Lelaki Brutal

Oleh: Denny Siregar 

 

Tidak ada hal yang lebih menyakitkan bagi seorang suami ketika mengetahui istrinya berselingkuh.

Apalagi ketika si istri adalah seorang publik figur. Sudah hatinya sakit, dunianya runtuh, ia pun terbawa2 dalam arus hujatan masyarakat karena mau tidak mau ia harus tampil ke depan publik dan terseret masalah.

Kasus yang menarik perhatian saya adalah kasus perselingkuhan cut tari dengan ariel peter pan. Bukan kasusnya itu yg mencuri perhatian saya, tetapi sikap yusuf subrata, suami cut tari. Ia terpaksa harus muncul di depan kamera, hal yang jelas tidak disukainya karena ia bukan dari jenis manusia yg suka tampil.

Seorang suami mempunyai kodrat sebagai seorang lelaki dengan harga diri yang tinggi. Ketika seorang istri, yang memiliki kodrat wanita yang harus dilindungi ternyata menghancurkan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang lelaki, kita bisa bayangkan runtuhnya dunianya. Sulit berbicara di depan keluarganya, di depan teman2nya, apalagi di depan anaknya. Masih harus ditambah lagi ia harus tampil di depan publik.

Meski wall saya pada waktu itu berisi banyak pertanyaan kepada sikapnya, apakah dia gay atau kenapa dia tidak marah dan sebagainya, saya malah menghormati sikapnya sebagai seorang lelaki sejati.

Seorang lelaki yang pertama kali harus dia lakukan adalah melindungi kehormatan keluarganya, itu yg paling penting. Karena itulah ia harus tampil dengan mengorbankan banyak hal. Ia meninggalkan puing2 di belakangnya untuk melindungi aib istrinya. Ia harus menjadi seorang pahlawan bagi keluarganya, meski itu waktu yg sangat sulit bagi dirinya.

Saya tidak mampu membayangkan kekuatan seperti itu. Harus senyum di depan kamera dan mengatakan kepada publik bahwa semuanya baik2 saja. Menutupi aib yang melanda dan selalu dikorek2 lebih dalam oleh sekian banyak pertanyaan. Satu pertanyaan dari wartawan, itu sudah seperti luka berdarah yg ditetesi air jeruk nipis, sangat perih. Dan ia harus tampil tegar menampakkan bahwa ia memaafkan itu semua dan menjadi tameng bahwa itu seluruhnya kesalahan dirinya yang tidak mampu menjaga kehormatan istrinya. Belum lagi tuduhan bahwa ia lelaki lemah, gay dan sebagainya, ia terima semuanya.

Lelaki seperti dirinya bukan tipikal seorang yang suka bercerita kepada publik tentang sakit hatinya yang dalam, seperti kasus seseorang yg disita mobilnya. Bukan tipikal seorang lelaki yang terus membuka aib dalam rumah tangganya supaya orang banyak bersimpati kepadanya. Apalagi lelaki yang suka tuntut menuntut mempermasalahkan harta gono gini di depan kamera, sampai terbuka aibnya sendiri bahwa ia brutal di ranjang.

Ia tidak mau aib menjadi konsumsi publik, ia menyerap semua racun yang mengelilingi istrinya. Masalah akhirnya berpisah, itu masalah berbeda tetapi bagaimana menyelamatkan situasi pada waktu situasi itu menjadi badai yang menghantam semua kehormatan diri dan keluarganya, itu yg terpenting.

Kita mungkin bisa tertawa keras ketika mendengar kemunafikan yang terbuka dari seorang publik figur yang selalu mempertontonkan kebaikan apalagi yg dibalut dengan agama, tetapi kita belum tentu bisa bersikap begitu jantan ketika menghadapi situasi yang sama dan berada pada posisinya.

Dalam sebuah peristiwa, kita selalu melihat dua sisi mata uang yg berbeda, yaitu benar dan salah. Saya sudah lama mencoba mencari sisi yang benar dari balutan semua kesalahan. Lebih menarik melihat cahaya lilin yg kecil daripada seperti banyak orang yang lebih suka memaki kegelapan. Itulah cara Tuhan berkomunikasi dan mengajari akal kita, melalui peristiwa.

Hal yang sama mungkin terjadi pada suami dari seorang istri anggota DPR yg mantan peragawati yg sibuk membela dirinya untuk menyelamatkan karirnya. Ia mempunyai sikap yang sama, diam, tersenyum dan terserah apa mau istrinya berbicara di depan kamera. Ia lebih suka menunjukkan diri di depan anak2nya, beginilah sikap seorang lelaki seharusnya dan kamu harus bisa seperti papa saat kamu menemui masalah dalam hidupmu nantinya.

Lelaki seperti itu bukan dari surga, karena ia juga punya banyak kesalahan dalam dirinya. Tetapi ia memahami filosofi kopi bahwa sepahit apapun situasinya, setidaknya ia berusaha menjadi pemanis untuk menyeimbangkan semuanya.

Semoga saya tidak lemah lembut dalam menulis ini padahal sesungguhnya brutal di ranjang. Brutal itu maksudnya baru masuk dikit sudah terpental...

(Artikel diambil dari Facebook)

Friday, November 6, 2015 - 12:15
Kategori Rubrik: