Lepaskan Kami Dari yang Tolol

Oleh : Sahat Siagian

Pencobaan, jika mampu kau atasi, membuatmu tahan uji, menghasilkan ketekunan, dan serenceng kebaikan lain. Jika gagal, kamu mendapat banyak pelajaran untuk lebih kokoh di kali mendatang.

Tidak demikian dengan ketololoan dan orang-orang tolol. Semua itu membuatmu ingin bunuh diri karena frustrasi tak kunjung dipahami. Sekurangnya, kamu kepingin minggat dari belantara kedunguan yang terasa menyesakkan.

Ketololan tampak dan bernyawa dalam pembelaan KPAI beserta antek-anteknya ketika mereka sodor pasal 47 ayat 1-2 dari Peraturan Pemerintah Nomor 102 tahun 2012 sebagai dasar tindakan untuk meminta PB DJARUM berhenti mengeksploitasi anak.

Pelaku yang disebut dalam peraturan tersebut sponsor, para sponsor, yang memromosikan produk tembakau. Mari dengarkan saya para dungu, tolol, pandir, sebelum saya hilang gairah untuk hidup.

PB Djarum, dalam pemantauan bakat tahunan, bukan sponsor, tapi pemilik kegiatan. PB Djarum mengadakan kegiatan tahunan untuk mendapatkan pebakat bulutangkis dan memandunya dalam pembinaan panjang untuk mencapai jenjang juara kelak. Puluhan prestasi sudah jadi bukti. PB Djarum tidak main-main.

PB Djarum merupakan Persatuan Bulutangkis yang dimiliki kelompok usaha Djarum.

Bertujuan komersial? Jelas tidak.

Hasil binaan mereka memoles citra Djarum?
Pasti, kalau berhasil baik.

Citra di hadapan siapa?
Di hadapan perokok.

Citra dari mana? Dari anak-anak binaan?
Bukan. Dari KEBAIKAN MEREKA membina para pebakat.

Siapa yang boleh merokok di negeri ini?
Mereka yang berusia di atas 21 tahun.

Siapa yang menindak mereka kalau merokok di bawah umur?
Pemerintah.

Jelas?

Badan usaha Djarum tidak bermaksud membangun citra mereka di hadapan anak-anak, melainkan di hadapan orang-orang yang berusia di atas 21 tahun.

Dalam latihannya, para anak asuhan mengenakan kaus berlogo Djarum. Logo apakah itu? Logo yang dimiliki PB Djarum.

Tapi logo Djarum berasosiasi dengan rokok Djarum, katamu para tolol.

Kenapa tak sekalian kau kaitkan dengan jarum pentul, jarum suntik, jarum jam, dan lain-lain?

Harusnya badan usaha Djarum menggunakan nama lain bagi Persatuan Bulutangkis yang dibinanya, katamu lagi, kaum dungu.

Itu berarti Djarum di kemudian hari tak boleh masuk ke industri makanan bayi, industri pakaian seragam, industri buku pelajaran, industri pampers, dengan menggunakan logo Djarum?

Bengak!

Yang harusnya kau lakukan, KPAI, adalah mendorong pemerintah melakukan penegakan hukum kepada para perokok berusia di bawah 21 tahun?

Pemerintah berani melakukannya?
Jelas tidak. Mereka kuatir penghasilan pajak melorot jauh.

Juga harus kau semprot anggota masyarakat yang membiarkan orang berusia di bawah 21 tahun merokok. Sekaligus dengan itu, perlu kau balbali dirimu sendiri, yang selama ini tak berbuat sesuatu untuk menghentikan kegiatan merokok bagi orang-orang berusia di bawah 21 tahun.

Gilanya, kalian malah tak tahu malu memamerkan gincu tebal murahan, juga kumis tebal jelek di atas bibirmu, dengan menghentikan kegiatan perusahaan, yang sudah menambang penghasilan dari masyarakat, untuk mengembalikan sebagian dari pendapatannya.

Itu bukan kejahatan. Kalau jahat, kami tahu menghadapi kalian.

Itu ketololan. Dan kami tak berdaya. Mau diapain? Saya semakin mual melihat sekelompok masyarakat berbangga dengan ketololannya setiap hari.

Indonesia mulai tidak menyenangkan. Bukan karena kurs melemah, bukan karena pertumbuhan melambat, tapi karena sebagian rakyatnya begitu madat terhadap ketololan. Ketololan ternyata mengandung zat adiktif. Itu bukan lagi semata urusan Diknas, tapi juga BNN.

Bapa kami yang di surga…., lepaskanlah kami dari yang tolol

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Tuesday, September 10, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: