Lebih Enak Zamanku?

Oleh: Tomi Lebang

 

“Lebih enak zamanku to?” Indonesia berwibawa di mata dunia, senyum separuh bibir presidenku menyihir sukma. Ia dijuluki the Smiling General, menjabat Ketua Gerakan Non-Blok, menjadi negara keempat yang punya satelit, bla-bla-bla....

Saya menganggap, orang yang mengenang dengan manis zaman kekuasaan Orde Baru itu adalah anak muda yang lahir di tahun setelah 1980-an dan masih ingusan ketika Soeharto tumbang. Dan jika ia seorang tokoh paruh baya atau lebih tua, maka ia tentu dari keluarga yang dulu menikmati zaman tanpa KPK hahaha ...

 

 

Mumpung Pertamina dan Petral sedang panas-panasnya, saya ingin bernostalgia ke zaman ketika anak-anak jenius adalah yang hapal nama-nama menteri di kabinet pembangunan dan bisa menyebut di luar kepala bendera negara-negara dunia, dan kita menontonnya lewat pesawat televisi berjendela kayu milik tetangga ....

Sebelum Petral, ada dua perusahaan yang bertugas memasok minyak ke Pertamina dibentuk. Perusahaan cikal-bakal Petral itu bernama Perta Oil Marketing dan Permindo Oil Trading. Tapi Pertamina hanya pemilik dengan saham kecil di Perta Oil, hanya 35 persen. Selebihnya, milik Pangeran Cendana Tommy Soeharto dan geng sebesar 65 persen. Sementara di Permindo, Pertamina punya 30 persen, sisanya milik sang kakak Bambang Trihatmojo dan teman-temannya sebesar 70 persen.

Sampai ayahnya terjungkal dari tahta di tahun 1998, Tommy dan Bambang berpesta dengan komisi sedikitnya 50 juta dolar AS setiap tahun. Untuk Permindo sahaja, dengan kurs rata-rata Rp 2.500 per dolar AS saat itu, setiap harinya Bambang dan kawan-kawan Permindo menikmati aliran fulus Rp 875 juta!

Perta dan Permindo ini hanya contoh kecil, karena minyaklah bancakan terbesar keluarga Cendana. Dalam hitungan sebuah majalah, sedikitnya 159 perusahaan milik anak, cucu, kerabat dekat, dan kroni Soeharto ambil bagian dalam menadah hasil Pertamina. Bambang Tri, Sigit Harjo, Siti Hardianti Rukmana, Siti Hediati dan tentu Tommy Soeharto, punya wilayah pertambangan migas sendiri yang tinggal ditawar-tawarkan, dijual atau dikeruk. Mereka punya sumur minyak sendiri. Tommy punya Cepu dengan produksi 10 ribu barel per hari, Bambang Tri di Pulau Bunyu, Tutut di Palembang, dan Sigit di Cirebon.

Mbak Tutut bahkan menguasai proyek pemasangan pipa gas di seluruh Jawa. Ia juga yang membangun depo Balaraja, Tangerang, senilai 110 juta dolar AS. Keponakannya, Ari Sigit membangun depo Pondokgede, Bekasi, dan Siti Hediati alias Titiek Prabowo -- yang kemarin hampir jadi ibu negara itu -- punya perusahaan Daya Tata Mataram yang menyalurkan 60 persen kebutuhan BBM di seluruh Indonesia.

Sementara Pusat Data Bisnis Indoinesia (PDBI) mencatat dengan cermat, di dunia minyak ini ada 77 perusahaan milik anak dan cucu Soeharto. Dengan itulah keluarga ini begitu kaya, begitu digdaya. Sampai-sampai, pemimpin Singapura yang dihormati Lee Kuan Yew sempat sinis: “Saya tak tahu mengapa (Soeharto) harus sekaya itu?”

Jadi, sodara-sodara, memang lebih enak di “zamanku”, zaman Soeharto. Zaman itu sungguh enak bagi mereka.

Kalau begitu, selamat pagi wahai anak-anak zaman sekarang.

 

(Sumber: Facebook Tomi Lebang)

Sunday, November 18, 2018 - 13:00
Kategori Rubrik: