Level Kejahatan Siber Indonesia Masih Seputar Hate Speech

ilustrasi

Oleh : Teguh Arifiyadi

Seumur menjadi ASN, baru kali ini mendapat penugasan ke negara lain di bulan Ramadhan. Mengingat kegiatan yang saya ikuti kali ini sangat menarik, dan kota yang dipilih adalah kota favorit saya di Eropa, yaitu Praha, ‘Jogja’nya eropa, tak ragu saya tetap hadir meski konsekuensinya saya harus berpuasa selama 20 jam 6 menit. Imsakiyah di kota ini sekitar jam 1 malam, sementara waktu berbuka puasanya jam 21.05 malam. Beruntung kita yang tinggal di Indonesia. :)
.
Then, apa sih menariknya kegiatan yang saya ikuti?
Kegiatan ini termasuk kegiatan rutin tahunan, berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain, bergantian antar benua. Format acaranya berisi pelatihan khusus bagi penegak hukum dan agen inteligen dari puluhan negara di dunia guna membahas isu-isu keamaman dan intelijen siber terkini, baik dari sisi tantangan, modus, teknik investigasi, dan yang pasti demonstrasi temuan-temuan peralatan dan teknologi keamanan siber terkini. Disini, berkumpul para penyidik dan agen intelligen lebih dari 80 negara yang kemudian dipertemukan dengan lebih dari 100-an perusahaan penyedia teknologi keamanan siber. 
.
Paralel di sela training, ada ‘pameran khusus’ yang berisi demo peralatan dan sistem keamanan termutakhir yang bisa digunakan dalam rangka penyidikan siber, pengawasan, bahkan operasi intelijen. Simpelnya ajang ini sebagai ‘pasar setengah terang’ yang mempertemukan penjual (perusahaan) dan pembeli (negara-negara). Jangan tanya soal harga, karena pembelinya atas nama negara yang banyak diantaranya akan melakukan apapun untuk melindungi kemanan warganya, termasuk itu tadi, membeli peralatan super canggih. 
.
Meski bukan pertama kalinya saya ikut kegiatan semacam ini, tapi tiap saya hadir, selalu saja ada teknologi atau penemuan baru yang membuat saya terkesan. Tak jarang saya menyaksikan langsung demo perangkat-perangkat keamanan super canggih yang biasanya hanya bisa saya lihat di film hollywood.
.

Sayangnya sesuai ketentuan, saya tidak boleh mempublikasikan informasi dan foto apapun terkait materi dalam event ini. Saya hanya bisa lampirkan tema-tema apa saja yang dibahas dalam kegiatan ini yang saya ambil dari sumber informasi terbuka. 

Penyidik siber negara lain sibuk memikirkan bagaimana memerangi penjahat di darkweb, melacak jejak pemilik crypto currency, memburu para predator child pornography dan gembong narkoba, mencari solusi intersepsi pada SSL/TLS, membongkar enkripsi messaging, mengembangkan malware untuk tujuan khusus, dll, sementara, penyidik siber di Indonesia, termasuk saya, masih sibuk perang melawan hoaks dan ujaran kebencian. Tak apa, definisi penjahat siber di Indonesia, masih sesimpel itu.
.
Tak lupa, selalu saya ingatkan sedulur semedsos semua bahwa “tidak ada kejahatan (digital) yang tidak meninggalkan jejak!” Selama kita masih terhubung dan menggunakan internet, selama itu pula kita makhluk bumi yang mudah ditemukan sekaligus paling rentan untuk dieksploitasi teknologi.

Sumber : Status Facebook Teguh Arifiyadi

Thursday, May 30, 2019 - 13:15
Kategori Rubrik: