Logika Hadist tentang 72 Bidadari

Oleh: Denny Siregar
 

"Kalau agama bukan dogma, lalu kenapa muslim percaya ada pesta seks dengan 72 bidadari di surga ?"

Seseorang bertanya ketika saya menulis tentang "Untuk apa agama ?"

Ini pertanyaan yang sering datang dan ada lagi pertanyaan dari kaum perempuan, "Kalau lelaki dapat bidadari trus kenapa yang wanita gak dapat bidadara ?"

Sebelum menjawab, saya harus menjelaskan dulu bahwa di Islam ada yang namanya Firman Tuhan yang tertera dalam kitab suci bernama Al-quran. Ini mutlak adanya..

 

 

Selain itu ada petunjuk lainnya bernama hadis, atau rekaman perkataan dan perbuatan Nabi Muhammad Saw yang diceritakan kembali dan diceritakan kembali terus oleh beberapa rentetan pencerita. Karena ini berupa cerita dari cerita maka dalam hadis ada derajatnya, ada yang shohih ( diakui kebenarannya ) dan ada yang dhaif ( atau diragukan ).

Masalah tafsir Alquran dan derajat serta tafsir hadis inilah yang sering menjadi perdebatan diantara para ulama terdahulu..

Oke, anggap saja kita sepakat bahwa hadis 72 bidadari itu shohih. Lalu dimana logikanya ada pesta seks di surga ?

Untuk memahami itu kita harus kembali di zaman dimana perkataan itu diucapkan, yaitu masa di mana Nabi Muhammad Saw masih hidup. Kita namakan zaman itu sebagai zaman jahiliyah..

Kebayang dong, Nabi harus membuat mengerti orang arab yang jahil, bodoh dan barbar yang hidup tanpa aturan waktu itu ? Susah setengah mati. Seperti menjelaskan rumus pithagoras ke anak PAUD...

Nah, Nabi pun membuat bahasa-bahasa "pendekatan" supaya mereka mengerti. Bahasa yang disesuaikan dengan tingkat pengetahuan mereka pada waktu itu.

Itulah kenapa surga selalu digambarkan dengan bahasa "sungai", "emas" dan "wanita" sebagai trophy jika mereka berbuat baik dan mengikuti aturan.

Kebayang kan manusia - pada waktu itu - tanpa ada rangsangan mau berbuat seperti yang di harapkan supaya dunia itu teratur ?

"Kalau begitu Nabi bohong dong, bahwa surga itu tidak seperti itu ?"

Tidak. Surga itu ada dan itu adalah janji Tuhan. Yang dipakai hanya bahasa pendekatan saja supaya mereka mengerti.

Surga itu kenikmatan langit bukan kenikmatan dunia dan kenikmatan langit jauh lebih nikmat dari semua kenikmatan dunia. Tetapi tidak mungkin menjelaskan kenikmatan langit dengan bahasa langit, harus dengan bahasa dunia supaya manusia - pada zaman barbar itu - mengerti.

Kenikmatan buat mereka waktu itu ya salah satunya wanita, maklum dulu itu banyak kaum ngacengan..

Dari sini kita bisa melogikakan, bahwa bahasa "bidadari" sebagai bahasa pendekatan kepada manusia untuk menggambarkan kenikmatan dalam bentuk yang lebih rendah.

Kita sendiri tidak akan paham bagaimana bentuk bidadari itu, bagaimana bentuk malaikat itu yang sebenarnya karena kita hanya bisa mengetahuinya dalam bahasa pendekatan. Kita hanya mampu mengira2 sesuai akal kita yang rendah..

Jadi untuk mengartikan teks pada masa sekarang, kita harus juga melihat konteks atau pada masa apa ayat itu dikeluarkan..

Kalau kita memahami ini, kita juga akan paham bahwa akal dan logika berperan penting dalam menafsirkan suatu pesan supaya tidak salah kaprah. Sebagai manusia zaman sekarang, sudah tidak layak lagi kita menggambarkan "wanita-wanita yang bisa dientup seenaknya" di surga nanti, toh itu bahasa untuk kaum masa jahiliyah.

Kecuali anda termasuk otak jadoel dan tidak berkembang..

Itu baru satu tafsir dengan menggunakan logika. Ada lagi tafsir dalam mengartikan bahasa sastra di kitab suci yang harus dipahami seluruh pesannya, bukan mengartikan kata per kata..

Slavoz Zizek, seorang filsuf budaya kontemporer asal Slovenia sering membuat sindiran kepada kaum tekstual yang selalu salah mengartikan terjemahan dan tafsir.

Diambil dari tulisan SZ yang dikumpulkan oleh seorang psikiater bernama Mortensen dalam menjelaskan hadis 72 bidadari dari terjemahannya..

"Seseorang berkata “Gerbang surga telah dibuka untukmu. Ada perawan bidadari anggun bermata lentik menunggumu.” Beberapa sesaat setelah memasuki gerbang surga, lanjut Zizek, “Betapa terkejutnya para fundamentalis-jihadis yang hanya menemukan panganan lezat, bukan bidadari yang diharapkannya.”

Hal ini karena menurut Zizek "al-hur" bermakna panggangan lezat, bukan bidadari.

Menarik kan ?

Ilmu pengetahuan selalu berkembang begitu juga cara memaknai apa yang tertulis dalam kitab atau hadis.

Di sunni dan syiah sendiri ada sedikit perbedaan dalam mengartikan hadis. Kalau sunni selalu melihat sanadnya - atau jalur periwayatnya - lebih dulu, sedangkan syiah selalu melihat matan - atau isi hadis tersebut - dulu.

Meskipun begitu, kedua mazhab besar dalam Islam ini tidak sembarangan dalam menafsirkan tentu harus ada ahlinya..

Baik sekian dulu ya, para nastar dan kastenjel yang tercinta.. Jangan lupa kopi sebagai teman setia..

Seruput...

(www.dennysiregar.com)

Thursday, June 29, 2017 - 16:15
Kategori Rubrik: