Logika Para Pendukung RUU KUHP dan RUU PKS

ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Bagaimana seseorang bisa menentang RUU KUHP sekaligus menolak RUU PKS?

RUU KUHP berisi aturan yang mengendalikan tindakan individu di dalam kamar tidur. RUU PKS berisi aturan yang menentang pemaksaan seksual terhadap salah satu pihak.

Sekian bunyi RUU KUHP bermaksud mengatur syahwat Anda untuk hanya boleh diumbar kepada pasangan sah. Lalu di dalamnya, menurut RUU PKS, Anda tidak boleh memaksakan kehendak.

Menentang keduanya berarti Anda boleh berhubungan seks dengan orang yang Anda suka, dan boleh berbuat sesuka hati juga sesuka nafsu tanpa menimbang keberterimaan pasangan Anda.

Di satu sisi Anda memuliakan kemerdekaan, di sisi lain Anda memuja perbudakan. Anda binatang atau pemulia waham kebesaran?

Saya juga tak paham kalau Anda mendukung RUU KUHP sekaligus menerima RUU PKS. Anda setuju bahwa kemerdekaan seksual Anda dibatasi sambil tak berkeberatan tindakan seksual Anda ditentukan oleh keberterimaan pasangan Anda. Di satu sisi Anda memuja legalitas, di sisi lain Anda mempersetankan 'hak' Anda yang dijamin secarik kertas.

Jadi apa sebetulnya yang diteriakkan aneka demo tolol sejak kemarin? Suara apa yang dikumandangkannya? Saya mulai melihat keseenak-enakan-ngomong-di-medsos menjelma ke dalam kesembronoan kerumunan.

Terlalu sering kita lihat kerumunan tak lebih dari sekumpulan orang tolol. Yang terbaik yang dihasilkan Reformasi 98 adalah Habibie. Padahal Habibie bukan tujuan mahasiswa. Tapi justru Habibie yang mewujudkan damba Indonesia modern, bukan mahasiswa. Kerumunan orang pada masa itu cuma bermaksud menurunkan Soeharto. Untuk tujuan sederhana seperti itu kerumunan sebanyak-banyaknya adalah, memang, kekuatan pamungkas.

Untuk mengusung/menentang sekian RUU+Papua+Asap, kerumunan adalah ketololan. RUU dibahas di ruang terhormat, di ruang cendekiawan, bukan di jalanan. Jelas terlihat bahwa tujuan utama adalah menurunkan Jokowi. Kerumunan cuma cocok digunakan untuk tujuan sederhana dan single issue.

Percayalah, aneka RUU+Papua+Asap cuma gincu. Dan karena kebanyakan, wajah para mahasiswa terlihat coreng-moreng. Untuk bersaing dengan pegincu Taman Lawang pun mereka tak padan.

Kita cemas melhat akal sehat publik Indonesia. Sialnya, itu diketahui persis oleh mereka yang menata isyu di belakang pendukung gerakan khilafah. Mereka ngarti bahwa khilafah bukan solusi bagi kebakaran hutan. Tapi mereka bentangkan itu karena yakin kita akan mencemoohi sambil ikut'menyebarkan'nya.

Gratis, pesan kuat khilafah bertebaran ke para pendukung mau pun penentang. Pengerasan berselenggara. Mereka lalu menghitung waktu: kapan pengerasan mencapai puncak dan lalu meledak. Sadarkah Anda?

Seruan "khilafah adalah solusi" bukan lagi mengumandang sebagai pilihan, sebagai alterna, tapi konspirasi jahat. Dulu lelaki berambut cepak muncul di depan kerumunan 98 sebagai pandu. Kerumunan lompat ke dalam api meluluhlantakkan semuanya.

Kelak, para lelaki bersorban putih dan hitam mencelat ke hadapan puluhan ribu mahasiswa, memekik seruan entah apa untuk membangkit ketidakmautahuan. Maka ketololan bersimaharaja, menenggelamkan gerak maju sebuah negeri yang mendamba kemuliaannya.

Aparatus keamanan perlu membarui pemahaman mereka. Ada kejahatan mengalir lancar di balik kemerdekaan bersuara. Kalau Anda sekadar menghitungnya sebagai kekenesan, yang dijamin undang-undang, kita sedang meluncur ke sumur.

Kita perlu menimbang, apakah paradigma lama tetap kita gunakan untuk membincang, menanggapi, kompleksitas sociophysics? Di balik seruan tolol para khilafah bersemayam kompleksitas strateji, kelak mengubah secara ekstrim negeri ini dalam belasan bulan.

Menurunkan Jokowi adalah titik pertama, sekaligus titik bersama yang diminati para garong.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, September 24, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: