Lelaki Pertamaku

Ilustrasi

Oleh : Mimi Hilzah

Lelaki pertama yang saya kenal adalah Bapak. Tidak begitu tampan, berkulit coklat tetapi begitu mengagumi dengan ayahnya yang Cina totok. Ibunya seorang perempuan pribumi, sehari-hari berkebaya tipis dan mengenakan sarung, rambut dicepol kecil. Saya pikir dulunya, cinta Bapak kepada ayahnya lebih besar daripada kepada ibunya. Sampai suatu hari Nenek meninggal dan Bapak bersikeras menguburkannya tepat di sebelah mendiang ayahnya, di pekuburan Tionghoa. Di atas tanah yang menimbun jasad Nenek, dipasang sebuah nisan bertuliskan nama beliau. LOA. Perempuan asli Enrekang itu mungkin semasa hidupnya tak pernah benar-benar tahu bagaimana anak lelaki satu-satunya ternyata mencintainya dengan dalam dan diam-diam.

Suatu hari Bapak menemukan saya, satu dari bayi kembar yang lahir dari pasangan suami istri yang kehidupan rumah tangganya bak benang kusut. Saya oleh Bapak dibawa pulang saat masih butuh disusui, tentu dengan persetujuan orang tua kandung saya. Bapak membesarkan saya dengan kegembiraan, beliau akhirnya beroleh keturunan. Bermata sipit, berkulit putih, persis seperti ayahnya.

Ada kenangan masa kecil yang tak terlupa oleh saya. Sampai kelas tiga sekolah dasar, Bapak masih membangunkan saya dan memanggul saya di punggungnya dan membawa saya turun dari lantai atas. Bapak membawa saya berjalan kaki ribuan kilo sepanjang yang saya ingat, sembari tangannya memegang erat-erat pergelangan tangan saya. Setiap beliau pulang dari suatu tempat dan membawa sesuatu, nama saya paling pertama disebut. Sejak kecil, saya adalah satu-satunya teman beliau di meja makan. Saya akan menunggu beliau memilihkan bagian-bagian terbaik dari masakan Mamak, menaruhnya di piring saya.

Bapak bersikeras saya menguasai bahasa Mandarin sebab ia sendiri tidak bisa. Setiap sore ia mengantar saya ke tempat les yang jauh letaknya, bertemu laotze dan kemudian pulang dengan kecewa karena saya pun tak bisa-bisa. Laotze tertawa, anakmu tidak bodoh. Ia hanya tak bisa lancar karena kalian di rumah tak ada yang bisa bahasa Mandarin.

Bapak memang membanggakan saya terlalu sering dan terlalu banyak. Kepada tetangga, teman-temannya, bahkan orang yang baru dikenal. Beliau mengekspresikan rasa cintanya secara terang-terangan tapi saya melihatnya sebagai beban yang terlalu berat untuk saya pikul. Saya kadang tergiring harus menang dan paling pintar di kelas, di lain waktu saya merasa putus asa dan kepayahan.

Di usia remaja, saya memulai petualangan sebagai pemberontak. Mulai belajar berbohong, berkelit dan menolak. Yang saya tidak sadari, hal-hal yang saya lakukan diartikan Bapak sebagai ancaman, bahwa putrinya sudah belajar membagi perhatian kepada hal lain dan Bapak kuatir bukan main saya memilih jalan yang keliru. Yang juga belum saya pahami waktu itu, kekuatiran Bapak bukan melulu soal ia hendak membatasi saya, tapi lebih kepada beliau teramat mencintai saya dan takut sesuatu yang buruk menimpa saya dan membuat saya menderita.

Bagi orang tua, melihat anak sendiri sakit, kecewa bahkan menderita adalah penderitaan yang sangat berat. Saya tidak tahu itu.

Lalu saya tiba di suatu masa di mana saya merasa berhak menentukan pilihan-pilihan saya. Bahwa saya tidak pernah minta diadopsi oleh beliau. Bahkan bahwa beliau tidak berhak menaruh impian beliau atas saya. Saya harus hidup persis seperti apa yang saya inginkan.

Dan tiba masanya saya benar-benar memutuskan pergi dari rumah, walau diam-diam saya merasa begitu sakit membayangkan Bapak akan memikirkan dan menguatirkan saya. Bagaimana beliau sudah terbiasa terbangun di pagi hari dan langsung menyebut nama saya. Bagaimana beliau kemudian baru tertidur lelap setelah tahu saya sudah ada di rumah.

Hubungan kami memburuk. Semakin memburuk karena semua pilihan hidup saya tak satupun beliau setujui. Sialnya lagi, saya merasa membuat beliau kalah adalah hal yang hebat. Walaupun saya sebenarnya kepayahan mencari uang sambil tetap kuliah dan merindukan rumah sederhana itu berikut masakan Mamak setiap malam, saya bertahan entah demi membuktikan apa.

Sampai beliau jatuh sakit. Kanker paru-paru stadium 4, oleh dokter yang menangani yang menerima saya siang itu di tempat prakteknya, saya diminta pulang dan melakukan apa saja yang saya bisa untuk membuat beliau senang. Tidak banyak waktu lagi.

Suatu hari sepulang dari rumah sakit, beliau ingin tidur di kamarnya di lantai atas tapi di rumah hanya ada dua perempuan, saya dan Mamak. Mamak membujuk, agar Bapak sabar sampai sepupu saya datang dan kami akan mengangkat beliau ke lantai atas. Wajah Bapak terlihat sedih. Saya lalu berkata, saya bisa menggendong Bapak.

Saya tak tahu bagaimana ceritanya seorang anak perempuan bertubuh kurus bisa mengangkat seorang lelaki dewasa. Saya menggendong beliau sampai ke kamar lalu saya sadari beliau kehilangan bobot begitu banyak. Tinggal sedikit daging yang melekat di tulang dan napas beliau tinggal satu-satu. Seperti ada yang memukul-mukul keras dada saya dari dalam, tapi saya mati-matian tidak ingin menangis di depan beliau. Lelaki keras hati inilah yang dengan tangan dan keringatnya telah membuat saya hidup. Ia biar bagaimana telah memelihara saya dengan sebaik-baiknya ia bisa, sekuat-kuatnya.

Saya lalu mulai sering pulang waktu itu, apalagi seringnya beliau tidak mau disuapi obat terkecuali oleh saya. Suatu hari seusai idul fitri, saya pulang mencari beliau. Saya mengambil tangan beliau dan menciumnya lalu berturut-turut kedua pipinya yang kurus. Maafkan saya ya, Pak? kata saya. Saat itu juga air matanya jatuh. Tak ada kata-kata. Saya menyesali diri, seandainya saya bisa menjadi anak yang lebih baik.

Setelahnya Bapak kehilangan kemampuan bicara. Saya ingat di suatu sore yang temaram di kamarnya, sedikit cahaya matahari hendak tenggelam menyusup di celah tirai jendela. Saya duduk dalam diam, ia pun berbaring dengan mata terbuka. Saat yang sedih, saya tetiba rindu saat-saat di mana ia sangat suka bercerita tentang masa kecil dan pengalamannya mengunjungi banyak tempat. Dan saya adalah pendengar setianya. Saya kelak menjadi seorang story teller yang baik, itu karena beliau.

Dan melihatnya berbaring dalam diam, hati saya perih. Lelaki perantau yang gigih dan penuh semangat itu, benar sudah kalah.

***

Bapak menghembuskan napas terakhirnya tepat di hadapan saya. Saya baru hendak menyuapinya obat penurun demam, tangan saya masih melekat di keningnya ketika waktu memilih mengkhianati kami. Hilang sudah impian saya membuktikan sesuatu yang bisa membuatnya tersenyum. Pergi sudah lelaki yang mengagumi dan mencintai saya sedemikian hebat dan besarnya, mungkin setelahnya tak akan ada lagi seperti dirinya.

Sering saya melihat anak-anak saya dan membayangkan, bagaimana bahagianya beliau seandainya beliau dituntun berjalan oleh mereka dan tertawa dikelilingi mereka. Bagaimana beliau mungkin akhirnya tenang setelah tahu saya pada akhirnya setelah jatuh ribuan kali, masih kuat berdiri lagi oleh karena semangatnya yang saya bawa di dalam diri saya sepanjang waktu.

Saya yang bahkan memimpikan bisa kembali menemaninya berjalan kaki, tanpa wajah cemberut, tanpa takut kedua betis saya membesar, tanpa mengeluh lelah. Tanpa merengek; Pak... naik becak mi saja, nanti saya bayar! Saya yang ganti akan memegang pergelangan tangannya, bahkan memeluk bahunya sepanjang berjalan.

Saya ingin sekali mengobrol dengannya. Bahwa saya kini paham semua pesan yang ia kirimkan lewat kemarahannya, saya mengerti kekuatirannya atas saya, dan saya pun seharusnya merasa beruntung ketika ia menaruh impian atas saya.

Saya baru mengerti ketika menjadi seorang ibu. Saya baru tahu rasanya ditolak dan ditinggal pergi. Bagaimana pilihan-pilihanmu berseberangan dengan pilihan-pilihan anak-anakmu. Saya baru sadar bagaimana orang tua belajar menyimpan rasa kecewa dan sakitnya, lalu diam-diam menyembuhkan diri sendiri ratusan bahkan ribuan kali, sebab biar bagaimana anak tetaplah anak. Mereka yang sudah kau ijinkan mendiami hatimu selamanya, apapun risikonya.

Orang tua selalu punya alasan untuk tetap bertahan mencintai anak-anaknya walau sesekali menyakitkan, tapi mereka tak pernah bisa menemukan alasan untuk membenci.

Sumber : Status Facebook Mimi Hilzah

Friday, January 17, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: