Lambang dan Demo

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Puteri bungsu saya bersekolah di SMA Negeri. Isinya 75% Cina, 85% Kristen. Sebagian dari mereka Kristen berorientasi gak jelas.

Dalam pertemuan dengan orangtua siswa, Kepala Sekolah menegaskan bahwa seluruh siswa wajib mengikuti upacara bendera dan memberi penghormatan kepada Sang Saka Merah-Putih. Saya melongo. Kenapa itu perlu ditegaskan?

Ternyata beberapa orangtua pernah datang bersama pendeta masing-masing menghadap kepala sekolah, minta agar anak mereka diberi dispensasi untuk tidak mengikuti upacara bendera. Para Pendeta menyatakan bahwa adalah terlarang bagi mereka untuk menyembah selain Tuhan. Penghormatan terhadap bendera dengan demikian dianggap sebagai praktik berhala.

Ketertutupan seperti itu ternyata bukan cuma milik HTI atau FPI. Beberapa sekte Kristen juga menganut pemahaman serupa. Hanya Allah yang patut disembah. Kepala saya gatal. Padahal saya keramas dua hari sekali. Padahal gak ada ketombe di rambut saya.

Sejak kapan Allah minta disembah? Pernahkah Anda membayangkan Jokowi marah kalau kita tak bersikap takzim padanya? Atau Obama bakal ngamuk kalau kita tidak bersikap hormat? Dua orang ini merubuhkan keangkeran Istana. Jokowi malah terpingkal mendengar seorang anak menyebut “kontol” sebagai salah satu nama ikan. Dia bersikap sangat rileks.

Jika Anda punya kekuasaan mutlak, Anda tidak bakal kecepirit memerintahkan semua orang menyembah Anda. Itu justru kerjaan penjahat. Dia cuma punya uang, punya jabatan, tapi tak berkuasa. Untuk menyatakan keberkuasaan dia menyuruh para pembantunya mengingatkan semua orang agar menyembahnya. Begitukah Allah yang Anda sembah?

Allah yang kita puja tak jarang—jika bukan selalu—adalah Allah yang menjadi ekspresi keinginan kita. Karena sering dianiaya, dikhianati, dicurangi, diselingkuhi, maka kita membayangkan Allah sebagai Kekuatan Maha Pembalas. Dia berkuasa mutlak, pikir kita. Dia tahu apa yang tersembunyi dari tindakan dan pikiran Anda. Kalau Anda berani menjahati saya, Dia akan membalas Anda sekian kali lipat.

Tak kurang dari Ahok, yang dipuja sekian juta orang, berpikir serupa. Kalimatnya dikutip jadi meme yang gentayangan dari bulan ke bulan. Jika Anda menjahati saya, kata Ahok, Anda berhadapan dengan Tuhan. Dia akan mempermalukan Anda.

Satu demi satu yang menjahati Ahok memang mendapat malu. Terakhir Jaksa Penuntutnya tewas di dalam Lion Air JT610. Lalu banyak orang meyakini kebenaran ucapan Ahok, percaya bahwa Allah bertindak untuk mempermalukan mereka semua. Saya nyaris kencing di celana. Maksud kalian apa?

Apakah pejabat korup, yang belakangan terkena OTT KPK, tidak akan tertangkap kalau dulu dia tidak menjahati Ahok? Saya pusing dengan logika model begini. Kalau sudah bawa-bawa Tuhan, semua orang jadi tolol.

Siapa pun yang jahat, entah kepada Ahok, atau kepada Jokowi, atau mencuri uang rakyat, atau menindas sesama, akan mendapat ganjaran. Tapi bukan Tuhan yang mengganjar. Emangnya Dia pengangguran lalu melamar jadi bodyguard kalian? Yang mengganjar kalian adalah Negara melalui badan Yustisi.

Dan negara punya bendera, punya lambang, punya lagu kebangsaan, punya Undang-Undang, punya Dasar Negara. Kalau kalian tidak setuju dengan itu semua, sila minggat dari Nusantara, bukan malah berdemo sehabis shalat Jumat.

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Friday, November 2, 2018 - 17:15
Kategori Rubrik: