Linus Law

ilustrasi

Oleh : Wikan Danar Sunindyo

Hukum Linus atau Linus's law, adalah "hukum" yang dicetuskan oleh Eric S. Raymond, seorang software developer, dalam buku dan esainya yang berjudul "The Cathedral and the Bazaar" sebagai penghormatan terhadap Linus Trovalds, pembuat sistem operasi Linux. Isi dari hukum Linus adalah "jika terdapat cukup banyak bola mata yang melihat, maka bug akan kelihatan", atau "jika terdapat cukup banyak beta-tester dan co-developer, maka hampir semua masalah akan dapat dikarakterisasi dan perbaikannya akan terlihat dengan mudah oleh seseorang".

Hukum ini cukup terkenal di kalangan software developer, terutama pada penggiat gerakan open source software, di mana software atau perangkat lunak, dikembangkan secara bersama-sama, dengan kode yang terbuka dan transparan, sehingga memungkinkan orang lain untuk memeriksa dan menginspeksi kode yang dibuat seseorang, memungkinkan kode dan software yang dihasilkan akan lebih bersih dari bugs dan kualitasnya akan lebih bagus.

Hal ini mungkin didasarkan atas nature manusia yang sering kali alpa terhadap kesalahan sendiri, tetapi sangat "kepo" terhadap kesalahan yang dibuat oleh orang lain. Sampai ada pepatah, kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak tampak.

Namun, alih-alih memandang hal ini sebagai suatu kelemahan, malah bisa jadi kekuatan untuk saling mengoreksi dan memperbaiki, bukan saling menjatuhkan, tapi malah bisa bikin kualitas pekerjaan menjadi terjaga, mencegah kesalahan ataupun kecurangan yang timbul, karena setiap kesalahan akan bisa dilihat secara transparan oleh orang lain untuk kemudian diperbaiki. Tidak ada ruang untuk sembunyi-sembunyi ataupun mengakali hasil, karena semua mata bisa melihat dengan jelas tanpa bisa ditutup-tutupi.

Hal inilah yang boleh jadi menjadi semangat dari KPU, kawalpemilu, dan gerakan sejenisnya untuk membukan formulir C1 dari seluruh TPS yang tersebar di seluruh Indonesia. Orang bisa dengan mudah melihat dan mencocokkan antara formulir yang diunggah dengan data yang ia dapat di lapangan.

Lho, bagaimana jika ada kesalahan atau ketidaksesuaian antara angka yang tertera dengan kenyataannya? Justru di situlah letak kelebihan pendekatan ini, karena setiap orang bisa mengecek dan melaporkan. Kalaupun ada kesalahan atau ada siapapun yang berusaha untuk membuat pemalsuan atau bertindak curang, pasti akan ketahuan.

Akan beda halnya kalau hasil dan caranya ditutup-tutupi, tahu-tahu cuman dapat hasil akhirnya. Setiap hasil akhir, harus bisa dilacak balik kembali sampai ke masing-masing TPS asal, tidak datang begitu saja dari langit. Dengan demikian akan terjamin kepercayaan dan keyakinan masyarakat akan hasil pemilu yang bersih dari kecurangan dan ketidakjujuran.

Soal kesalahan, bukan lagi menjadi bahan untuk mencurigai adanya kecurangan. Karena salah itu manusiawi, justru dengan platform ini mampu meredusir kesalahan baik yang tidak disengaja maupun disengaja. Bersama-sama membentuk masyarakat yang lebih baik lagi, saling menghargai dan menghormati perbedaan pendapat, dengan cara yang ilmiah dan masuk akal, objektif serta rasional.

#inspirasiharian

Sumber : Status Facebook Wikan Danar Sunindyo

Tuesday, April 23, 2019 - 14:45
Kategori Rubrik: