Lima Alasan Mengunakan Taxi Resmi Tidak Nyaman

Oleh : Widi Kurniawan

Sopir taksi dan angkutan umum demo? Hmm, sepertinya terdengar familiar bagi saya. Alasannya masuk akal semua, tentang regulasi, tarif dan bla, bla, bla lainnya dengan menunjuk pelaku usaha pemesanan kendaraan angkutan online sebagai biang keladi.

Saya sebagai pengguna angkutan umum, dari mulai ojek, angkot, kereta, taksi, bus, pesawat bahkan kapal kayu, sepertinya merasa perlu mengeluarkan uneg-uneg sehubungan rengekan para sopir taksi yang merasa terampas gara-gara model taksi berbasis online.

Jika kemudian muncul wacana penyetopan angkutan roda empat berbasis online atau pemblokiran aplikasi Uber dan Grab, sepertinya bakal menimbulkan gejolak baru. Saat ini orang seperti saya yang kadung merasakan kenyamanan dengan segala angkutan berbasis online, tentu akan merasa terlempar beberapa tahun ke belakang jika tak ada lagi angkutan online beroperasi. Penuh nelangsa dan kegalauan. Nggak move on banget Sob.

Okelah regulasi harus ditegakkan. Ini negara hukum bukan negara lucu-lucuan. Tapi justru menjadi lucu apabila aturan ditegakkan gara-gara muncul demo dan mogok massal.

Coba tanya penumpang, coba saya ditanya. Apa sih enaknya naik angkutan berbasis online? Oh, banyak sih, meski kadang ada yang kurang mengenakkan tapi secara umum sih lebih menjamin kenyamanan. Intinya sih, masyarakat akan cenderung memilih pelayanan terbaik dan paling nyaman, itu saja. Titik.

Sekarang apa sih alasan saya harus menghindari naik taksi resmi? Oh banyak, mari kita kupas satu per satu.

 1. Tidak praktis Ini alasan utama, bukan masalah harga. Soal harga atau tarif mah di nomor berikutnya. Order taksi by phone sudah sangat sering menyusahkan saya karena taksi tak kunjung datang dan pengemudi tak tahu arah. Pernah saya order dari Cibinong malah yang menghubungi saya taksi dari Kota Bogor. Jauh amat. Padahal di Cibinong banyak taksi santai-santai saja ngetem. Katanya perusahaan taksi sudah pula menyediakan aplikasi. Kenyataannya? Sampai sekarang saya gagal terverifikasi sebagai user meski sudah donlot aplikasi. Dugaan saya. bisa jadi pengembangan aplikasinya hanya setengah hati.

2. Sopir taksi pilih-pilih penumpang Ini selalu bikin saya jengkel setengah mati. Ketika di pinggir jalan taksi kosong sudah berhenti atau memang sedang mangkal, kemudian saya bilang ke sopirnya arah tujuan yang memang tidak terlalu jauh, si sopir kemudian menolak dengan berbagai alasan. “Maaf Pak, saya lagi ke arah pulang”. “Oh, yang lain aja, saya abis makan perutnya lagi enggak enak”. Apabila terlanjur naik pun, mereka biasanya akan pasang tampang masam ketika arah tujuan kira-kira memakan argo tidak sampai 30 ribu rupiah. Dan sebaliknya bakal ramah setengah mati ketika arah tujuan saya adalah ke Bandara yang nun jauh di sana.

3. Harga Nah sekarang bicara soal tarif alias harga. Dibandingkan kendaraan berbasis online memang kalah murah. Dan semakin parah lagi kalau sopir taksi pura-pura nyasar supaya argonya makin tinggi. Atau argonya diakalin jadi ‘argo kuda’, isu ini terus terang bikin saya kerap melotot pada argo dan bikin saya kerap berdebar-debar sambil meramal kira-kira sampai tujuan berapa lembar uang yang harus melayang dari dompet saya. Semakin macet makin mahal pula ongkos taksi. Bandingkan dengan yang berbasis online, ada yang menerapakan sistem tarif mau macet berapa lama pun tarifnya tetap dari awal.

 4. Sering tak tahu arah/bikin macet Tidak tahu arah itu bahaya. Apalagi jika arah kehidupan. Sepertinya para sopir taksi memang harus segera diubah pola pikirnya. Buat apa teknologi GPS jika tidak digunakan? Repot memang mendeteksi sopir yang memang nyasar beneran atau pura-pura nyasar supaya dapat pemasukan lebih banyak. Kalau kelakuan semua sopir taksi begini, ya wajar saja kota seperti Jakarta nggak sembuh-sembuh penyakit macetnya. Lha wong banyak kendaraan seliweran tak tentu arah gitu. Sementara para sopir berbasis aplikasi dari awal sudah tahu arah tujuan karena aplikasinya memang berbasis peta. Kemudian ketika jalan dan dia belum mengenal daerah tujuan, dengan sedikit diskusi dan panduan peta pada GPS semuanya bakal beres. Macet jelas hal yang dihindari oleh mereka.

5. Kendaraan yang tidak nyaman Kendaraan taksi memang rata-rata sedan. Tapi justru jenis sedan ini saya pikir tidak selalu nyaman. Banyak mobil taksi yang kursinya sudah kurang empuk lagi. Belum lagi aroma dalam kendaraan yang bau apek atau asap rokok. Maksimal penumpang pun hanya empat orang. Beda dengan yang pakai aplikasi, rata-rata mobil baru, wangi dan selalu dibersihkan. Bisa muat 5 atau 6 orang penumpang. Dan yang terpenting, pasti tidak ada sopir yang belum mandi dan ngantuk gara-gara begadang semalaman nyari penumpang di pinggir jalan. ---

Nah, sebagai penutup, kepada Bapak Menteri Perhubungan yang saya hormati, mohon segera pikirkan solusi bukan sekedar reaksi berlebihan tanpa memikirkan bagaimana penerima manfaat, yakni masyarakat, bakal dirugikan. Regulasi itu bikinan manusia, bapak-bapak lah yang menggodok aturan. Lha kalau perkembangan teknologi dan jaman serta tuntutan masyarakat lebih cepat dari regulasi, maka tugas bapak-bapak jua lah yang harus menghadirkan regulasi yang bisa mengikuti laju jaman.

Ketika pihak Kemenhub selalu saja melempar pernyataan bahwa transportasi umum harus KIR, pelat kuning dan sejenisnya, kok saya merasa ada satu poin yang ditinggalkan. Poin bernama pelayanan prima bagi konsumen. Ini domain siapa? Kemenhub kah? Ah, masak sih?

Sekarang kalau hampir rata-rata taksi resmi pelayanannya makin hari makin merugikan konsumen, kami harus mengadu ke siapa? Ke bapak mertua si sopir kah? Atau ke istri mereka yang setia menunggu di rumah sementara sang suami kerap tertidur di pinggir jalan di dalam mobil taksinya? Ah, entahlah. Akhir kata, mohon maaf atas tutur kata kurang berkenan pada tulisan ini. Sekian. Terima kasih.**(ak)

Sumber  tulisan:kompasiana.com

Sumber foto:terasimaji.blogspot.com

Wednesday, March 16, 2016 - 09:00
Kategori Rubrik: