Lembaga Pendidikan Milik Ormas Tak Peduli Bahasa Daerah?

Oleh: Saefudin Achmad

 

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ratusan bahasa daerah. Masing-masing daerah di berbagai penjuru Indonesia memiliki bahasa yang khas. Bahasa adalah kekayaan yang tidak ternilai harganya. Sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga dan melestarikan bahasa daerah masing-masing, selain tentunya bahasa Indonesia juga.

Sebagai orang Jawa, saya berkewajiban untuk menjaga dan melestarikan bahasa Jawa. Begitupun masyarakat di berbagai daerah. Jangan sampai tuntutan untuk menguasai bahasa asing menjadikan kita lalai dengan bahasa ibu.

 

Selain individu, tanggung jawab melestarikan bahasa daerah ada pada lembaga pendidikan yang ada di daerah tersebut. Biasanya masing-masing lembaga pendidikan terdapat mata pelajaran bahasa daerah. Saya yang orang jawa tengah, sejak SD sampai SMA ada mata pelajaran bahasa Jawa yang harus saya ikuti. Pun demikian saat saya ngaji di pesantren dimana tradisi pembelajaran di kelas masih menggunakan bahasa jawa misalnya ketika memaknai kitab kuning yang menggunakan pegon. Selain itu, ketika sowan ke pesantren juga wajib menggunakan bahasa jawa.

Hanya saja, saya merasa gelisah ketika mendengar lembaga pendidikan Islam milik ormas tertentu yang cenderung tidak peduli dengan bahasa daerah (Jawa). Padahal, sebagai lembaga pendidikan Islam, mereka punga tanggung jawab untuk melestarikan bahasa daerah. Jika lembaga itu berada di Jawa, maka seyogyanya ikut bertanggung jawab melestarikan bahasa Jawa.

Mungkin tidak semua. Namun sepengetahuanku (berdasarkan pengamatan, observasi, dan wawancara), terdapat beberapa pondok modern atau sekolah islam terpadu yang tidak mengajarkan bahasa Jawa. Mata pelajaran yang selalu ditonjolkan dan jadi unggulan adalah bahasa Arab dan Inggris. Bahkan sehari-hari wajib menggunakan kedua bahasa itu.

Menurut salah seorang pengajar di salah satu pondok modern, santri wajib berbahasa Arab dan Inggris. Jika ada santri yang ketahuan menggunakan bahasa Jawa akan dihukum. Mendengar ini saya benar-benar merasa gelisah. Apakah lembaga pendidikan Islam milik ormas tertentu benar-benar tidak peduli dengan bahasa Jawa?

Ironisnya, terkadang mereka justru mentradisikan sebuah tradisi dari negara lain di dalam lembaga pendidikan tersebut. Tidak hanya sekedar bahasa seperti panggilan antum, akhwat, ikhwan, tapi juga tradisi dalam berpakaian dan interaksi sosial. Seolah tradisi negara lain lebih syar'i dibanding tradisi negara sendiri. Mungkin tidak semua lembaga pendidikan milik ormas seperti itu. Namun fenomena itu nyata.

Jika Kemendikbud lalai atau bahkan acuh tak acuh, saya khawatir generasi pemuda Indonesia ke depan lebih fasih berbahasa asing dibanding bahasa daerah, lebih paham tradisi negara lain, dibanding tradisi daerah sendiri. Bukan tak mungkin jika mereka akan membenci tradisi daerah hanya karena dianggap tidak syar'i.

Saya berharap Kemendikbud lebih jeli melihat fenomena seperti ini. Kalau perlu, buat aturan yang mewajibkan setiap lembaga pendidikan untuk mengajarkan mata pelajaran bahasa daerah. Jangan sampai kekayaan tak ternilai seperti bahasa punah karena generasi penerus tak mampu menjaga, imbas dari lembaga pendidikan yang hanya peduli dengan bahasa asing, melupakan bahasa daerah.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Tuesday, May 19, 2020 - 05:00
Kategori Rubrik: