Libido dan Gagal Berkembang Masyarakat Pra-Modernis

Oleh : Muhammad Ruslan

Dunia maya kembali dibuat geger. Salah seorang yang didaku pemuka agama (?) membuat pernyataan yang menggelitik di salah satu chanel TV. Ia menganggap bahwa surga (yang ia bayangkan) adalah tempat orang berpesta seks. “ Inilah yang kita tahan-tahan di dunia, dan kenikmatan besar yang Allah berikan di surga adalah pesta seks,” begitu katanya.

Sontak, saya dan seperti warga jagat maya yang lainnya merasa lucu bercampur miris. Bagaimana mungkin seorang yang didaku pemuka agama (?) bisa memiliki pemikiran seperti ini? Bahkan dalam urusan Tuhan sekali pun, pikiran masih saja belum bisa menjauh dari urusan selangkangan?

Tentu saja bagi kita ini memalukan. Agama untuk kesekian kalinya menjadi bahan tertawaan banyak orang. Sangat-sangat memalukan untuk posisinya sebagai pemuka agama (?) di tengah zaman dimana kecerdasan manusia sudah berkembang pesat saat ini.

Bahkan di zaman jahiliyah pun yang disebut-sebut sebagai zaman kegelapan/keprimitifan, saya tidak pernah menemukan ada pemaparan sevulgar dan sematerialis ini untuk memahamkan orang-orang jahiliyah dulu tentang makna nikmat. Makna kiasan tentang; bidadari, madu, dan susu, sekalipun dalam kitab suci, tidak pernah bahkan sekolot pemaparan tokoh yang menuding surga sebagai tempat berpesta seks ini.

Tapi, saya bertanya-tanya, fenomena “surga sebagai tempat seks”, mungkin saja ini merepresentasikan  cara berpikir sebagian masyarakat kita yang terus mengalami keterbelakangan pikir. Saya bertanya-tanya apakah keterbelakangan kita akibat gagal berkembangnya masyarakat kita sampai hari ini lantaran kita belum pernah benar-benar beranjak dari soal urusan selangkang seperti ini?

Pikiran yang tak lebih lebar dari sekadar urusan selangkangan? Bahkan dalam urusan agama sekalipun. Agama yang seharusnya berperan dalam mengontrol hasrat, justru semakin terlihat mengarah sebagai alat melegitimasi hal-hal demikian.

Ada ketersamaan pola kemiripan antara “surga sebagai tempat seks” dengan fenomena-fenomena lain seperti pro-kontra chat mesum, diskursus memperbanyak istri, pendisiplinan tubuh/pakaian perempuan, yang setidaknya sampai hari ini selalu mengambil tupoksi perdebatan-perdebatan sosial kita.

Suatu perdebatan-perdebatan yang ujung-ujungnya kembali ke akar pola pikir patriarki, yang selalu mengkomodifikasi perempuan sebagai objek. Yang kesemuanya mengarah pada komodifikasi hasrat libido.

Libido, merujuk pada teori psikoanalisis Freudian. Di mata Freud, libido atau nafsu pada dasarnya memiliki kecenderungan destruktif yang menghambat kemajuan suatu masyarakat.

Ia bahkan diasosiasikan sebagai cara hidup masyarakat terbelakang, yang pada hakikatnya berpotensi menghambat kemajuan suatu peradaban ketika keberadaanya menguasai seluruh pikiran masyarakat. Karena itu, menurut Freud, sejarah asal-usul peradaban manusia dimulai dari sejak manusia mengenal “pengekangan nafsu”.

Sederhananya, ketika masyarakat mampu mengekang libido barulah masyarakat tersebut dapat berkembang. Sebaliknya, masyarakat yang belum bisa beranjak dari urusan (pikiran-pikiran) libido dalam arti mengambil tupoksi terbanyak dalam urusan kehidupan, maka masyarakat demikian tidak akan mampu membangun peradabannya.

Karena itu kegagalan masyarakat pra-modernis dulu membangun peradabannya--menggunakan analisa Freudian ini--memahamkan kita bahwa hal ini memiliki keterkaitan dengan kedangkalan pikir yang terbentur sebatas urusan nafsu (libido). Dan hal ini mulai bergeser ketika manusia perlahan-lahan keluar dari sentralisme libido menuju aktualitas potensi kemanusiaan yang lain seperti akal.

Ketika prinsip nafsu itu digantikan dengan prinsip realitas, disitulah manusia memulai peradabannya. Sebab kata Freud, hanya dengan membatasi aktivitas libido ini pada ruang kehidupan yang sempit, manusia akhirnya bisa bekerja dan memikirkan peradaban hidup lingkungan dan masyarakatnya menuju kemajuan.

Artinya apa? Masyarakat yang tidak bisa bergeser dari sentralisasi kuasa libido dalam pikiran di kehidupan ini tidak akan mampu menciptakan peradaban. Sebab libido memiliki sisi inheren dalam menghambat keberpikiran manusia.

Kita bisa melihat betapa destruktifnya ketika libido menguasai akal manusia. Libido bahkan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan kewarasan (keakalan manusia). Fenomena ayah mencabuli anaknya sendiri adalah gambaran paling menjijikkan bagaimana libido itu menghilangkan kewarasan berpikir manusia. Masyarakat yang gagal berpikir inilah tidak akan mampu membangun peradabannya yang berkemajuan.

Itulah sebabnya superego sebagai representasi kontrol sosial menurut Freud sangat penting dalam mengontrol hasrat libido. Saya melihat, agama pada dasarnya memiliki potensi sebagai superego di tingkat kesadaran manusia yang seharusnya berperan bukan hanya sebagai kontrol sosial namun juga pikiran.

Sebab agama dalam konteks ini merupakan seperangkat nilai-nilai luhur yang sangat dekat dengan akal dan nurani ketimbang libido. Karena itu saya terus terheran-heran, ketika pada beberapa kasus seperti pesta seks ini atau diskurusus pelegitimasian memperbanyak istri, agama justru bekerja di ranah sebaiknya. Seolah melegtimasi hasrat yang teraktual hingga yang tertunda?

Agama seharusnya tidak menyembunyikan hasrat namun ia seharusnya mengendalikan. Namun, pada kenyataannya tidak sedikit orang menggunakan agama sekadar untuk menyembunyikan hasrat ini. Dari kasus pedofilia yang melanda pemuka-pemuka agama dunia (dari berbagai agama), hingga persoalan “pesta seks ini”, semuanya terlihat bagaimana agama hanya ditempatkan sebagai jubah untuk menyembunyikan libido bukan mengendalikan.

Menggunakan agama sebagai jubah menyembunyikan hasrat libido, menurut saya tidak jauh beda dengan kasus ketika agama dijadikan sebagai jubah politik untuk menyembunyikan hasrat akan kekuasaan yang pragmatis. Pola ini memiliki kemiripan linear.

Akhirnya, bahwa membangun peradaban manusia memang tidak mudah, sesulit untuk mengendalikan libido. Dan tanpa kendali yang tepat, kita akan terus gagal lepas landas sebagai masyarakat yang berkemajuan secara peradaban. Itulah sebabnya hadist nabi yang berkata, “Kita bergerak dari jihad kecil (perang) menuju jihad besar (melawan diri sendiri—hasrta—libido—pen)” relevan sebagai kritik atas model-model keberagamaan sekarang ini.

Sumber : qureta

Thursday, July 20, 2017 - 09:00
Kategori Rubrik: