Laku Spiritual Menuju Kesempurnaan Hidup

Oleh Setyo Hajar Dewantoro

Laku spiritual niscaya mendatangkan perubahan pada diri.  Perubahan ini, laksana peristiwa metamorfosa dari ulat menjadi kupu-kupu.  Dimana ada momen sang ulat menjadi kepompong dulu, lalu pada waktunya menjadi kupu-kupu yang berwarna indah dan bisa terbang  kesana kemari.  Dengan laku spiritual yang sejati, seseorang dibawa kepada metaformosa menuju keindahan dan kecemerlangan sesuai cetak birunya.

Proses metamorfosa ini, tentu saja kadang terasa tidak mudah bagi yang menjalani.  Terlebih bagi seseorang yang selama hidupnya telah kadung tenggelam dalam pola nalar, pola merasa dan pola tindakan yang serba tidak pas.  Ketidaktepatan laku pada masa silam tentunya membawa dampak pada keadaan raga dan hidup saat ini.  Proses pemulihan dan penataan raga juga hidup, bisa terasa tidak nyaman bahkan menyakitkan.

Salah satu perubahan pada siapapun yang menjalani laku spiritual yang sejati adalah perubahan pada tatanan energi di dalam raga.  Bagi yang sebelumnya terbiasa melakukan ritual atau laku tertentu yang mengubah konstelasi atau susunan keadaan energi di dalam diri menjadi tidak sewajarnya, daya kosmik paling murni bekerja memulihkan dan mengembalikan pada kewajaran. 

Energi di Dalam Diri

Agar lebih jelas menyangkut perkara ini, perlu diurai terlebih dahulu menyangkut bentuk-bentuk energi yang mungkin bisa diakses manusia.  Pada prinsipnya, semua energi bermula dan bersumber dari Realitas Tertinggi, yaitu Gusti Yaktining Hurip.  Namun, ada pengaturan kosmik mengenai jatah energi bagi setiap titah hurip atau keberadaan.  Jatah manusia adalah energi yang memang muncul dari raganya sendiri.  Energi yang paling murni bersumber pada telenging manah.  Inilah energi spiritual, energi ruh, atau divine energy pada diri manusia.  Keterhubungan dengan energi ini menegaskan posisi manusia sebagai makhluk spiritual atau sebagai titah urip yang paling sempurna mengejawantahkan keberadaan Gusti.

Selain itu, di dalam diri manusia, bisa muncul energi dari proses metabolisme tubuh.  Inilah energi yang biasa dipergunakan manusia untuk bergerak, berpikir, bekerja, dan dinamai energi fisik.  Baik berada dalam kesadaran spiritual maupun tidak, manusia pasti selalu mendapatkan pasokan energi ini untuk hidup melalui proses hambegan atau bernafas, makan, minum dan tidur.  Selama organ-organ vital tidak mengalami kerusakan parah, manusia yang terus hambegan, makan, minum dan tidur, niscaya akan tetap bisa hidup di Planet Bumi ini.  Namun, energi fisik seperti ini, semakin besar ketika manusia mengolah raganya, seperti dengan push up, angkat beban, dan semacamnya.

Energi lain yang mungkin ada pada diri manusia adalah apa yang dikenal sebagai tenaga dalam.  Ini adalah energi yang pusatnya ada di titik di bawah pusar dan di atas kemaluan.  Energi tipe ini muncul ketika manusia melakukan pengolahan hambegan.  Sebagai contoh, dengan membiasakan pengaturan hambegan segitiga: tarik nafas dalam 8 hitungan, tahan nafas 9 hitungan, dan keluarkan nafas 7 hitungan.  Dengan energi ini manusia bisa melakukan berbagai perkara yang tidak bisa dilakukan sekadar dengan mengandalkan energi dari makan dan minum.  Sebagai contoh, dengan memiliki tenaga dalam, manusia bisa mematahkan sebilah besi dengan tangan, atau mengangkat barang yang sangat berat.  Bisa juga berjalan sangat cepat sampai memperingan tubuh sehingga bisa seperti terbang.  Energi seperti ini, biasa dimiliki para praktisi bela diri dari beragam aliran.

Energi lain pada diri manusia adalah kundalini yang bersumber di ujung tulang ekor.  Energi ini mengalir melalui saluran tulang sumsum.  Energi ini pada manusia umumnya bersifat potensial.  Bahasa populernya, belum aktif. Sekalipun kata belum aktif ini juga tidak pas.  Karena kundalini ini sebagai salah satu energi hidup, bagaimanapun pasti telah aktif, hanya intensitasnya atau kepejalan energinya pada setiap orang bisa berbeda sesuai dengan cetak biru dan laku hidupnya.  Melalui laku semedi atau meditasi, juga yoga, energi kundalini bisa ditingkatkan intensitasnya.  Kebangkitan energi kundalini bisa membawa sensasi fisik dan metafisik, dan mungkin juga memunculkan kekuatan-kekuatan yang tidak umum pada manusia.

Energi berikutnya adalah energi otak, energi pikiran, atau mind power.  Sumbernya adalah otak, dan lebih spesifik lagi adalah pineal gland.  Energi kategori ini, bisa ditingkatkan intensitasnya melalui meditasi dengan fokus pada pinal gland dan mata ketiga (perangkat semacam teleskop yang berada di kening, di antara dua mata, yang terhubung langsung dengan pineal gland).  Tradisi lain adalah Neuro Linguistik Programming dan hipnotis.  Ini adalah cara memberdayakan mind power melalui pengaturan bahasa.  Teknik yang bisa digunakan adalah sugesti, visualisasi kreatif, penjangkaran, dan semacamnya.  Dengan energi ini, seseorang bisa saja mengubah energi menjadi materi yang pejal.  Apa yang semula hanya muncul dalam imajinasi, ketika dialirkan emosi dan energi kepadanya, itu bisa menjadi kenyataan yang bergatra.  Dengan energi ini, seseorang bisa juga mempengaruhi orang lain bahkan mengendalikan orang lain.

Berbagai energi sebagaimana diuraikan di atas, ada karena memang ada perangkatnya.  Itu merupakan bagian dari keberadaan manusia.  Siapapun yang menyadari dan melakukan tindakan-tindakan untuk mengaksesnya, pasti bisa memiliki dan mendayagunakannya.  Maka, tumbuhnya berbagai tradisi yang membawa manusia bisa memiliki tenaga fisik, tenaga dalam, kundalini maupun mind power yang semakin besar, adalah sebuah kewajaran.

Namun yang perlu menjadi catatan adalah, energi fisik, tenaga dalam, kundalini maupun mind power, memiliki sisi rentan tersendiri.  Energi-energi itu bisa dipergunakan sesuai arahan dari nalar, mengikuti hasrat pribadi.  Maka, siapapun yang bisa menguasai salah satu atau semua energi itu pada tataran yang lebih besar ketimbang orang kebanyakan, sangat mudah tergelincir pada sikap kumalungkung atau merasa hebat.  Dan lebih jauh, ketika ambisi dan keserakahan ikut mempengaruhi, sangat mungkin manusia menggunakan energi yang dimilikinya untuk melakukan tindakan-tindakan yang merusak harmoni kehidupan.

Lebih dari itu, energi fisik, tenaga dalam, kundalini maupun mind power, tidak bisa memastikan manusia untuk sampai pada kesadaran akan kejumbuhan dengan Gusti.  Juga tidak bisa memastikan keterhubungan yang penuh dengan Gusti sehingga manusia bisa mengerti apa yang menjadi tuntunan dan pesannya.  Maka,  berbagai energi itu juga tidak bisa diandalkan ketika tujuan manusia adalah mencapai kamuksan atau sampurnaning hurip.

Laku Menuju Kesempurnaan

Yang bisa memastikan kamuksan atau sampurnaning hurip adalah penyadaran terhadap energi murni yang berpangkal di telenging manah. Energi yang tumbuh dan mengalir seiring keterhubungan dengan rasa sejati ini, membawa manusia pada kondisi kejumbuhan dengan Hingsun, sehingga pengetahuan dan daya yang dipancarkannya adalah daya Hingsun.  Pengetahuan dan daya Hingsun ini karakternya selalu membawa harmoni.  Siapapun yang prioritas hidupnya adalah terhubung dengan energi ini, kehidupannya niscaya  membawa harmoni.  Daya yang dimiliki tidak bisa dipergunakan untuk merusak harmoni semesta.  Ringkasnya, walau daya Hingsun adalah daya tertinggi dan terbesar di jagad ini, manusia yang telah bisa mengaksesnya justru tetap mesti rendah hati.  Karena kesombongan justru menutup akses terhadap energi ini.  Demikian juga niatan atau tujuan-tujuan destruktif yang muncul di benak.  Itu pasti mengunci akses.

Dengan laku spiritual yang menghubungkan diri dengan pusat energi murni di dalam diri, raga dikembalikan kepada pengaturan semula, sebagaimana ketika pertama kali dilahirkan.  Ini tentunya wajar ketika menimbulkan rasa sakit pada raga.  Karena ada tatanan yang dirubah, bahkan mungkin juga ada beberapa struktur energi di dalam diri yang tidak selaras dihancurkan terlebih dahulu.

Sebenarnya, dengan menjalankan laku tersebut, apapun kuasa yang bisa dimunculkan melalui pengaksesan berbagai bentuk energi lain itu, bisa muncul juga.  Dengan catatan, selama itu memang dibutuhkan dalam rangka penunaian tugas pribadi yang selaras cetak birunya. Sehingga sebenarnya cukuplah seseorang menjalankan laku kemurnian, plus berolahraga sewajarnya.

 

Saturday, March 19, 2016 - 07:15
Kategori Rubrik: