Lembutnya Tausiah Dari NU dan Muhammadiyah

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Rajafi Sahran

Tenyata yang isi di masjid-masjid membaca khutbah dari Departemen Agama. Ulama NU dan Muhamadiyah bukan dari ormas-ormas radikal. Khutbahnya sejuk dan adem di dengar, tidak ada kalimat dan perkataan atau doa-doa kotor. Khutbah singkat tapi mudah dimengerti dan difahami, hening tidak kedengaran seperti Brizikkkk. Yang teriak-teriak Guoblokkk, Lonte, penggal kepalanya dll. 

Ini saat yang tepat untuk mengembalikan citra islam didalam negeri ini. Sudah capek kita di pertontonkan islam intoleransi membuat kekacauan dalam Republik pada akhir-akhir ini. Sekarang pentolan-pentolan radikalime lagi kocar kacir setelah di uji oleh TNI keberaniannya.

Pada akhirnya mereka menjadi singa ompong. Belum lagi di serang viruscorona rizieq kabur ke bogor, mungkin sudah tidak nyaman di petamburan. Disisi lain Pe'A 212, KAMI, tidak ada lagi menjadi pengurus MUI. Mereka keluar dan di lempar agar tidak ada lagi menyesatkan ummat dan provokator.

Mungkin ini pertanda kaum radikalisme tidak di beri ruang lagi di NKRI dan membiarkan dakwah di masjid-masjid. Sudah seharusnya di tertibkan tidak boleh dibiarkan lagi karena potensi merusak dan memecah belah ummat.

Apakah ini pengaruh upaya pemerintah untuk mendorong sekaligus memberantas kaum intoleransi. Yang dimana dakwah dan ceramah memanipulasi ayat dan mayat serta hadist menafsirkan sesuai selera tanpa di dukung dengan pengetahuan dan ilmu agama yang memadai.

Arogansi dari kelompok inteloransi menjadi bukti rendahnya kesadaran akan toleransi dan perdamaian di Indonesia, dan perilaku ini hingga kini semakin memprihatinkan. Hal ini berpotensi memunculkan spekulasi bahwa kekerasan di Indonesia atas nama agama, sangat sulit untuk dibendung. Tindakan perilaku FPI, HTI, GNFP satu kesatuan dengan ISIS sebagai ormas ilegal sangat mengancam perdamaian setelah 76 tahun kita merdeka.

Perilaku dakwah atau ceramah pentolan FPI: rizieq, Nur sugik, Bahar, tengkuzul, dan kelompoknya tidak sama sekali mencerminkan teladan dakwah Nabi Muhammad saw. Mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan dan pesantren, hanya ketua ormas yang kebetulan memiliki massa di tunggangi politik identitas.

Media lokal maupun internasional tak luput menyorot peristiwa yang kontradiktif ini. Bahkan, media-media internasional tak segan menyebut peristiwa ini, sebagai imbas dari pemahaman Islam yang fundamentalis-konservatif di Indonesia. Oleh segelintir orang dan kelompok ormas radikalisme yang mengaku cucu Nabi tapi kelakuan iblis.

Tak ayal, ada pula yang mencap Islam sebagai agama yang suka dengan aksi kekerasan, intoleran maupun kebencian. Padahal, jikalau kita kaitkan kejadian tersebut dengan sejarah penyebaran dan da’wah Islam, tidak pernah setetes darah pun jatuh dalam kejadian yang disebabkan karena pebedaan agama pada saat Nabi Muhammad saw dalam menyebarkan rahmat Islam di seluruh dunia.

Bahkan telah kita ketahui bersama hubungan Nabi terhadap kaum Yahudi dan Nashrani telah menciptakan ketentraman dan kedamaian dalam membangun hubungan yang harmoni atas sikap lemah lembut Nabi Muhammad saw.

Sikap bersosial yang dilakukan oleh baginda Nabi Muhammad saw berlandaskan pada kalam Allah swt di dalam al-Qur’an surat al-Mumtahanah ayat 8 :

لا يَنْهَاكُمُ اللهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ {الممتحنة : 8}

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [QS. al-Mumtahanah: 8]

Menghadapi perkembangan masyarakat yang terjadi semakin cepat disertai perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih dan bertingkat, maka semakin menambah pula mudahnya kontak yang tidak terbatas antar wilayah di dunia. “Kerukunan Interen umat Beragama, Kerukunan Umat Antar Beragama dan Kerukunan Antar Umat Beragama dengan Pemerintah”. Surat keputusan bersama tersebut merupakan usaha pemerintah dan bangsa Indonesia dalam menciptakan kerukunan demi terwujudnya hubungan harmoni antar agama.

Dalam hal tersebut, Islam menjamin seluruh hak ahli zimah (orang yang mendapatkan perlindungan Islam) yang hidup di wilayah umat Islam termasuk di Indonesia serta menjamin keamanan dan ketentaraman hidup maupun hak-haknya. Sebagaimana Rasulullah saw. menegaskan melalui sabdanya:

مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا أَوِ انْتَقَصَهُ أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ {رواه ابوا داود}

Artinya : “Barangsiapa menzalimi seorang yang berada di bawah tanggungan (perlindungan Pemerintah Islam), atau membebaninya di luar kemampuan, atau mengambil sesuatu tanpa keikhlasan, aku adalah penantangnya di hari Kiamat.” [HR. Abu Daud]

Hak-hak ahli zimah yang paling utama di tengah masyarakat Islam adalah; (1) mendapatkan perlindungan jiwa, (2) mendapatkan perlindungan kehormatan dan harta, serta (3) mendapatkan kebebasan untuk memeluk agama dan melaksanakan segenap urusan-urusan perdata. Lalu bagaimanakah metode Islam membangun perdamaian demi terciptanya hubungan harmoni antara muslim dengan non muslim? Mengenai hal ini, Allah swt telah berfirman di dalam al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 256 :

لاَ إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لاَ انْفِصَامَ لَهَا وَاللهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ {البقرة : 256}

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk agama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [QS. al-Baqarah : 256]

Sebagai bahan renungan, marilah kita simak bersama firman Allah swt yang menjelaskan tentang akhlak Nabi Muhammad saw di muka bumi ini dalam menebar rahmat Allah ta’ala :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ {آل عمران : 159}

Artinya : “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذكْر ِالْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ

Sumber : Status Facebook Ahmad Rajafi Sahran, M.Hi

Sunday, November 29, 2020 - 10:15
Kategori Rubrik: