Lima Problem Prabowo

Oleh : Aldi Bhumi

Sekali2 beropini gapapa kan?

Kayaknya kasian jg om Wowo saat ini. Seperti buah Simalakama yg d ambil dari kotak Pandora. Semua serba salah.

#Pertama2, pengumpulan koin peduli om Wowo membuat om Wowo terlihat lain dari image nya selama ini.

Krn, sory2 aja, tapi kalau punya kuda milyaran otomatis aku berasumsi duitnya gak berseri. Kalo d ATM mungkin tabungannya menyebabkan arithmetic overflow krn digitnya kebanyakan. Tapi ternyata asumsiku salah. 2 kali gagal nyapres ternyata berasa juga d dompet yah?

Kalo bukan krn masalah dana, aku rasa gak banyak alesan buat menjauh dari saran PKS, PA 212, dan bibieb.

 

D sinilah letak problem #kedua.

Om Wowo butuh pemain baru, butuh dana segar. Darimana? Sepertinya d sinilah peran pepo. Pepo sendiripun harus memilih. Bergabung dengan om Wowo atau menanggung resiko mas "muda" gak kebagian panggung d 2019.

The answer is obvious bagi pepo. Tapi, bila hrs masuk dan ikut menanggung beban ongkos nyapres, dukungan pepo gabakal gratisan. What's in it for me? Tanya pepo.

Yg harus d pahami, bagi pepo saat ini yg paling penting adalah panggung untuk AHY. Bukan kalah menangnya AHY. Itulah sebabnya nama AHY muncul d bursa om Wowo. Menyalip 9 jagoan PKS yg dari jauh hari koar2 menawarkan diri.

Mengapa harus ambil resiko mengecewakan partai2 pendukung lama, yg udah dari awal seiya sekata, susah senang d tanggung bersama, begitu maju malah memperhitungkan pendatang baru yg kmaren2 menjaga jarak dari om Wowo?

Survei elektabilitas? Bukankah tahun 2016 pilgub DKI udah membuktikan elektabilitas gak ada artinya d banding serangan issue SARA?

Memainkan sentimen religi adalah taktik aduhai yg pas banget untuk sebuah negara dengan salah satu religi memiliki jumlah mayoritas melebihi 1/2 populasi.

Soal tiket? Dengan kursi PAN dan PKS om Wowo udah bisa maju kok. Knapa harus mempertimbangkan AHY yg pendatang baru d banding sahabat lama?

Sedangkan, kemunculan AHY sendiri memberi resiko buat koalisi om Wowo.

Yg menjadi problem #ketiga dalam pengamatanku.

Seperti yg kusampaikan sebelumnya, pepo kemungkinan besar punya pandangan lebih jauh dari sekedar 2019.

Yg penting adalah masyarakat mengingat AHY, bukan AHY menang. Jangan sampai masyarakat lupa ada org yg namanya AHY. Krn panggung sebenarnya bagi yg muda adalah 2024. Moso hrs puas hanya dgn kursi yg kedua?

Jadi, ikut kontestasi pilpres 2019 sebagai batu loncatan, gak mungkin pepo all out sampai tongpes dan gapunya ongkos d 2024. Pasti ada simpenan yg gaboleh d colek.

Sudah selesaikah problem om Wowo? Belum.

Masih ada problem #keempat.

Dengan lebih memilih pepo daripada PKS, maka akan ada unsur kecewa dari akar rumput PKS. Apalagi setelah request PKS d perkuat dengan ijtihad. Udah ultimatum mau abstein lagi.

Mau d kemanakan muka para petinggi dan akar rumput kalau ijtihad dan suara petinggi mereka kalah sama anak bawang?

Walau semesra2nya rekonsiliasi yg mereka lakukan bila mereka legowo AHY maju dan nyalip kader2 mereka, mereka sudah terlanjur kasih ultimatum. Terlanjur d dukung ijtihad. Dan sudah terlanjur menawarkan banyak pilihan dari awal.

Sebanyak2nya parfum dan penghilang bau yg d cemplungkan k kali Sentiong, tdk bisa menghapus kenyataan bahwa persahabatan mereka dgn om Wowo gak ada artinya. Suara ulama yg kmaren ijtihad juga gak ada artinya.

Senunduk2nya para petinggi PKS d bawah telapak kaki AHY, dan senurut2nya grass root mereka terhadap suara pimpinan, gak akan semuanya serta merta ikut berkowtow pada AHY.

Pasti ada satu dua org yg terlanjur sebel.

Cuma itu masalahnya?

Gak juga. Masih ada problem #kelima.

Kalaupun AHY gak jadi maju, tenaga dalam Cikeas pun akan smakin tidak optimal.

AHY d kursi mentri? Boleh kalau cuma sekedar partai hore2. Tapi ini Partai Demokrat loh. Yg suaranya d parlemen gak kecil. Dmana pantat pemimpinnya pernah ngangetin kursi RI1 selama satu dasawarsa.

Lagipula, sekali lagi bagi pepo yg d butuhkan AHY itu bukan kursi mentri. Kursi mentri mah gak perlu AHY, masih ada andalan PD, Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprodjo.

Yg d butuhkan AHY adalah panggung. Spotlight. Dan kontestasi pilpres adalah sarana advertisement terbaik untuk 2024.

Jadi, bila yg naik Salim Segaf, lalu mau d kemanain muka pepo? Mau d kmanain muka PD?

FYI, suara PD d pilkada lalu (2014) secara nasional dapet 10,9%. Kalah kurang dari 1% dengan suara Gerindra. Sedangkan menang lebih dari 4% dengan PKS. Bicara survey pun, dengar2 elektabilitas AHY lebih tokcer dari Salim bukan?

Knapa seorang mantan presiden harus mengalah dengan partai yg secara suara kalah, secara elektabilitas calon pun masih kalah?

Sanggupkah pepo berlutut d hadapan mereka yg dulu pernah bersimpuh d hadapannya?

#Kesimpulan?

Apapun yg d pilih om Wowo, maju kena mundur kena. Apapun pilihannya, pasti salah. K sembilan cawapres dan ijtihad tidak mempermudah langkah om Wowo.

Om Wowo butuh keduanya. Butuh pepo tapi butuh PKS jg untuk punya kesempatan menang. Pihak manapun yg d pilih, ada harga diri,.. umm.. harga partai lebih tepatnya, yg d korbankan.

Mungkin harus ulangi konfigurasi 2014. Om Wowo capres, AHY cawapres, dan Salim Segaf sebagai menteri utama.

#Penutup

"Kok gak ada nama gubernur pribumi?" kata temenku Nadewsab Seina.

Lah? Bro? Dia kalo maju, ketiga pihak nangis. Partai gak punya, duit gak ada, dan d survey pun kalah sama mas muda. Realistik lah.

"Lu tau darimana kwek? Sok tau lu!" kata temenku sekali lagi.

Laaah? Ini info valid bro. Hasil analisa ampas kopi yg tadi pagi nyangkut d bulu idungku....

Faham Sampean?

(kwek)

Sumber : facebook Aldi Bhumi

Tuesday, August 7, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: