Livi Zheng, Sang Polemik

ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Livi Zheng perempuan muda yang entah benar bernyali, entah memiliki kelainan kejiwaan. Belakangan ini khalayak ramai mempertanyakan kredibilitasnya sebagai sutradara film yang konon telah berhasil menembus Hollywood dan filmnya berjudul Brush With Danger berhasil masuk nominasi Oscar untuk kategori Best Picture.

Media Tirto telah membahas secara gamblang siapa sebenarnya perempuan yang tidak familiar namanya ini tapi sudah malang melintang mendapatkan endorse dari pejabat tinggi negara seperti JK, Luhut Binsar Pandjaitan, Bambang Soesatyo dan Tito Karnavian. Informasi mengenai Livi Zheng bisa dibaca di tautan berikut:

https://tirto.id/sisi-gelap-surga-livi-zheng-koneksi-bisnis…

Yang menarik adalah ketika Metro TV menghadirkan Livi di acara Q&A bertajuk "Belaga Hollywood", Livi tampil menghadapi para begawan film seperti Joko Anwar (sutradara), John de Rantau (sutradara/penulis skenario), Andi Bachtiar Yusuf (sutradara/penulis), Adrian Jonathan Pasaribu (kritikus film) beserta aktris Nadine Alexandra dan Kang Maman Suherman (penulis/jurnalis).

Tak ada kecanggungan sedikitpun yang terlihat pada mimik, gerak tubuh maupun celoteh Livi Zheng. Harus diakui bahwa ia perempuan muda yang sangat-sangat percaya diri menjelaskan prestasi-prestasinya sesuai persepsinya, bahkan terkesan sangat menikmati kepopulerannya entahkah itu dalam makna positif maupun negatif. Ia yang konon telah bekerja untuk Walt Disney sebagai konsultan di Asia Tenggara.

Livi bahkan tidak canggung dan berkeringat menghadapi pertanyaan dari lima orang lelaki cerdas yang terlihat kurang sabar menghadapi 'bacotnya' (mengutip istilah yang dilontarkan John de Rantau). Ia tetap pada keyakinan bahwa film yang dibuatnya adalah benar berada di jajaran film-film yang dinominasikan di perhelatan bergengsi Oscar, bukan masuk di daftar lolos seleksi administrasi.

Joko Anwar kemudian juga mempertanyakan kredibilitas dari pernyataan press release Livi Zheng bahwa filmnya yang lain yang berjudul Bali: Beats of Paradise mampu bersaing dengan film Avengers: Infinity War. Film dokumenter yang mendapatkan review buruk dan tidak sepenuhnya berbicara tentang gamelan sebagai alat musik warisan nenek moyang Indonesia saja melainkan separuh filmnya justru mengekspos cerita tentang Livi Zheng sendiri.

Joko Anwar yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa kelemahan bangsa ini yang selalu masih sangat butuh pengakuan dunia, alih-alih mengutamakan besar karya daripada imej personal. Pun ia menegaskan bagaimana ia cenderung lebih mementingkan berkarya sebaik-baiknya dan menjaga kepercayaan publik.

Maman Suherman pun menutup acara dengan beberapa pesan penting dan bermakna dalam. Bahwa semestinya para jurnalis harus bisa membedakan 'katanya' dan 'nyatanya', menjalankan verifikasi untuk setiap informasi yang diperoleh dan tetap bersikap skeptis terhadap segala data dari narasumber.

Orang-orang seperti Livi Zheng akan selalu ada, tapi pertanyaan besarnya adalah bagaimana bisa jurnalis, media bahkan pejabat negara kemudian bisa tergiring dalam ilusi keberhasilan yang diciptakannya?

Ada banyak Livi Zheng-Livi Zheng lainnya dalam wujud yang lebih sederhana di sekitar kita. Mereka yang lebih besar bacot dan imej-nya ketimbang karyanya. Mereka yang besar karena sorotan media atau banyaknya penggembira (follower). Di era di mana sepertinya suara yang riuh itu lebih terdengar benar daripada kebenaran itu sendiri.

Dan kita para netizen doyan sambat dan huru hara, semoga tak lelah untuk selalu waspada dan aktif melakukan pembuktian-pembuktian meski itu sama dengan menghabiskan banyak kuota demi tercapainya penyelidikan yang maksimal dan skrinsyut sana skrinsyut sini hingga membuat penyimpanan memori hape sesak. Supaya kita pun walau tak jadi siapa-siapa, bisa tetap menyandang predikat netizen cerdas yang tak serta-merta ikut terjebak dalam ilusi-ilusi kebahagiaan dan kecemerlangan yang ditiupkan oleh orang-orang seperti Livi Zheng.

Atau, bisa jadi kita telah mengidolakan orang-orang yang ternyata memiliki banyak wajah, pun terjatuh memercayai mereka dan siap membela mereka mati-matian. Lalu kita kecewa. Ingin ngamukan, malu. Nggak ngamuk kok ya bangsat sekali rasanya.

Seperti siapa contohnya? Kalian pasti punya nama-namanya.

https://m.youtube.com/watch?v=aciA__WAPOk&feature=share

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Wednesday, September 4, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: