Logika Bengkok Prabowo

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto menilai Indonesia negara yang masih lemah. Hal itu diungkapkan Prabowo saat menutup Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2017 di Jakarta. Prabowo mengatakan, mengundangnya adalah resiko karena ia akan bicara apa adanya.

"Menurut saya keadaan kondisi negara kita lemah. Harus kita akui kelemahan kita." Prabowo menilai, lemahnya negara Indonesia bisa diukur sejumlah indikator. Dia menyebutkan, dari segi pendidikan, berdasarkan hasil studi internasional, Indonesia berada pada peringkat ke 65 dari 72 negara. Lalu dari bidang olimpiade matematika, Indonesia peringkat 36 dari 49 negara. "Kita kalah dari Bahrain, Taiwan, bahkan Korea Selatan," kata Prabowo tanpa menyebut secara rinci sumber studi internasional yang dimaksudkannya.

 

 

Contoh lainnya, kata Prabowo, terkait kondisi anak-anak di Indonesia yang masih banyak kekurangan gizi. Di Ibukota DKI Jakarta saja, sepertiga dari jumlah anak-anak masih mengalami kurang gizi. Angka yang lebih menyedihkan ditemukan di Nusa Tenggara Timur (NTT), di mana dua per tiga anak-anak di sana kekurangan gizi. "Pantas sepakbola kita kalah terus dari negara manapun. Jadi kuli saja akan kalah. Enggak usah jadi insinyur, jadi kuli saja kalah," tegas Prabowo.

Demikian dari berita Kompas.Com (22/10/2017). Kritiknya tidak istimewa. Banyak yang berpendapat demikian, apalagi tanpa menunjukkan bukti. Tentang negara lemah, saya kira bukan hanya Prabowo yang mengatakan. Jokowi juga mengatakan hal yang sama. Bedanya, Jokowi mempunyai sumber data yang lebih jelas dan bisa dipercaya. Sementara dalam forum internasional, Prabowo tak menunjuk sumber data apapun.

Tapi, kenapa bangsa dan negara ini lemah, justeru ketika kita merdeka 72 tahun? Kenapa bisa kalah bersaing dengan negara Asia, bahkan Asia Tenggara dan Afrika, yang dulu mereka belajar dari Indonesia? Karena apa semuanya ini? Karena kesalahan Jokowi?

Kita tahu, sehari setelah pelantikan Anies Baswedan, Hasjim Djojohadikusumo, mengajak gubernur DKI itu, menemui beberapa dubes negara asing. Adik Prabowo itu (dalam kapasitas apa coba?), dengan terbuka dan suka rela mengatakan “pemerintahan Gerindra” (memang disebut demikian) mengundang negara AS untuk menjadi bagian penting ekonomi Indonesia. Padahal Prabowo selalu gembar-gembor anti asing, seolah paling nasionalis.

Sikap seperti Hasjim Djojohadikusumo, saya kira, salah satu indikator kelemahan bangsa yang tidak disebut Prabowo. Untuk Hasjim, mungkin logika Prabowo memang sengaja dibengkokkan. Betul Indonesia lemah, tapi karena apa? Karena Jokowi, Soeharto, atau Hasjim Djojohadikusumo cum suis? Dan yang paling penting sebenarnya, apa konsep Prabowo untuk mengatasinya? Tanpa itu, sama saja bokisnya, kecuali dagangan sentimen agama, dan isu pribumi yang bakal digorengnya lewat Anies.

Politik kekuasaan, sering membuat orang bodoh menjadi jauh lebih bodoh lagi. Di jaman now, gagah saja tidak cukup, apalagi ternyata memang tidak gagah!

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Sunday, October 22, 2017 - 21:15
Kategori Rubrik: