Langgar Kami

ilustrasi

Oleh : Harun Iskandar

Ada satu ruang dalam rumah kami yang ndak begitu luas, hanya sekitar 10 meter-persegi. Tempat kami 'bersujud' kepada Tuhan kami. Yang 'resmi' minimal 5 kali sehari . . .

Kami pasang AC, juga kipas angin berlampu ditengah plafon. Ndak lupa juga pernak-pernik hiasan di dinding . . .

Ooo . . . Itu Mushola tempat sholat ? Bukan. Kami serumah sepakat menyebutnya sebagai 'Langgar' tempat kami 'sembahyang' . . .

Kok ?! Ya ndak kak-kok, kak-kok ! Karena kami orang Jawa yang 'kebetulan' Islam. Kebetulan, karena kami memang Islam dari warisan. Saya dan Nyonya dari orang-tua kami. Ke-dua anak kami, Anak Lanang dan Anak Wedok, dapat warisan dari kami berdua. Kami berempat jadi Islam bukan karena ''hidayah', juga bukan karena 'hijrah' . . .

Di tembok sisi hadap sujud ada Kapstok retro buat cantholkan Kopiah. Ada 'Kaligrafi' uang logam berpigura, kata 'Allah'. Ini mas kawin waktu kami, saya dan Nyonya, menikah dulu Rp.23.296, terbilang Dua Puluh Tiga Ribu Dua Ratus Sembilan Puluh Enam Rupiah. Kami memang menikah tanggal 23 Februari 1996.

Ada juga 'Asmaul-husna' tulisan tangan dengan tinta 'prada'. Antik dan kuno. Kata teman yang beri-hadiahkan ke saya, asalnya dari keluarga kraton Sumenep, Madura. Dulu sekali, dia dapat bareng sebuah keris. Dia sendiri seorang non-Muslim, makanya ketika ndak lama kenal, dia percayakan kepada saya untuk merawatnya . . .

Di tembok sisi depannya terpasang dua foto masjidil haram dan nabawi, ber-lubang2 kecil untuk tampakkan sinar lampu neon. Ini 'lukisan' standar rumah seorang 'haji' . . .

Di tembok hadap luar tersusun 18 pigura ukuran tanggung. Foto-foto saat haji dan umroh. Ada yang sendiri, namun mayoritas bareng2. Berempat atau bertiga . . .

Ada 'Jodang', peti kayu, retro berukir. Berisi sajadah dan rukuh, mukena. Quran dan terjemahan. Sikat untuk pembersih kopiah . . .

Di lantai terdapat sebuah wadah mangkok logam kuningan. Biasa buat tempatkan 'aroma terapi' bakar. Kemenyan moderen . . .

Di atas 'pintu' masuk nempel 3 piring keramik hias serta 'Blawong' kayu berisi sebuah Tombak pendek dan dua bilah Keris . . .

Biasanya, lantai keramik tertutup tikar lampit, tikar rotan Kalimantan. Namun sejak Januari lalu tidak lagi. Kena banjir.

Ada banyak kenangan dan cerita disitu. Setelah sembahyang dengar suara merdu Anak Wedok yang sedang asyik baca Qur'an. Nahan senyum saat ingat Anak Lanang yang kalau disuruh jadi Imam, sembahyang lebih cepat dari laju kereta api Jepang, 'shinkansen' . . .

Kalau besok libur sekolah, kami biasa nyantai 'glundhungan' di tikar lampit usai sembahyang. Ngobrol apa saja. Omong teman sekolah, guru, sampai nilai matematika. Kadang meledak tawa kami, respon 'lawakan' Anak Wedok . . .

Memang 'Langgar' kami ndak cuma berfungsi 'formal' keagamaan, sembahyang atau ngaji, tapi juga bicarakan, ceritakan, tertawakan, segala sesuatu, dan tak jarang bisa sampai pada analisa dan kesimpulan . . .

Ciyus ? Ndak. Lebih banyak nyantai dan cekikikan. Langgar, bagi kami merupakan tempat belajar, tempat 'nyantrik'. Belajar makna 'hidup' dan 'kehidupan'.

Tak hanya bagi Anak2, tapi juga bagi kami berdua, saya dan Nyonya. Dan belajar, apapun, ternyata tak harus selalu dalam suasana serius menegangkan dan dahi berkerinyit . . .

Dari 'laku' bicara, cerita, dan tertawa dalam 'Langgar' itu, bisa kami rumuskan banyak hal. Misal, begitu sederhana cara menyenangkan Tuhan. Mencari 'ridho' Tuhan, kata banyak orang . . .

Dari 'laku' bicara, cerita, dan tertawa dalam 'Langgar' itu, bisa kita maknai arti setiap orang adalah 'khalifah' . . .

Dari 'laku' bicara, cerita, dan tertawa dalam 'Langgar' itu, bisa kami tahu cara agar tetap semangat dan tegar dalam hidup, justru hanya jika kita pikirkan orang lain . . .

Dari 'laku' bicara, cerita, dan tertawa dalam 'Langgar' itu, bisa kami pahami cara agar kita bahagia, ternyata hanya dengan membuat orang lain gembira . . .

Dari 'laku' bicara, cerita, dan tertawa dalam 'Langgar' itu, kami bisa mengerti bahwa rejeki tidak hanya muncul sebab kerja keras kita, namun juga bantuan berkah dari sedekah kita . . .

Langgar kami telah sepi. Kedua Anak kami sekarang ada jauh berjarak ribuan kilometer dari kami berdua.

Namun kami, saya dan Nyonya, percaya, mereka tak kan pernah lupa semua 'pelajaran' yang mereka petik dari 'laku' bicara, cerita, dan tertawa itu. Meski cuma seumur jagung. Tak lama memang . . .

Bahwa, Tuhan itu bak sebuah wadah Maha Raksasa. Berisi penuh kebahagiaan, kasih-sayang, juga kegembiraan . . .

Tuang saja satu tetes kebahagiaan ke 'dalam' wadah itu, niscaya akan meluber setetes juga kebahagiaan. Bahkan tak jarang kita dapat dua atau tiga tetes, dua tiga gayung, dua atau tiga ember kebahagiaan. Kadang sampai tak terukur . . .

Dan kami percaya Tuhan akan sangat bahagia, jika kita bisa dan mau membagi kebahagiaan dan kegembiraan bagi lain orang.

Itu yang kami berempat, saya, Nyonya, Anak Lanang, dan Anak Wedok, memberi makna kata dan rasa syukur. Bukan hanya sekedar ucap kata 'hamdalah'. Dan syukur itu kami percayai akan selalu berbuah berkah . . .

Tabek . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Friday, June 5, 2020 - 08:30
Kategori Rubrik: