Lawan Intoleransi Di Group Whatsapp

Ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Hari Sabtu awal bulan lalu, saya kumpul bertemu ex kawan kuliah. Seangkatan dari bermacam jurusan.

Tahun awal kami kuliah dulu, mahasiswa baru mendapat mata kuliah yang sama. Matematika Dasar, Kewiraan, Agama, dll. Dikumpulkan dalam 4 kelas besar. Masing2 sekitar 200 orang. Jadi total jumlah kami waktu itu berkisar 800 mahasiswa. Tingkat Satu Bersama (TSB) sebutannnya.

Waktu datang ke kumpul2 itu, tentu saja ada beberapa yg belum saya kenal. Wong beda jurusan dan jumlahnya juga ratusan.

Namun tak lama suasana jadi cair. Arek Suroboyo memang terkenal 'blater' dan 'semanak'. Ramah dan penuh persaudaraan.

Beberapa tentu sudah jadi 'bos' di tempat kerjanya. Menu harian omongan tak jauh dari, rencana tahunan, forcast penjualan, pengaruh kurs dollar, pergerakan harga saham, dll.

Dahi berkerinyit, harus 'jaim', kadang 'dehem' menunjukkan ketidaksukaan, ketuk2 meja tanda ketidaksabaran. Sekarang lepas !

Guyonan ramai. Tema lama rasa baru. Peristiwa yang dulu memalukan bahkan mungkin menyakitkan, sekarang jadi bahan tertawaan, guyonan. Semua tertawa. Baik pelaku maupun para saksi. Bahkan yg cuma jadi pendengar.

Nikmat rasanya omong dalam bahasa dan 'rasa' yg sama. Seperti syair lagu kita buka awalannya, semua bisa menebak dgn fasih langgam dan syair lanjutannya. Nyaman, sejuk, dan menyegarkan.

Kumpulan para 'setengah sepuh' ini berawal dari sebuah grup WA. Mungkin awalnya dari dua atau tiga orang. Lalu add satu. Satu lagi. Dan seterusnya sampai menjadi sekitar 100 orang.

'Kegayengan' obrolan dalam pertemuan 'copydarat' adalah 'copypaste' percakapan dalam WA. Persis namun jadi berasa lebih 'nyes' karena multidimensi. Ada tatap muka, nada suara, gestur tubuh, satu irama. Ceria !

Sayangnya dalam grup2 per'konco'an seperti itu selalu ada person yg sok ng'ustad', m'politikus', ng'ekonom'. Sayangnya lagi yg ditampilkan kebanyakan cuma copypaste dari 'grup sebelah'. Ndak jelas sebelah mana 

Kebanyakan hoax, hate speech, dan selalu partisan. Saya menyebut mereka 'jihadisss'. Pakai 3 huruf S. Selalu Sangat Semprul !.

Ndak ngerti empan papan. Waktu, tempat dan situasi. Jihadisss memang tidak kenal waktu, tidak kenal malu, sekaligus tidak kenal logika dan pikiran. Nurut mereka ini jihad tegakkan agama, surga balasannya. Apalah arti teman dan saudara.

Kalimat pembuka atau akhirannya khas, copypaste dari grup sebelah, sebarkan, kalau ndak suka silakan didelete. Tiap waktu sembahyang kirim postingan 5 kali sehari, silakan penuhi mesjid. Bahkan tengah malam. Ajakan tahajud !

Lha wong sudah sama2 hampir tua kok masih diingatkan. Sudah telat lah. Yang 'rusak' kalau ndak dapat hidayah ya susah jadi bener lagi. Bagi saya itu tak lebih 'riya'. Ibadah yg dipamerkan.

Kita sering dengar berita bom bunuh diri di mesjid dan pasar. Sekolah disasar bom. Masih ingat Malala, remaja pelajar cantik Pakistan yg kepalanya jadi sasaran tembak orang yg menyebut dirinya 'Pembela Islam' ?

Seperti itulah tingkah mereka para 'jihadisss' dalam grup WA. Dalam skala lebih ringan dan kecil. Tapi kalau mereka 'kuat' dan 'membesar' apalagi jika berkuasa, langkah para 'mujahid' Timur Tengah bukan tidak mungkin jadi panutan.

Makanya saya lawan !
Tak ingin teman2 jadi ketularan. Sayang juga banyak yg diam. Jaga harmoni perkawanan. Padahal para 'jihadisss' setiap ada kesempatan bertingkah menyingkirkan etika persahabatan.

Hhhhhhh ! 

Sudah 4 atau 5 grup WA saya tinggalkan. Karena saya juga tak suka ada sekelompok orang yg secara tidak adil mendiamkan faham 'kejahatan' dan 'kebodohan'.

Suatu ketika, khotib saya tanya, setelah jumatan usai, darimana datangnya data umat Islam cuma tinggal 70% yg tadi dia khutbahkan, dari grup WA dan portal2 yg 'begituan', jawabnya 

Saya tegur jadi debat kusir berkepanjangan. Karena sang khotib 'ngeyel' tanpa beban dan tanpa bahan. Kucluk !

Sejak itu jika jum'atan selalu datang hanya setelah iqomat dikumandangkan. Tak peduli lagi pahala apa yg saya dapatkan. Unta atau ayam, atau bahkan cuma bulu ayam !

Makanya lawan ! 
Jangan sampai hoax, hatespeech, jadi suguhan harian. Merusak perkawanan.

Bagi para 'jihadisss' silakan nulis di twitter, instagram, facebook, atau kalau mampu di koran. Jangan merusak pertemanan !

Atau iming2 sorga dan bidadari yg 72 itu lebih merangsang dr hanya sekedar persahabatan ?!
Tengok dulu 'kelayakan' yg iming2, bandingkan dengan wajah2 sejuk kerabat dan kawan . . . .

Mosok sampeyan ndak punya matahati untuk merasakan .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Wednesday, August 22, 2018 - 20:00
Kategori Rubrik: