Lakukan yang Bisa Dilakukan

ilustrasi

Oleh : Miftahul Hidayah

Sejak 2 Maret 2020, yaitu saat Presiden menyatakan 2 orang pertama positif Corona, saya sudah mendengar himbauan dari nakes untuk tetap tenang dan jangan panik karena sehatnya mental adalah salahsatu kunci kuatnya imunitas. Ah siap lah, aman!

Saya bukan orang yang panikan, bahkan dalam kondisi wajar panik pun saya tergolong orang yang tenang. Sampai hari ini saya tidak merasa perlu untuk membeli banyak-banyak hand sanitizer dan masker, karena kami sekeluarga bisa tetap produktif #dirumahaja. Jadi, himbauan untuk jangan panik ini saya terima sewajarnya saja.

Namun, siapa sangka, dengan ragam berita mulai dari kebijakan pemerintah, jumlah korban meninggal yang naik cepat, hoax bertebaran di mana-mana, bermunculan tokoh yang statementnya viral tapi.....(ilang sinyal), para dokter dan profesor yang gugur, ternyata membuat saya down banget.

Ternyata yang bikin mental saya ga sehat banget itu bukan kepanikan apakah saya akan terinfeksi, atau cemas kapan wabah ini berakhir, kapan hidup bisa normal lagi, atau udah mulai bosan di rumah, tapi karena ngerasa ga bisa apa-apa melihat chaos ini. Saya beneran sempat seharian ga bisa dan ga selera ngapa-ngapain.

Ternyata, saya enggak sendirian. Saya mendengar cerita yang sama dari teman-teman dengan reasonnya masing-masing. Di grup liqo saya, mentor saya, Teh Yuria Cleopatra langsung tanggap darurat. Malem ini temen-temen curhat soal kondisi mental, besoknya Teh Patra langsung ngajak liqo online (udah 2 minggu social distancing).

Teh Patra ngasih semangat dengan suntikan renungan Al Baqarah 153-157.

(153) Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat; sesungguhnya Allah adalah beserta orang-orang yang sabar.

(154) Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.

(155) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

(156) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan : Sesungguhnya kita ini dari Allah, dan sesungguhnya kepadaNya­lah kita semua akan kembali.

(157) Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Nasehat ini seperti saklar yang menyalakan lampu di sanubari saya yang sedang gelap. Kok saya bisa lupa ya, bahwa semua ujian ini pada akhirnya adalah kabar gembira bagi orang yang sabar. Dan mereka ini lah yang kelak akan mendapat anugerah, rahmat, dan petunjuk.

Akhirnya saya cerita ke mantan bos saya bu Perwitasari Mulyaningsih yang berprofesi psikolog mengenai apa yang saya rasakan. Jadi, saya harusnya bisa mengukur diri mana yang masalah saya, dan mana yang masalah orang lain. "Kita boleh berempati, tapi jangan jatuh pada simpati". Karena ketika kita ingin membantu orang lain, kita perlu keluar dari masalah dan melihat dari luar.

Kebijakan pemerintah yang dinilai tidak tepat, itu udah porsi (masalah)nya pemerintah. Kita rakyat jelita tetap fokus pada masalah kita (bisa berkontribusi apa). Para pahlawan kesehatan dan guru besar meninggal itu memang masalah bangsa, tapi itu sudah dalam qadarNya. Masalah saya adalah apakah saya bisa meneruskan perjuangan mereka dengan kemampuan yang Allah berikan pada saya. --baca Al Baqarah 154.

Saya baru ingat bahwa saya belajar memilah masalah ini dari dulu, tapi baru ingat setelah ngobrol dengan mantan bos saya tadi. Mungkin ini lah jawaban kenapa amar ma'ruf nahi munkar itu diwajibkan dalam islam ya. Manusia tea banyak lupanya.

Akhirnya saya ingat dengan nasehat Ustadz Adi Hidayat, bahwa kaidah muslim dalam menerima ujian itu ada 3 :

pertama di Al Baqarah ayat terakhir, bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ini dulu yang harus ditumbuhkan subur-subur. Allah menguji kita karena Allah tau kita sanggup.

kedua di Al Baqarah 153-157 tadi, bahwa ujian sesungguhnya adalah kabar gembira bagi orang yang sabar dan sholat.

ketiga di Asy-Syarh 1-8. Dan saya baru ingat saya punya catatan tentang ini dari kajian tafsir dengan teh Mila.

Sumber : Status Facebook Muftahul Hidayat

Sunday, April 5, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: