keliru sejak awal.

Kalau sudah salah bikin kayak gitu, terus mau diapain lagi?

Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat Lc MA

Sunday, August 9, 2020 - 17:15
Kategori Rubrik: