Laporan CIA Tentang Peristiwa 1965

Ilustrasi

RedaksiIndonesia-Berikut ini adalah rangkuman laporan CIA selama bulan November 1965. Laporan diterjemahkan dan ditulis ulang mengikuti format asli paragraf dalam arsip CIA, The President's Daily Brief:
1 NOVEMBER 1965
Para pemimpin tentara masih berpacu dalam situasi yang licin.

Ada pertempuran di Jawa Tengah, tapi tentara kemungkinan memberi laporan yang berlebihan mengenai apa yang terjadi di sana untuk mengcounter usaha Sukarno yang menggambarkan situasi di sana telah mulai kembali normal.

Para jenderal menyadari bahwa mereka menghadapi hambatan serius di Jawa bagian tengah dan timur dimana Komunis mulai memperkuat posisinya. Untuk mengcounternya, unit-unit tentara yang kesetiaannya diragukan dipindahkan ke Sumatra dan Kalimantan, dan pemuda-pemuda anti-komunis mulai dipersenjatai.

Di Jakarta, komando tentara mulai memikirkan aspek ekonomi dari perjuangan mereka melawan Komunis. Ada sebuah kekhawatiran terhadap rantai logistik dan distribusi Beras yang dapat terputus apabila terjadi pertempuran serius di Jawa Tengah, hal ini akan menyebabkan area Jakarta Raya kehabisan pasokan.

Para jenderal juga mulai mengkhawatirkan instalasi-instalasi minyak milik Amerika dan perkebunan karet akan menjadi target dari sabotase Komunis.

2 NOVEMBER 1965
Tentara terus mengintensifkan kampanye anti komunisnya sembari mengambil langkah untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Soekarno.

Indikasi dari masih diperlukannya taktik "lip service" dari para pemimpin tentara kepada Sukarno ini terlihat jelas ketika Jenderal Soeharto baru-baru ini memberikan kepastian secara terbuka bahwa tentara akan menghargai segala keputusan Sukarno tentang "penyelesaian politik". Bahkan di kalangan pemimpin tentara yang tidak lagi menghormatinya pun tampaknya masih menganggap Sukarno sebagai simbol penting dalam persatuan Indonesia.

Banyak laporan lanjutan dari bentrokan bersenjata antara militer dan Komunis di berbagai daerah, di Jakarta sendiri, tentara sekarang mengambil peran utama untuk pertama kalinya dalam pembersihan anggota Komunis dan simpatisannya dari birokrasi pemerintahan.

Ada aksi baru melawan kepentingan Komunis China di Medan pagi ini, segerombolan orang yang dibackup tentara berdemonstrasi di depan Konsulat China. Kerumunan massa diperkirakan mencapai 100.000 orang, mereka merobohkan dan menghancurkan bendera Cina dan lambang konsulat.

Para demonstran juga menuntut pemecatan Menteri Luar Negeri Subandrio dan Gubernur Sumatera Utara yang pro komunis.

(KALIMAT DISENSOR).

3 NOVEMBER 1965
Aksi anti Komunis tentara semakin ditiru oleh unsur-unsur sipil, beberapa di antaranya tampaknya mulai menjauhkan diri dari lingkaran istana Sukarno.

Ketua parlemen, misalnya, telah "memecat sementara" 57 perwakilan Komunis di parlemen, sedangkan Menteri Pendidikan, yang telah lama
didukung oleh komunis, malah memerintahkan semua buku yang diproduksi oleh Partai Komunis Indonesia atau afiliasinya ditarik dari kurikulum.

Namun lingkaran Sukarno masih bekerja. Target mereka saat ini adalah mendapatkan kembali kendali atas pers, yang dalam beberapa pekan terakhir ini telah dikontrol oleh tentara.

4 NOVEMBER 1965
Kepala Staf Angkatan Darat Suharto semakin mengambil peranan penting dalam urusan dalam negeri. Sebuah sumber di militer mengatakan saat ini Suharto lah, bukan Nasution, yang memberikan perintah harian untuk tentara dan berurusan langsung dengan Sukarno. Kedubes percaya bahwa Suharto mungkin akhirnya akan muncul sebagai "orang kuat" di negara ini.

Sumber yang sama mengatakan bahwa tentara sedang mencoba menghindari serangan frontal melawan para pemimpin Komunis. Sambil membatasi ruang gerak mereka, militer membiarkan kaum muslimin dan kelompok lainnya memimpin dalam operasi pembersihan ini, termasuk mendiskreditkan Komunis dan menuntut hukuman berat terhadap mereka.

Taktik serupa sedang juga digunakan untuk melawan Subandrio untuk meminimalisir risiko menjauhkan hubungan Sukarno dari tentara. Pada titik ini tampaknya taktik ini berhasil; Subandrio mungkin akan kehilangan posisinya.

(KALIMAT DISENSOR). Kami meragukan bahwa Komunis hingga saat ini belum mengambil keputusan untuk memulai perang sipil; Memang, kekacauan yang terjadi saat ini mungkin saja membuat mereka tidak siap untuk berkonfrontasi langsung, dan hanya memfokuskan diri pada aksi terorisme dan sabotase. Namun, kepemimpinan Komunis di suatu titik pasti akan sampai pada keputusan final bahwasanya tidak ada alternatif lain kecuali resistansi berskala besar. Instruksi untuk menebar teror ini harus diantisipasi sebagai bagian awal dari keputusan akhir itu.

5 NOVEMBER 1965
Pergerakan anti-komunis tentara terus berlanjut.

Arsitek penggerak mereka, Jenderal Suharto dan Nasution, sekarang yakin mereka memiliki dukungan yang solid dari angkatan darat, angkatan laut, marinir, dan
polisi. Kedua jenderal ini percaya mereka akhirnya bisa mendorong Sukarno untuk mendukung gerakan penumpasan ini; karena mereka merasa semakin lama gerakan penumpasan ini berlanjut, maka akan semakin sulit untuk membalikkan keadaan.

Desas-desus beredar, namun tak diragukan lagi oleh tentara, bahwa Menteri luar Negeri Subandrio saat ini akan meninggalkan negara. Rumor serupa sebelumnya mendahului kepergian Jenderal angkatan udara Omar Dani.
(KALIMAT DISENSOR).

Situasi di bagian tengah dan timur pulau Jawa tetap tidak tenang. Tentara telah memperketat pembatasan perjalanan dan hak untuk berkumpul dalam upaya menghadapi komunis. Laporan adanya pertempuran di kedua daerah ini terus masuk.
(KALIMAT DISENSOR).

6 NOVEMBER 1965
Hanya ada sedikit pergerakan situasi dalam 24 jam terakhir.

Dalam sesi kabinet hari ini, para jenderal berencana mendesak Sukarno terkait perubahan organisasi dan personil tertentu, namun hasil yang dicapai belum sesuai harapan. Sukarno menegaskan kembali dukungannya terhadap Subandrio, yang dipujinya sebagai "Menteri Luar Negeri terbaik yang pernah dimiliki Indonesia,".

Sukarno, bagaimanapun juga, tetap memberi ruang pada tentara saat ia mengurangi jumlah penasihat pro-komunisnya. Sukarno juga secara terbuka menyatakan dirinya sedang "mempertimbangkan" untuk mengambil tindakan terhadap Partai Komunis yang dianggap bersalah karena telah melakukan "petualangan sayap kiri" secara serampangan.

Kontribusi terkini dari Peking untuk situasi ini adalah seruan untuk semua komunis agar mendukung Kawan Aidit. Mereka juga menambahkan seruan terselubung untuk melakukan aksi revolusioner di lndonesia.

8 NOVEMBER 1965
Perseteruan antara Sukarno dan para pemimpin tentara terus berlanjut. Penampilan publik terbaru Sukarno rupanya sejauh ini gagal untuk memperlambat pergerakan melawan Komunis.

Langkah selanjutnya mungkin terjadi pada hari Rabu, sebuah hari libur yang penting bagi lndonesia. 
Ada petunjuk (KALIMAT DISENSOR) dalam Pidato Sukarno kali ini akan ditampilkan tuduhan baru terhadap Amerika Serikat. Sudah jelas bahwa Subandrio telah memberikan Sukarno semua "bukti-bukti" Anti-AS yang bisa ia gali. dan sikap publik Sukarno yang menunjukkan rasa tidak sukanya pada Duta Besar Green dan mantan Duta Besar Jones pada hari Sabtu lalu menyiratkan bahwa akan ada lebih banyak lagi serangan verbal dari Sukarno.

Sementara itu, tentara telah mendapatkan bukti-bukti nyata untuk mendukung upaya mereka memaksakan pemutusan hubungan lndonesia dengan komunis China.
(KALIMAT DISENSOR). Para penyidik angkatan bersenjata telah menemukan adanya senjata dan amunisi yang disembunyikan di kantong semen di atas sebuah kapal carteran China yang baru-baru ini tiba di Jakarta dari pelabuhan Korea Utara. Tentara mencurigai senjata-senjata ini ditujukan untuk membantu para Komunis.

9 NOVEMBER 1965
Apapun kutukan anti-AS yang dimunculkan oleh Sukarno esok hari pada Perayaan Hari Pahlawan, militer tetap saja menangkap momen itu sebagai sebuah kesempatan untuk mengalahkan Komunis.

Pidato Jenderal Nasution dalam kesempatan itu adalah seruan keras untuk menghukum para pelaku kudeta bulan September. Dalam pidatonya, Nasution sama sekali tidak menyebut nama Sukarno, hanya berdoa agar "pemimpin besar revolusi" diberi kekuatan untuk melanjutkan perjuangan "sepanjang jalan yang diberikan Tuhan."

Untuk mendesak Sukarno kembali ke jalan yang benar, massa anti-komunis hari ini mengadakan demonstrasi terbesar yang pernah kami lihat di Jakarta. Massa menuntut seluruh anggota komunis dan simpatisannya dipecat dari kabinet

Meski demikian, Sukarno masih mencetak beberapa poin, (KALIMAT DISENSOR). Dua surat kabar yang menyerang Wakil Perdana Menteri Subandrio dilarang beredar sementara oleh otoritas sipil pro Sukarno.

Ada beberapa petunjuk bahwa Soekarno berkeinginan untuk pergi ke luar negeri segera. Sebuah perjalanan ke luar negeri saat ini akan tampak buruk timing-nya secara politis, tapi mungkin sangat diperlukan oleh Sukarno untuk alasan medis.

10 NOVEMBER 1965
Sukarno menyampaikan pidatonya secara berapi-api di perayaan "Hari Pahlawan" Jakarta, pada dasarnya pidatonya itu adalah sebuah peringatan bagi tentara
dan politisi bahwa tidak akan ada perubahan dari ideologi Indonesia saat itu, Nasakom.

Untuk menguatkan hal ini, Sukarno memerintahkan pengurangan jumlah koran anti-komunis yang diperbolehkan terbit, dan menekankan bahwa dengan unsur komunis akan terus dilibatkan dalam pemerintahan. Sukarno juga memnjelaskan bahwa dirinya akan terus mengakomodasi komunis dalam ideologi nasional.

Pidato Sukarno sebagian besar berisi omelan, ia menyerang tentara yang disebutnya sedang melakukan "perburuan liar" terhadap Komunis, Dia juga mengancam akan melarang setiap partai yang tidak patuh pada perintahnya. Dalam pidatonya secara panjang lebar ia mengulangi tuduhan subversi yang dilakukan Amerika di Indonesia

Semua ini sangat kontras dengan pidato radio Jenderal Nasution malam sebelumnya. Nasution menekankan bahwa militer tidak akan berhenti di tengah jalan dalam langkahnya untuk menumpas kaum Komunis dan mengisyaratkan bahwa Subandrio seharusnya dihukum berat. Nampaknya militer bertekad meneruskan kebijakan penumpasan komunisnya dengan mengabaikan Sukarno.
(KALIMAT DISENSOR).

11 NOVEMBER 1965
Ada beberapa laporan bahwa Sukarno pindah ke lingkungan yang lebih aman di Bogor atau Jawa Tengah dan menunggu langkah selanjutnya dari tentara.

Tak diragukan lagi ia berharap keengganan rakyat Indonesia untuk menghancurkan citranya akan menumpulkan pergerakan tentara.
(KALIMAT DISENSOR).

12 NOVEMBER 1965
Komitmen mereka yang mendukung penumpasan komunis mulai goyah, beberapa pihak mulai menunjukkan kebingungan setelah penampilan publik Sukarno yang memikat dan menegaskan kembali kewenangannya pada hari Rabu.

Beberapa dari mereka yang sebelumnya menyatakan optimismenya selama penumpasan ini, sekarang mulai tampak berkecil hati. Sejak Rabu, Sukarno telah mengambil kembali kontrol penuh atas informasi negara melalui media. Tentara menyerahkan kontrol dari radio kemarin, dan pers sesuai dengan peraturan baru telah melunakkan serangannya terhadap komunis dan pada Subandrio. Subandrio sendiri nampak mulai kembali percaya diri.

Para pemimpin tentara, yang kebanyakan masih berharap Sukarno mendukung tujuan mereka sekarang mulai menimbang risiko menjatuhkan Sukarno jika mereka ingin mencapai tujuan mereka.

Sementara itu, penangkapan terhadap Komunis yang dilakukan tentara terus berlanjut di berbagai wilayah di negara ini.
(KALIMAT DISENSOR).

13 NOVEMBER 1965
Tidak ada perubahan yang signifikan dalam perebutan kekuasaan selama 24 jam terakhir.

Sukarno terus bermain dengan waktu.untuk mendapatkan keuntungan dari kemungkinan meredanya kemarahan masyarakat yang masih militan melawan Komunis. Ia mungkin secara diam-diam memerintahkan para anggota partai Komunis untuk bersembunyi dan menunggu keadaan menjadi tenang.
(KALIMAT DISENSOR).

15 NOVEMBER 1965
Tentara dan unsur politik anti-komunis lainnya sepertinya tidak mundur setelah pernyataan Sukarno baru-baru ini. Namun, mereka pun belum berani untuk melawannya secara terang-terangan.

Sukarno bertemu dengan para pimpinan angkatan bersenjata pagi ini. Satu-satunya keputusan yang diambil dari pertemuan ini adalah perintah untuk mengumpulkan semua komandan militer dan polisi untuk mendapatkan pengarahan lebih lanjut dari Sukarno pada Sabtu depan.

Tentara sementara itu tetap meneruskan tekanannya pada Komunis.
(KALIMAT DISENSOR). 
Parlemen Indonesia yang biasanya jinak kali ini telah menyerukan larangan resmi pada Komunis. Kendati demikian, beberapa pemimpin khawatir partai-partai anti-Komunis sekarang mulai bersikap lebih hati-hati.
(KALIMAT DISENSOR).

16 NOVEMBER 1965
Sukarno akhirnya menyerah pada tekanan tentara dan mengizinkan pembersihan anti komunis di pemerintahan.

Ini keluar dalam bentuk Instruksi Presiden hari ini yang meminta pemecatan dari semua personil pemerintah yang terlibat gerakan 30 September. Jenderal Nasution mengeluarkan perintah serupa kemarin yang berlaku untuk angkatan bersenjata.

Langkah terbaru ini merupakan keuntungan psikologis yang cukup besar bagi pemimpin militer. Meski mereka sudah telah terlibat dalam pembersihan komunis sejak beberapa waktu lalu, namun inilah pertama kalinya mereka mendapatkan persetujuan formal dari Sukarno.

Sebuah aksi massa melawan Komunis kembali dijadwalkan berlangsung besok di Jakarta.

17 NOVEMBER 1965
Laju perseteruan antara Sukarno dan para jendral semakin cepat. Yang terakhir terlihat memiliki kesempatan untuk menang saat ini.

Angkatan Darat menegaskan bahwa mereka akan mempertahankan keadaan darurat di Jakarta meskipun pemberlakuan darurat militer di sana telah dicabut Sukarno pekan lalu. Tentara juga berhasil menggagalkan usaha Soekarno untuk menguasai pers kembali.

Demonstrasi lebih lanjut telah dilakukan untuk menuntut pelarangan komunis, delegasi dari para jenderal sekarang menunggu bertemu Sukarno untuk menuntut agar Subandrio dan Jenderal angkatan udara Omar Dani dipecat.

Sejak memberikan sambutannya yang solid minggu lalu Sukarno cenderung diam, namun ia masih jauh dari kekalahan. (KALIMAT DISENSOR).

Di provinsi-provinsi luar jawa, pembersihan Komunis terus berlanjut. Bahkan, kemungkinan sudah tidak terkendali lagi di Sumatera Utara. (KALIMAT DISENSOR).

18 NOVEMBER 1965
Langkah Sukarno selanjutnya dalam perebutan kekuasaan ini sepertinya akan meyiratkan bahwa ia akan menyerah pada tekanan tentara dengan mengeluarkan larangan pada Partai Komunis. Namun, beberapa hari kemudian, dia menindaklanjutinya dengan perintah membubarkan seluruh partai politik lainnya dan berencana membentuk sistem satu partai baru yang akan mencakup unsur komunis dalam kepemimpinannya.

(KALIMAT DISENSOR).

Pemimpin tentara tampaknya masih tidak yakin dengan diri mereka sendiri. Salah satu kekhawatiran mereka adalah ketidakpastian akan loyalitas dari prajurit dan perwira rendah mereka jika terjadi pertikaian frontal dengan Sukarno. Salah satu hal yang menandakan ini adalah baru-baru ini mereka memutuskan untuk menjual sedan dinas mereka dan kembali menggunakan jeep. Ini sepertinya dirancang untuk mengurangi kerentanan mereka terhadap tuduhan hidup mewah yang tampaknya telah digunakan menghancurkan citra mereka di kalangan perwira tingkat rendah.

19 NOVEMBER 1965
Kedubes kami di Jakarta percaya bahwa pertemuan Sukarno dengan komandan militer besok akan memberikan beberapa indikasi lebih jelas tentang siapa yang sekarang berada di atas meski tidak mungkin membawa situasi ke klimaks.

Pada titik ini, posisi Sukarno sepertinya tidak jauh membaik, meski ia telah melakukan pembicaraan dengan para pemimpin politik terus menerus.

Komandan militer Jawa Barat kemarin mengumumkan bahwa Partai komunis Indonesia telah "dibubarkan" di wilayahnya, bukan hanya "ditangguhkan" seperti di seluruh negeri, ini adalah salah satu tanda kemenangan dari pihak tentara.
(KALIMAT DISENSOR).

Namun perlu dicatat, komandan ini memiliki semangat "suam-suam kuku" dalam mengejar orang-orang komunis, dan pengumuman itu mungkin usaha baginya untuk menghalangi aktivitas anti-komunis di daerahnya dengan mengklaim bahwa partai sudah tidak ada lagi.

20 NOVEMBER 1965
Laporan lengkap pertemuan Sukarno pagi ini dengan para komandan militer Indonesia belum tersedia.

Sukarno mendahului pertemuan ini dengan memberikan sesi privat kuliah umum untuk militer dan para wartawan tentang bagaimana jahatnya berbagai pemberitaan tentang Indonesia di surat kabar asing baru-baru ini.

Ia juga menegaskan kembali bahwa Indonesia masuk ke dalam sebuah "poros besar" dengan Kamboja, Korea Utara, Vietnam Utara, dan Komunis China melawan "Imperialisme Amerika". Secara spesifik ia mencela surat kabar yang telah mengkritik aksi yang dilakukan Vietnam Utara dan Kamboja dan telah mencetak "fitnah" terhadap Partai Komunis Indonesia.

Dengan gaya khasnya, Sukarno juga mengatakan bahwa ia akan terus mengobarkan semangat revolusi Indonesia "hanya dengan bantuan Tuhan dan kepercayaan penuh dari rakyat lndonesia." Tentang peristiwa-peristiwa seputar percobaan kudeta 30 September, dia berkata, "itu hanyalah masalah kecil."

Semua pernyataan hari ini mengindikasikan Sukarno sepertinya menantang tentara secara terang-terangan. Kami masih menunggu laporan reaksi dari tentara.

22 NOVEMBER 1965
(KALIMAT DISENSOR). 
Reorganisasi dari Komando Operasi Tertinggi yang telah lama yang diharapkan diumumkan hari ini. Hasilnya adalah sebuah kompromi. Struktur baru dapat memperbaiki tangan militer di tingkat operasional, namun nama Sukarno dan tiga deputinya, diantaranya Subandrio, masih tercantum dalam "kabinet super" ini.

Kedubes di Jakarta mengatakan bahwa kepercayaan diri Sukarno semakin meningkat. Sang presiden memberikan kesan bahwa ia percaya kekacauan politik yang terjadi telah berlalu dan waktu semakin berpihak padanya. Namun, tidak ada perubahan secara aktual dalam posisinya saat ini dan tentara terus berjalan sendiri.

23 NOVEMBER 1965
Tidak ada perubahan penting hari ini. Para jenderal tetap meneruskan kampanye pembersihan komunis mereka, sementara Soekarno terus mencoba untuk membelokkan mereka dan mencari dukungan untuk dirinya sendiri. Kedua belah pihak sepertinya tidak ada yang mampu untuk memaksakan keunggulan.

Terlepas dari bagaimana hasil perseteruan di Jakarta, konfrontasi Indonesia melawan Malaysia cenderung berjalan seperti biasa. Semua pemimpin Indonesia, termasuk para jenderal, sepakat dalam hal melanjutkan perang melawan Malaysia.

Pertarungan yang terjadi saat ini sangat terbatas. Dalam beberapa bulan terakhir Indonesia telah membatasi diri pada patroli rutin dan operasi pengintaian minor di dekat perbatasan Kalimantan. (KALIMAT DISENSOR).

24 NOVEMBER 1965
Adam Malik, penasihat politik anti komunis dari jenderal-jenderal angkatan darat, tampaknya akan muncul sebagai salah satu kandidat pesaing politik bagi Sukarno.

Seorang staff Kedubes yang berbicara dengannya awal minggu ini terkesan dengan keteguhan hatinya untuk memainkan peran utama dalam mengubah kebijakan dalam negeri dan luar negeri lndnnesia. Malik mengakui bahwa perebutan kekuasaan yang terjadi saat ini telah menemui jalan buntu, namun menyatakan dengan tegas bahwa situasinya tidak akan dapat kembali seperti sebelum September.

Malik mengatakan bahwa ia dapat memahami beberapa alasan dari keraguan tentara untuk bertindak, meski begitu, Jenderal Nasution dikatakannya "cenderung menunggu terlalu banyak". Malik menyatakan bahwa ia bermaksud untuk menekan tentara agar segera menentukan langkah selanjutnya.

Informasi terkini yang masuk menunjukkan para pimpinan tentara cenderung hampir menentang semua perintah Sukarno secara prosedural, mereka tetap melawan Partai Komunis.

25 NOVEMBER 1965
Tidak ada berita tentang Indonesia pada hari ini dalam laporan CIA.

26 NOVEMBER 1965
(KALIMAT DISENSOR). D. N. Aidit, Pemimpin Partai Komunis Indonesia, ditangkap pada tanggal 21 November. (KALIMAT DISENSOR).

Komandan tentara di Sulawesi Selatan hari ini mengumumkan bahwa partai Komunis di Indonesia daerahnya telah dibubarkan, ini mengikuti pengumuman serupa dari Jawa Barat dan Maluku. Penangkapan anggota komunis di seluruh negeri sekarang telah mencapai angka 34.000.

Situasi ekonomi terlihat semakin parah. Pasokan beras menipis dan inflasi merajalela. Konsul Jenderal Indonesia di Hong Kong menyampaikan kabar bahwa pemerintahannya sangat membutuhkan pinjaman. Ia mengatakan bahwa dirinya telah diinstruksikan oleh para pemimpin tentara untuk menghubungi pejabat Amerika dengan harapan bisa mendapatkan bantuan tidak langsung.

27 NOVEMBER 1965
Tidak ada berita tentang Indonesia pada hari ini dalam laporan CIA.

29 NOVEMBER 1965
Harga-harga naik tajam sejak pekan lalu. Beras naik hingga 50 persen. Para pimpinan tentara mungkin akan disalahkan atas hal Ini, aksi Sukarno yang mengumumkan bonus besar kenaikan gaji untuk semua pegawai pemerintah dipastikan akan memperburuk inflasi.

Tentara telah menetapkan sebuah komite penyelamatan ekonomi untuk mencoba memperbaiki kekacauan ekonomi saat ini, tapi mismanajemen yang terjadi bertahun-tahun tidak bisa diselesaikan dengan cepat untuk meringankan tekanan pada tentara saat ini.

30 NOVEMBER 1965
Tentara terus mendapatkan kemajuan dalam melawan partai Komunis dan simpatisannya. Hampir seluruh pimpinan puncak partai tersebut sekarang telah berhasil ditangkap.

Seorang staf Kedutaan mengatakan bahwa ia mendapatkan kesan dalam wawancara dengan Sukarno baru-baru ini bahwa Sukarno sekarang sudah mulai bisa menerima tuntutan penghapusan Partai Komunis sebagai kekuatan politik.

Meski demikian, Sukarno tetap memiliki ruang gerak yang cukup. Tidak ada alasan untuk percaya ia telah berpaling dari keyakinannya bahwa unsur Komunis harus dipelihara sebagai penyeimbang menghadapi tentara dalam pemerintahan.

(Sumber: Arsip CIA, President's Daily Brief 1961-1969)/status Facebook Winston Zippi Johanes

 

Friday, September 29, 2017 - 13:45
Kategori Rubrik: