Logika Ala Medsos

Ilustrasi

Oleh : Hilman Fajrian

Pada suatu waktu bangsa Yunani percaya bahwa petir itu adalah tombak Zeus dan gelombang besar di laut adalah kemarahan Poseidon. Bagi mereka, itulah yang paling bisa diterima logika. Karena mereka tak punya referensi dan alat untuk memahami fenomena itu lebih baik. Namun, penting bagi mereka untuk mendefinisikan sebab petir dan gelombang. Karena itu akan mengubah mereka dari Tidak Tahu menjadi Tahu. Menjadi Tahu itu sangat penting bagi manusia. Karena Ketidaktahuan itu menakutkan. Ketidaktahuan menyebabkan manusia merasa kehilangan kontrol. Dan kehilangan kontrol itu mengerikan. Dengan menyatakan petir sebagai tombak Zeus, maka orang Yunani "mengontrol" Zeus dengan cara memuja atau menyembahnya. Itu dianggap jauh lebih baik ketimbang tak bisa menjelaskan apa dan bagaimana soal petir.

Ada paradoks pada diri manusia: kebutuhan untuk tahu dan efisiensi otak.

Manusia punya kebutuhan untuk Tahu, karena Tahu akan membuat kita tentram dan merasa memiliki kontrol. Manusia merasa harus menjawab sesuatu dengan segera agar dapat melakukan upaya untuk mengontrol sebuah peristiwa atau fenomena. Kalau tengah malam jendela rumah anda pecah, anda akan langsung mencari tahu. Membiarkannya begitu saja akan membuat tidur tidak nyenyak.

Sebenarnya apa yang kita sebut dengan 'Percaya', 'Yakin', 'Logika', bermuara pada 1 hal yang sama: penerimaan. Agar sampai pada penerimaan itu kita berangkat dan melalui berbagai referensi yang berbeda. Kalau ada mesin waktu dan anda kembali ke Yunani Kuno dan menjelaskan soal tabrakan elektron, anda akan dianggap gila atau dituduh tukang sihir. Begitu pula dengan bumi bulat dan datar. Karena referensinya tidak sama sehingga menerima hal yang berbeda.

Kebutuhan untuk tahu sebagai sifat alami manusia ini berbenturan dengan sifat alami manusia lainnya: simplifikasi (menggampangkan). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa otak manusia cenderung bekerja mencari jalan pintas (shortcut). Kecenderungan ini terjadi karena manusia selalu dihadapkan pada terbatasnya sumberdaya dan tantangan lingkungan. Artinya, efisiensi menjadi kebutuhan dasar manusia sejak dulu. Termasuk efisiensi dalam berpikir atau menggunakan otak. Dengan begitu, berpikir keras sebenarnya bukan kemampuan bawaan.

Jadi, dalam memenuhi kebutuhan untuk tahu (lalu bisa menerima) manusia bergantung pada 2 hal yang kritikal: referensi dan efisiensi otak. Keduanya bukan sesuatu yang konstan sehingga wajar ditemukan perbedaan pendapat.

Referensi sangat tergantung dari waktu, lingkungan, pengalaman, pengetahuan, asal-usul, keyakinan, situasi, kebutuhan, dan kebijaksanaan. Tak mungkin sama pada tiap orang. Begitu juga dalam memperlakukan efisiensi otak.

Namun kembali lagi pada kebutuhan manusia untuk mengontrol. Sehingga manusia merasa perlu dibentuknya Keyakinan dan Logika umum yang berujung pada penerimaan massal. Pembentukannya dilakukan melalui kesepakatan bersama atau kekuasaan, sehingga menciptakaan kesamaan penerimaan (keyakinan dan logika). Dari kesamaan itulah akhirnya melahirkan tatanan sosial dan kontrol.

Oksimoron referensi dan efisiensi otak makin menjadi-jadi di zaman medsos. Referensi bertebaran dimana-mana secepat kilat. Kita banyak tahu sekaligus mendapatkannya dengan cara sangat mudah. Kerja otak kita menjadi makin efisien dalam menjawab apa yang kita rasa perlu ketahui. Karena berpikir keras bukan kemampuan bawaan, maka kita cenderung menggunakan referensi yang mengkonfirmasi referensi yang sudah kita punya sebelumnya. Banjir referensi yang serupa dari medsos akan membuatnya cepat mengeras, dan penerimaan jadi makin solid.

Orang di medsos sering bilang: "Logika aja...". Hal ini menunjukkan sikap menggampangkan (oversimplified) seolah-olah tiap orang menerima hal yang sama. Bila merujuk hal-hal di atas, logika (yang sebenarnya adalah penerimaan) tiap orang berbeda karena referensinya tidak sama. Logika saya dan Stephen Hawking dalam astrofisika pasti tidak sama. Logika siswa SMA pasti tidak sama dengan logika hakim MK.

Penerimaan yang solid akibat banjir referensi, efisiensi berpikir, dan kemudahan interaksi akhirnya membuat kita jadi lekas marah dan kecewa ketika menemui perbedaan. Karena kita melihat perbedaan sebagai sesuatu yang menggugat apa yang kita terima. Dan itu membuat kita merasa rentan. Sementara kita makin tidak terlatih dalam mencerna dan berpikir keras ketika dihadapkan pada referensi-referensi baru yang berbeda dengan apa yang sudah kita terima (keyakinan dan logika). Jalan paling singkatnya adalah kita segera menyimpulkan yang berbeda itu sebagai lawan atau musuh. Kesegeraan dalam menyimpulkan itu penting untuk menciptakan ketentraman pada diri sendiri. Karena, bila kita mengolah referensi yang bertentangan dengan apa yang sudah kita terima, hal itu menyebabkan banyak ketidaknyamanan dan perlu upaya keras.

Banjir referensi di medsos adalah faktor eksternal yang tak bisa kita kontrol. Kita juga tidak perlu orang yang pendapat dan penerimaannya sama dengan kita. Tapi kita punya satu hal yang mampu kita kontrol dan upayakan: melawan sifat alamiah kita dalam efisiensi berpikir.

Sampai hari ini, berpikir belum menjadi hal yang gampang.

Sumber : Status facebook Hilman Fajrian

Saturday, December 16, 2017 - 20:45
Kategori Rubrik: