Langkah Sederhana Untuk Menguak Rahasia Tuhan

Oleh P.B. Susetyo dan S.H. Dewantoro

Bagaimanakah cara untuk mendapatkan pengetahuan hakiki tentang Tuhan dan kehidupan?  Para leluhur Jawa, mengajarkan tindakan praktis yang berbuah pengertian.  Semua bermula dari laku, baru kemudian muncul pengertian atau penjelasan konseptual akan realitas yang ditemukan.

Yang diutamakan bukanlah teori atau konsep melainkan pengalaman empiris.  Sebagai contoh, untuk bisa mengerti secara tepat tentang rasa pisang, apakah yang perlu kita lakukan? Yang perlu kita lakukan adalah memakan pisang itu, merasakan pisang itu.  Bukan menjejali otak kita dengan berbagai teori dan konsep mengenai rasa buah pisang.

Nah, lewat tindakan praktis memakan buah pisang, baru kita akan bisa mengerti rasa pisang itu.  Setelah kita mengerti rasa buah pisang, kita akan tahu hakikat atau esensi rasa buah pisang.  Setelah itu, kita bisa mengerti tentang kategorisasi atau jenis-jenis buah pisang berdasarkan rasanya.  Lalu, nalar kita akan berkembang kepada perkara-perkara lebih lanjut, termasuk tentang cara mengkonsumsinya. Kita bisa punya ide untuk memakan pisang secara langsung. Atau kita membuatnya menjadi pisang goreng, atau menjadikannya kolak, sele dan lainnya tanpa kita kehilangan rasa esensial dari buah pisang. 

Dalam kaitannya dengan kehidupan manusia, untuk bisa sampai pada jalan kehidupan yang tepat, justru perlu bermula dari mengerti secara tepat akan hidup dan sumber hidup.  Secara praktis, itu diterapkan dengan menyadari aliran nafas atau hambegan, lalu mengerti damparing kencana atau tahtanya Sang Sumber Hidup itu, yaitu di pusat hati, di telenging manah.  Melalui pengalaman kongkrit merasakan hidup, aliran hidup dan sumber hidup, kita akan tahu hakikat atau esensi dari hidup dan sumber hidup. 

Dengan bahasa lain, setelah kita merasakan dengan nyata kehidupan yang berdenyut di dalam diri kita sendiri, akan tersingkap bagi kita misteri dan esensi Tuhan yang dalam Ngelmu Jawa disebut Gusti atau bagus ing ati (nilai-nilai keluhuran di dalam hati manusia).  Baru setelah itu, kita bisa mengerti berbagai pola dan kategori jalan hidup, lalu kita bisa memilih jalan hidup yang serba pas, harmonis, selaras dengan tuntunan dari Tuhan atau Gusti untuk pribadi kita.

Adalah kurang pada tempatnya jika seseorang diberi berbagai aturan eksternal serta penyeragaman pola dan jalan hidup.  Meskipun itu beralasan untuk memastikan manusia berada di jalan yang benar dan sesuai kehendak Tuhan.  Banyaknya aturan yang datang dari luar diri, yang kemudian memenuhi memori kita dan menjadi rujukan dalam bertindak atau tidak bertindak, hanya akan membuahkan kelelahan.  Gusti tak akan bisa diraih melalui pola demikian.   Justru sebaliknya, kita perlu bermula dari tindakan sederhana yang bisa dilakukan semua orang, berupa ngetutke lakune hambegan

Dengan tindakan ini, seseorang pasti sadar bahwa Gusti itu jumbuh atau bersenyawa dengan dirinya, bahwa Gusti adalah hidup itu sendiri, dan bahwa Gusti  selalu menuntunnya. Lebih jauh, ia akan mengerti dengan jelas tentang tuntunan Gusti dalam berbagai perkara kehidupan. Bahkan, ia bisa mengerti akan berbagai perkara hidup yang rumit dan rinci.  Ringkasnya, bermula dari cara sederhana untuk menyadari kejumbuhan dengan Gusti, ia bisa mengerti hidup secara akurat dan rinci, bahkan mampu melampaui  apa yang dinalarkan. Lalu selanjutnya, ia bisa mempraktikkan pola dan jalan hidup yang serba tepat dan harmoni atau selaras.

Sunday, February 7, 2016 - 09:45
Kategori Rubrik: