Liburan dan Cluster Covid

ilustrasi

Oleh : Yamin El Rust

Jadi begini ceritanya.

Sebelumnya jutaan orang (katanya angka mark up dari sebelah sana) berunjuk rasa di jalan dalam rentang waktu panjang di banyak tempat tanpa mematuhi protokol kesehatan pandemi covid-19.

Sekarang puluhan ribu orang (angka ekspektasi dari sebelahnya lagi) berlibur ke obyek wisata dalam waktu singkat dgn — harapan — mematuhi protokol kesehatan pandemi covid-19.

Sebelumnya sudah diketahui ada cluster penyebaran covid-19 baru yg muncul di tengah aksi unjuk rasa. Ada juga kerugian material dan immaterial yg dialami di lokasi unjuk rasa. Meskipun demikian tetap terjadi perputaran uang yg tidak sedikit pada setiap aksi unjuk rasa, misalnya biaya transportasi, konsumsi, koordinasi, atribut dll. Termasuk efek menetes ke pedagang lapis terbawah. Hanya saja terjadi pemusatan perputaran uang pada wilayah perkotaan semata.

Sekarang — harapannya — tidak ada cluster penyebaran covid-19 di tengah kegiatan liburan. Tidak ada juga kerugian material dan immaterial yg terjadi di tengah wajah yg sumringah menikmati liburan. Tentunya ada harapan terjadi perputaran uang yg lumayan besar selama masa liburan, contohnya biaya transportasi, konsumsi, akomodasi, cinderamata dll. Nantinya juga diharapkan perputaran uang menetes di sepanjang perjalanan dan membanjir di lokasi wisata.

Sebelumnya jelas bukan pilhan yg baik. Meskipun untuk tegaknya demokrasi, kadang apapun harus dikorbankan — katanya.

 

Sekarang juga bukan pilihan yg tepat. Wisata hanya satu roda perekonomian yg harus dihidupkan kembali dan tidak ada jaminan kepatuhan terhadap protokol kesehatan pandemi covid-19 ketika liburan dijadikan sarana pelepasan kejenuhan selama ini.

Lantas pilihannya apa? Tidak ada pilihan karena keduanya — sebelumnya dan sekarang — tidak bisa dibandingkan secara langsung. Keduanya sebisa mungkin dihindari dalam kondisi pandemi covid-19. Namun, kalau terpaksa harus membandingkan manfaat dan mudaratnya maka berilah pendapat yg cukup baik untuk keduanya. Pendapat itu mungkin bisa meyakinkan orang lain, juga untuk mengurangi rasa bersalah.

Jelas ya? Sebelumnya dan sekarang, bukan hanya berpendapat sebelumnya kemudian sekarang diam atau sebaliknya. Namun, jangan juga hanya berpendapat sebelumnya dan sekarang, tapi tidak melakukan apapun padahal mampu eh punya kuasa

Udah ah

Sumber : Status Facebook Yamin El Rust

Saturday, October 31, 2020 - 13:45
Kategori Rubrik: