Lebaran Betawi; Mengembalikan Tradisi, Menguatkan Identitas

Oleh: Wahyudi Akmaliah
 

Mudik menjadi tradisi di mana orang-orang yang bekerja di kota besar kembali ke kampung halaman mereka. Selain bertemu dengan keluarga, mudik merupakan ritual tahunan untuk kembali ke akar di mana mereka dilahirkan dan menguatkan kembali ikatan mereka kepada rumah (home).
Saat mereka kembali ke kampung halaman, dalam konteks kota Jakarta, bagaimana dengan orang-orang Betawi, yang lahir, tumbuh, dan dewasa di kampung halamannya sendiri selama bertahun-tahun?
 
Bagi mereka yang menikah dengan orang luar Jakarta dan masih memiliki keluarga di kampung atau kampong halaman, merasakan mudik saat lebaran merupakan pengalaman yang berharga, merasakan menjadi perantau seperti yang lain. Namun, bagi orang Betawi yang tidak memiliki kampung selain tempat kelahirannya, tidak mudik bukan berarti tidak merasakan imajinasi rumah seperti dimiliki oleh perantau. Sama seperti perantau yang lain, Idul Fitri atau lebaran bagi orang Betawi adalah bertemu dengan keluarga dan sanak famili serta mengokohkan tali ikatan kekeluargaan mereka.
 
Ikatan kekeluargaan bagi orang Betawi ini setidaknya dibangun oleh dua hal. Pertama, silaturahmi. Di sini, orang-orang yang lebih muda berkunjung kepada orang yang lebih tua.
 
 
 
 
 
Kewajiban berkunjung di sini bukan sekadar bertemu, melainkan harus datang ke rumah saudara atau saudari yang lebih tua, meski mereka sudah bertemu satu sama lain di tempat keluarga yang berbeda. Namun, seperti urut kacang, saudara atau saudari yang lebih muda tetap harus berkunjung kepada yang lebih tua, begitu juga selanjutnya.
 
Sementara itu, antar warga kampung, meski tidak begitu mengenal, mereka akan silaturahmi dengan mendatangani orang-orang Betawi yang dituakan.
 
Kedua, antaran. Dalam berkunjung ini, ada antaran yang dibawa. Antaran ini berisi makanan khas Betawi yang dibuat khusus saat lebaran. Makanan ini menjadi ciri khas dan kewajiban yang mesti dibawa bagi orang muda yang berkunjung kepada saudara yang lebih tua. Di antara antaran tersebut adalah kue kembang goyang, kue satu, kue lapis Betawi, wajik, dan dodol Cina. Karena masa silaturahmi lebaran biasanya sebulan, makanan ini diolah sedemikian rupa untuk bisa bertahan lama.
 
Di tengah arus modernisasi, yang ditandai dengan pembangunan gedung-gedung di Jakarta yang begitu pesat, kondisi ini membuat orang-orang Betawi terpaksa menjual tanahnya sehingga mereka berpindah di wilayah pinggiran dan luar Jakarta sejak tahun 1970-an. Hal ini membuat mereka kehilangan obor. Kehilangan obor ini membuat ikatan kekeluargaan yang sebelumnya terbentuk kuat menjadi melemah seiring dengan terjaraknya mereka satu sama lain secara geografis.
 
Dua tradisi tersebut, jika dibiarkan akan membentuk budaya pragmatis orang Betawi, mengikuti gaya hidup masyarakat urban Jakarta umumnya. Akibatnya, tradisi dan budaya Betawi akan mati dengan sendirinya seiring dengan ditinggalkannya tradisi dan budaya tersebut. Padahal, menurut catatan BPS tahun 2010, jumlah total penduduk etnis Betawi secara menyeluruh adalah 2.701.533 jiwa. Jumlah ini terbagi berdasar gender di mana jumlah seluruh penduduk pria adalah 1.363.323 jiwa, sementara untuk penduduk wanita adalah 1.338.210 jiwa.
 
Memang, jumlah ini hanya sekitar 2 persen dari total penduduk Jakarta, yang berjumlah 10.177.924 jiwa (BPS 2017). Tetapi, jumlah tersebut relatif cukup banyak.
 
Bertolak dari kekhawatiran ini, Badan Musyawarah Betawi (Bamus), organisasi utama Betawi yang menaungi seluruh organisasi Betawi di Jakarta, berinisiatif menginstitusionalisasikan momentum tersebut dengan membuat agenda tahunan dengan mengadakan perhelatan Lebaran Betawi. Lebaran Betawi ini merupakan agenda besar Bamus yang didukung oleh Bagian Pariwisata Pemerintah DKI Jakarta.
 
Lebaran Betawi ini pertama kali diadakan pada tahun 2008 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, menyusul kemudian pada tahun 2009 di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan; tahun 2010 di Sentra Primer Puri Indah, Jakarta Barat; tahun 2011 di lapangan BPLIP Penggilingan, Cakung, Jakarta Timur; tahun 2012 di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelapa Gading, Jakarta Utara; tahun 2013 di lapangan Monas, Jakarta Pusat; dari tahun 2014-2016 di Lapangan Banteng.
 
Secara garis besar, ada dua hal yang ditampilkan dalam perhelatan Lebaran Betawi ini. Pertama, penampilan budaya Betawi. Misalnya, tanjidor, gambang kromong, keroncong Jakarta, wayang kulit Betawi, orkes Melayu, lenong, dan ondel-ondel.
 
Sebagaimana diketahui, atraksi musik dan pagelaran budaya Betawi tersebut merupakan irisan dan hibriditas dari pelbagai budaya, lokal, nasional, dan internasional, yang kemudian mengeras dan membentuk diri menjadi bagian dari budaya Betawi.
 
Kedua, penguatan ekonomi. Misalnya, sajian kuliner Betawi, baik makanan ataupun minuman yang dijual oleh orang Betawi melalui stand-stand yang disiapkan oleh panitian penyelenggara. Di sini kita dapat menemukan makanan dan minuman khas Betawi seperti nasi uduk, nasi ulam, nasi kebuli, nasi goreng, ketupat sayur, sayur asem, sayur sop, sayur lodeh, sayur laksa, sayur, jengkol, urap, opor, bir peletok, dan es cendol (Azizah, 2010).
 
Lebaran Betawi yang sudah berjalan selama 9 tahun ini bukan hanya menguatkan identitas kebetawian orang Betawi, melainkan juga mengenalkan tradisi dan budaya Betawi secara lebih luas. Di antara orang asing yang tertarik dengan budaya Betawi tersebut adalah Andrien, perempuan muda asal Prancis. Ia datang dalam Lebaran Betawi pada tahun 2016 lalu.
 
Selain takjub dengan rumah Betawi yang memiliki ornamen yang khas, ia menyukai pertunjukan tarian dan musik gambang kromong. Menurutnya, budaya Betawi memiliki keunikan tersendiri. Salah satu keunikannya adalah sedikit mengadaptasi budaya Belanda, negara dan bangsa yang dahulu pernah menjajah Indonesia. Hal ini lebih khusus terlihat dari bentuk rumah tradisional Betawi yang mirip bangunan Belanda (Mediaindonesia.com, 15 Agustus 2016).
 
Meski diniatkan untuk menguatkan tradisi dan budaya Betawi, Lebaran Betawi juga dijadikan medium sikap politik orang Betawi. Sikap politik ini lebih menjurus kepada upaya melakukan mobilisasi massa untuk memilih salah satu calon dalam Pilkada Jakarta. Hal ini terlihat dalam Lebaran Betawi 2016 ketika Ketua Umum Forum Betawi Rempug Lutfi Hakim menyampaikan kata sambutannya agar pengunjung yang hadir tidak memilih Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menjadi Gubernur kembali pada Pilkada DKI Jakarta 2017.
 
Lutfi Hakim mengungkapkan kekecewaannya terhadap Ahok yang menggusur permukiman warga di Kampung Pulo, Jakarta Timur, dan Pasar Ikan, Jakarta Utara. Ia juga menegaskan agar orang Betawi bangkit agar bisa memilih orang Betawi atau paling tidak ada perwakilan orang Betawi (Kompas.com, 15 Agustus 2016).
 
Bagi saya, sebagai pilihan politik individu, hal itu wajar diungkapkan. Namun, apabila mewakili keseluruhan masyarakat Betawi, hal itu menjadi bermasalah. Ini karena, tidak semua orang Betawi di Jakarta merasa direpresentasikan oleh ucapan Lutfi Hakim tersebut.
 
Selain itu, Lebaran Betawi juga bukan media untuk menarik dukungan politik. Lebih jauh, Lebaran Betawi merupakan ruang semua orang Betawi untuk mengisi pelbagai hal mengenai Betawi dan kebetawian. Apalagi sikap politik yang ditunjukkan tersebut bisa berdampak terhadap kucuran dana kepada masyarakat Betawi dan kebijakan yang dibuat.
 
Di sini, melihat keberpihakan kepada budaya dan masyarakat Betawi melalui kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah DKI Jakarta tanpa meminggirkan anggota masyarakat Jakarta yang lain dan tidak melihat darimana asal Gubernur dan Wakil Gubernur itu berasal, baik etnik maupun agama adalah pilihan bijak yang dapat ditempuh.
 
Apalagi, sebagaimana kita tahu, kebudayaan Betawi merupakan akulturasi dari pelbagai kebudayaan yang lain, ketika keterbukaan dan penerimaan menjadi prasyarat mengapa budaya dan tradisi Betawi hadir hingga sekarang.
 
Sebaliknya, sikap politik yang perlu ditunjukkan oleh Bamus kepada pemegang kebijakan DKI Jakarta adalah mengenai kepedulian masa depan dari kebudayaan dan orang Betawi sendiri, baik secara ekonomi, sosial, dan budaya agar tidak sekadar menjadi ornamen penghias Jakarta di acara-acara ritual publik kota, tapi secara kemanusiaan dan budaya, orang-orang Betawi justru ditinggalkan.
 
(Sumber: Geotimes)
Thursday, June 29, 2017 - 15:15
Kategori Rubrik: