Link And Match

ilustrasi

Oleh : Kokok Herdhianto Dirgantoro

25 tahun lalu saya mendengar kalimat ini. Sekolah harus link and match dgn dunia usaha. Dan saya sangat percaya hal ini di masa lalu. Sekolah membuka gerbang masa depan yang lebih gemilang.

Saya lahir dan tinggal di Surabaya dari kecil sampai lulus SMA. Tempat tinggal saya banyak pekerja pabrik. Kuliah di Malang dan sebulan sekali pulang ke Surabaya. Karena banyak pekerja pabrik, saya cukup sering interaksi dgn mereka. Rata2 lulusan SMA. Pinter goblok, rajin atau biasa saja, gajinya sama.

Balik ke kampus, konsep link and match ini membahana. Jurusan2 yg ramai dicari pekerja membludak peminatnya. Apa sebab? Semua ingin cepat kerja. Bukan mengembangkan pemikiran, passion, keilmuan. Ilmu2 hulu spt filsafat, sejarah, politik, bahasa, dll cenderung dihindari. Apa alasannya? Tidak diminiati dunia usaha.

Beginilah jika pendidikan diatur secarik kertas bernama ijazah. Bukan standar kompetensi yg diasah sejak dini. Bukan skill bertahan hidup, attitude, dan passion. Namun menjejali semua anak dgn segudang informasi yg mereka harus hapal suka maupun tidak. Anak2 dididik moral, anti korupsi, dll sementara dalam kenyataan orang2 tua ditangkap karena korupsi spt tak ada habisnya. Siapa yg lebih butuh sekolah moral, anti korupsi, dll itu? Anak2?

Link and match harus dikaji benar-benar. Sistem pendidikan harus dirombak total. Bagaimana anak usia SD-SMP yang mahir memanjat dan memilih kelapa di Kab Tangerang bagian utara, sebagian Lampung dan pedesaan di Jawa harus berkompetisi dgn standar yg sama dgn anak2 perkotaan yg akses buku dan jaringan datanya lebih mapan? Bagaimana jika diganti tesnya memanjat dan memilih kelapa? Mana yg cocok utk kelapa muda, mana utk santan, mana utk serundeng.

Sama juga dgn anak2 di NTT, Ambon dan Papua. Mereka sejak kecil jago berenang, bantu jaring ikan di laut, pukul sagu, memanjat utk panen cengkeh. Bagaimana mungkin skill anak2 ini tak dihargai dan dikembangkan bahkan diadu dgn anak2 lain dgn standar yg mereka tak mengerti. Spt menyuruh ikan memanjat pohon dan ketika ikannya kebingungan akan banyak tangan menuding, kamu ikan bodoh, ikan tdk mau belajar, tidak punya kemampuan, dll.

Alhasil mereka tak punya ijazah. Orangtua juga tak mampu membiayai. Kemampuan bertahan hidup mereka akhirnya dihargai murah. Mereka terima disebut bodoh, tidak punya kompetensi krn selembar ijazah.

Makin banyak turun ke dapil terutama di pelosok2 yg susah dijangkau, makin saya yakin anak2 dipinggirkan, susah kerja, dll karena secarik kertas. Yes kita punya BLK, dll. Anak2 disuruh datang utk belajar. Anak-anak disuruh datang!!! Bisakah negara yg datang melayani rakyatnya? Masuk ke pelosok2 yg jalannya buruk, becek, dan susah akses jalan + infrastruktut jaringan data. Lihatlah sumber daya di sana, kembangkan sesuai kompetensi masing2 dan sumber daya yg ada.

Jangan memaksakan generasi masuk dalam daur hidup lahir-sekolah-kerja-kawin-mati. Mereka memiliki makna dan signifikan bagi sekitarnya. Jangan dipinggirkan karena secarik kertas bernama ijazah.

Sumber : Status Facebook Kokok Herdhianto Dirgantoro

Tuesday, March 19, 2019 - 08:00
Kategori Rubrik: