Lock Down Indonesia Tak Semudah Di Luar Negeri

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Ibu dokter yang viral ini punya ilmunya. Ya iyalah, dipanggil menjadi narasumber di tv bukan sembarang orang bisa, ya kan?

Saya mengambil waktu membaca-baca tulisan beliau sejak viral kemarin. Saya susuri satu-persatu. Kekuatiran beliau masuk akal. Penjelasan beliau berbasis data. Ybs menguasai ilmu kedokteran, shahih! Ilmu selain itu, saya ragu.

Sebagian besar tulisan ibu dokter sulit dicerna dengan lapang, bukan karena saya memiliki pendapat yang berbeda tapi beban emosi yang berat terpancar dari argumen-argumen pribadinya. Prasangka-prasangka cemen pun menurut saya ditulis secara sembrono seakan merusak kewibawaan tulisan, pun siapa penulis. Padahal, pasti salah satu niat beliau menulis adalah edukasi, berbagi informasi yang orang awam tidak ketahui. Bukan lagi karena pengin pansos atau viral di usia beliau yang sekarang, begitu beliau tulis.

Tidak semua orang yang tidak sepakat soal lockdown itu takut lapar, Bu. Orang-orang yang ibu sebut malah sebagian besar sudah selesai dengan dirinya sendiri. Bisa mengorganisir kehidupan keluarganya dengan baik, makan cukup, rehat kerja sejenak pun tabungan tetap bisa menyokong.

Tidak semua mereka yang mengkritisi lockdown adalah buzzer pemerintah. Saya contohnya, sampai detik ini belum pernah ditawari dan pun kalau nanti ditawari, insya Allah tidak berminat. Mana ada juga tim politik bagian dari pemerintah yang mau mempercayakan tugas buzzer ke tukang kue. Mereka tahu konsekuensi loyang panas dan oven yang nyala 12 jam sehari. Mereka pun lebih kuatir saya pansos supaya sultana melenggang bebas masuk ke istana.

Saya dan teman-teman penggiat literasi wanna be ini alhamdulillah masih berakal sehat. Buktinya saya eh kami masih bisa pergi bekerja, menghasilkan uang halal, mengurus dapur berikut tidak menelantarkan keluarga, masih drakoran dan rebahan, pun kalau punya rejeki lebih nggak lupa ikut serta sedikit-sedikit bersama mereka yang suka berbagi. Orang-orang yang coba kami bantu, insya Allah dibantu dari duit halal, bukan dari menjilat pemerintah dan setuju saja apa akrobat politik mereka.

Mengapa tidak sepakat lockdown? Karena pertimbangan-pertimbangan yang luas, sama seperti ibu yang mengaku orang baik yang coba dibunuh karakternya, cuma kebetulan saja kita sedang berdiri dan melihat masalah ini dari sudut pandang yang berbeda. Kalau pemerintah atau negara dengan yakin mau menjamin dan bertanggung jawab kecukupan pangan, kesejahteraan, fasilitas kesehatan dan jaminan mereka tidak di-phk dan penghasilan mereka para kuli harian minimal dicarikan solusinya, mereka yang ibu sebut sebagai kaum takut lapar, sampai urusan epidemik ini benar kelar, saya akan berdiri di barisan depan sebagai relawan. Yang penting jangan menambah kesedihan rakyat kecil yang tabungan tak punya, harta mereka yang paling berharga cuma nyawa keluarga mereka. Mereka bukan takut lapar, Bu... sudah terlalu terbiasa malah. Mereka hanya kuatir melihat anak istri mereka menderita. Melihat penderitaan darah daging kita sendiri itu rasanya benar menyakitkan, Bu.

Dan tolong jangan menyempitkan hati mereka yang miskin, Bu. Tidak semua dari mereka tidak punya harga diri. Kemampuan mereka terbatas, mereka ndak kaya karena malas? Ada, tapi tidak semua. Tidak semua dari mereka suka disuapi dan dikasihani. Malah saya mengenal orang-orang yang sangat mapan dan punya kemampuan lebih untuk berbagi kepada mereka di lapisan masyarakat kelas bawah, tapi mereka yang paling nyaring minta gratis ongkir, diskon harga dan bonus produk. Saya jika bertemu mereka dengan kemampuan terbatas, saya malah berusaha mencoba menghibur dengan kalimat; "Biasa saja. Kita ini cuma lagi beda nasib. Bisa jadi nanti kalian yang kaya raya dan ganti saya yang kalian tolong..."

Ibu pernahkah berada di tempat mereka? Tidak punya apa-apa, dihina pula? Sakitnya itu bisa bermutasi menjadi dendam. Syukur-syukur kalau dendam yang baik. Kalau tidak, itulah kelak yang berpotensi menjadi bibit-bibit ketimpangan sosial dan kekacauan dalam masyarakat.

Begitu, Bu. Semoga paham, ya? Memang mudah memaki orang lapar dan miskin, manakala kita tidak pernah benar-benar 'dipaksa' untuk menjalani kehidupan yang sulit. Tidak karena kita nyaman berada di atas, kita lantas boleh bicara seenaknya. Harta, jabatan, ilmu, itu juga sebenarnya ujian. Ujian untuk tidak menjadi sombong dan bersikap bangsad kepada manusia lain.

Selebihnya, ya saya mencapture tulisan yang perlu-perlu saja. Bahan belajar untuk teman-teman yang sedang giat-giatnya belajar menulis. Tak usah jauh-jauh memimpikan menjadi infuencer di media sosial, pesan kalian bisa sederhana dan sampai dengan baik, itu sudah prestasi. Kalian bisa menulis pengalaman, berbagi ilmu, tanpa merisak orang lain, apalagi menghina, itu sudah diganjar satu kebaikan.

Dan ini pesan kesekian kalinya kepada kalian yang emosinya turah-turah dan suka tenggelam dalam euforia media sosial. Perhatikan ini. Kalau ketika menulis, kecepatan jari kalian berlomba dengan denyut jantung dan tekanan darah naik pesat, coba tulis dulu di folder note atau aplikasi catatan. Setelah itu kalian bisa membacanya ulang, mengedit kalimat-kalimat yang sontoloyo, membuang kata-kata yang kurang berkenan, merapikan setiap paragrafnya. Sebab ukuran keberhasilan sebuah tulisan itu bukan melulu kepada jumlah likes, share dan viralnya. Tapi bagaimana pesan kalian sampai dengan baik dan hati orang-orang yang membacanya tersentuh.

Adab dulu baru ilmu. Kalau bisa sejalan dan seimbang, itu lebih baik. Bukan pedal gas yang menyelamatkanmu. Tapi tahu saatnya kapan harus menginjak rem.

Seperti saya kutip salinan salah satu tulisan ibu dokter berikut;

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10219482126796455&id=1612051100

Melalui riwayat pengeditan 15 kali. Dan di tulisan awal tertulis doa bagi orang yang ngeyel soal lockdown.

"Kalau masih protes dan belum jelas, saya doakan kena corona saja biar jelas by experience."

Kalimat itu sudah diedit dan hilang di tulisan paling akhir. Tapi begitulah, riwayat tetap jadi riwayat. Saya tidak tahu kalau doa sudah terkirim apakah masih boleh diedit. Awalnya saya pikir, jahat betul mulut ibu dokter ini. Katanya beliau sedang memperjuangkan kebaikan kita semua. Lalu saya ingat, entah siapa yang pernah berpesan; Doa itu akan memantul kepada pemiliknya.

Jaga diri baik-baik, Bu. Semoga sehat selalu. Ibu, saya, kita rakyat Indonesia mau kaya maupun miskin

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Tuesday, March 17, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: