Layanan Birokrasi Saat Jaman SBY dan Jokowi

Ilustrasi

Oleh : Damar Wicaksono

Maraknya OTT KPK terhadap 4 kepala daerah dalam 2 minggu (wow! KPK), membuat saya ingin terus corat-coret pengalaman pribadi

"Suam.. Rabu ampe Kemis malem dines di Bogor.."

"Ya udah. Berangkat dari rumah lebh enak sekarang.."

"Ok"

"Terus kalo rumah di Bogor, n dines di Bogor gitu, SPPD-nya dapet juga SPPD luar kota?

"Iyaaaaa..

udah deh, pasti mau nyindir..
kantorku kan udah sangat banyak berubah sejak zaman pak Sudirman Said n Pak Jonan. Coba tuh liat lembaga x n y.. korupsinya masih jalan terus @#$^%^*€£#$.."

Istri sendiri juga saya sentil..

Alamat tidur di sofa ini

Yah gimana ya.. Saya memang sangat mengapresiasi semangat perubahan di lingkungan birokrasi sejak zaman Presiden SBY yang dipertajam oleh Presiden Jokowi.

Tapi biaya perjalanan dinas yang terus dipangkas oleh para menteri di rezim Jokowi masih saja menyisakan ketidakefisienan. Menurut saya.. hhe

Dalam hal Kasus korupsi, memang masih terjadi di sekian kalangan pejabat tinggi. Dan tertangkap. Tapi itu menandakan sistem "whistle blower" makin oke. Banyak birokrat yang sekarang berani melapor jika melihat ketidakberesan

Sebagai pelaku usaha, cuma berharap kawan2 birokrat makin rajin bekerja. Sejak 2010, kesejahteraan njenengan semua sudah meningkat lumayan tajam. Apalagi setelah ada tunjangan kinerja aka TuKin.

Tiga hal..
Rajin bekerja, terus mengembangkan mind set MELAYANI bukan MINTA dilayani dan tentu tidak meminta fee kepada para pemenang tender atau PL (pengadaan langsung)

Itu yang diharapkan para pelaku usaha 

Sehingga kami bisa tenang bekerja, murah dalam ngurus ijin usaha, aman tanpa dipalak preman (misalnya). Sehingga bisa terus berinovasi dan menambah peluang lapangan kerja

Begitu njih? 

Sumber : Status Facebook Damar Wicaksono

Thursday, February 15, 2018 - 15:30
Kategori Rubrik: