Lelaki Berkacak Pinggang

ilustrasi
Oleh : Mas Soegeng
Seorang pria berkacak pinggang melihat dari jauh kolong jembatan dan gerobak bak sampah. Itu pemandangan sisa hujan pagi. Ia bertolak pinggang. Sesekali tangannya mengusap keringat di dahinya yang sering jatuh di gagang kacamatanya setiap terkena matahari. Lebih dari lima menit, lelaki ini berkacak pinggang, petentang-petenteng, terus-menerus. Sampah-sampah itu juga mengalir terus-menerus.
Saya berharap, lelaki itu seperti Risma. Melihat hal berantakan, menyingsingkan lengan bajunya, lalu membersihkan sampah itu, sekaligus membersihkan namanya. Setidaknya bisa memerintahkan anak buahnya untuk bergerak, bekerja.
Saya salah. Lelaki itu tak beranjak dan terus berkacak pinggang. Terus melolot ke lorong-lorong. Pada sampah, pada gerobak. Bahkan pada sesuatu yang tak ada di sana. Barangkali juga menunggu kamera puas merekam dirinya.
Gestur lelaki ini, seperti dalam pelajaran ilmu body language, menjelaskan bahwa ia seorang pemimpin dengan jiwa yang congkak, tak mau mendengarkan orang lain, kebingungan, kesepian dan sedang mencari alasan untuk ia tetap bertahan.
Sesekali, orang lalu lalang di dekatnya, namun mereka acuh dan abai. Padahal ada seorang kepala daerah di sana yang sedang galau melihat lorong jembatan dan sampah menggunung di musim hujan. Ia sungguh tak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya jalan adalah berpikir menyusun kata-kata. Merangkai kalimat demi kalimat.
Akankan hujan menenggelamkan Ibukota atau dirinya ?
Ia terus berkacak pinggang dalam kesunyian dan kesepian. Keramaian baru ada ketika ia bisa menghasilkan uang. Sebab orang-orang yang senang berada di dekatnya, selalu suka akan uang darinya.
Kali ini tetesan keringat keluar dari ketiaknya. Keringat dari orang yang berkacak pinggang terlalu sering......
ms
Sumber : Status Facebook Mas Soegeng
Sunday, February 21, 2021 - 10:30
Kategori Rubrik: