Lockdown Atau Lojon?

Oleh: Haryoko Wirjo Soetomo

 

Pernahkan Indonesia mengalami Lockdown? Beberapa kota pernah, tahun 1998. Waktu itu saya tinggal di Solo, kota yang hancur dalam sekejap akibat kerusuhan pasca terbunuhnya beberapa mahasiswa Trisakti. Tiga hari setelah kerusuhan pecah, kota Solo ditutup total. Pasukan panser dikirim dari Yogya dan Ambarawa untuk menutup akses utama keluar-masuk kota dan blok-blok bisnis utama. Regu-regu tentara bersenjata dengan senapan teracung ke atas, tidak lagi disandangkan di bahu, berjaga di setiap perempatan jalan. Patroli-patroli militer bersenjata - baik menggunakan kendaraan tempur taktis ataupun berjalan kaki - secara rutin mengelilingi kota. Jam malam diterapkan, pelanggar akan ditembak di tempat.

Itulah Lockdown, yang hanya bisa dilakukan di Indonesia dengan kekuatan bersenjata. Efektif? tentu efektif. Orang tak berani macam-macam, perusuh dari luar kota tak berani masuk ke Solo. Perusuh dari Solo tak berani meluaskan kegaduhan ke kota lain. Berapa lama Solo mengalami lockdown? Lima hari, dengan tiga hari jaringan listrik diputus total. Kota gelap gulita di malam hari. Hanya lima hari, namun sebagian besar warga kota sudah megap2 karenanya.

 

Kini sejalan dengan masuknya Covid 19 ke Indonesia dan tatkala hari demi hari angka penderita merangkak naik, ada orang yang mulai teriak-teriak lockdown. Hei Parto Ekrak, saya kasih tahu ya, Indonesia tidak mengenal istilah Lockdown. Dalam UU No 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan, yang kita kenal adalah Karantina Wilayah.

Dulu pada periode tahun 2008 - 2010 saya dan rekan2 pernah membantu Pemerintah sebagai fasilitator Tabletop Exercise di 15 kota di Indonesia. Kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya membangun Kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemi H5N1. Bidang yang saya ampu adalah Keamanan Nasional; dimana TNI, Polri, SAR Nasional, BNPB, Linmas dan unit2 lain bergabung di dalamnya.

Di 15 kota tersebut kami beri simulasi, ditemukan kasus index di satu tempat dan team ditugaskan melakukan karantina wilayah. Ternyata hasilnya hampir sama antara satu kota dengan kota lain. Untuk mengisolasi satu kawasan yang terdiri dari empat RT, dibutuhkan 300 orang personil militer dan polisi, lengkap dengan peralatan dan logistik untuk waktu dua kali masa inkubasi, yakni 14 hari. Itupun personil yang bertugas harus diberi profilaksis, yakni tablet Oseltamivir untuk mencegah diri mereka tertular.

Itu empat Er Te, Parto Ekrak. Lha sampeyan mau lockdown satu kota? Mau pakai kekuatan apa? Laskar? Mikirrrr Krak Krak, jangan cuma lokdan lokdon dan ujung2nya cuma lojon, masturbasi psikis dengan bengok2 kemana-mana yang bikin orang ramai tambah panik saja.

Nyebahi!!!

Cinere, 16 Maret 2020

 

(Sumber: Faceboom Haryoko Wirjo Soetomo)

Monday, March 16, 2020 - 22:00
Kategori Rubrik: