Laku Dalam Beragama

Ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Di Pesantren pada saat khataman kitab atau kenaikan kelas, biasanya Kiai memberi 'bonus' dengan mengijazahkan doa tertentu, seringkali doa itu disertai dengan puasa dengan tata cara khusus.

Ada yang dibaca dan disertai puasa 1,3,7, 40 hari, ada juga 1 hingga beberapa tahun lamanya. Selama puasa doa itu dibaca setelah selesai solat, ada juga yang bacaannya berupa beberapa ayat al-Quran atau satu khataman al-Quran, setiap hari.

Doa dan puasa khusus itu faidahnya bermacam-macam, ada yang sekedar hiburan seperti kemampuam makan segala jenis kaca untuk atraksi, ada untuk kekebalan, dan kekuatan lain. Dan banyak juga untuk mudah memahami ilmu, murah rezeki dan ketenangan batin.

Banyak kiai yang tidak menyebutkan faidah dari doa-doa itu, agar sipengamal ikhlas mengamalkannya semata karena Allah bukan untuk mendapatkan aneka keistimewaan tadi.

Doa yang diijazahkan ada yang murni berbahasa Arab, ada juga bahasa Arab yang dicampur bahasa-bahasa kuno, dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Sunda doa seperti itu disebut jangjawokan.

Ilmu asrar huruf, rahasia huruf ini sebenarnya ilmu kuno, ada dalam semua agama, semua tradisi, semua keyakinan, selain atheisme. Ibn Khaldun juga membahas dalam Muqadimahnya. al-Razi sendiri menulis tentang ilmu firasat salah satu bagian ilmu kanuragan.

Huruf-huruf itu dengan bacaan tertentu, puasa dengan hitungan hari yang khas, menjadi kunci pembuka bagi rahasia-rahasia supranatural yang bisa langsung digunakan oleh manusia.

Al-Jili juga menyinggung ini dalam Insan Kamilnya. Dari penjelasan implisitnya, saya memahami bahwa ketentuan dalam bacaan dan puasa itu untuk meningkatkan aspek ruhaniyah dan menekan aspeh hewani. Dengan sendirinya potensi non indrawi manusia terakumulasi menjadi kemampuan tertentu.

Jika Mukjizat dan karamat pada Nabi dan Wali adalah wahbi, anugerah yang tidak bisa diusahakaan, maka bagi manusia biasa potensi 'sejenis karomah' itu bisa digapai melalui upaya olah batin tadi itu. Penyebutan sejenis karomah hanya untuk mendekatkan pemhaman saja. Karena tentu berbeda antara keduanya.

Nah, NU, Nahdhatul Ulama menaungi, mewadahi, mengamalkan, menjaga, menjalankan semua ilmu yang bersumber dari Rasulullah saw, dari sahabat, wali dan ulamanya. Salah satunya apa yang disebut ilmu hikmah, ilmu kanuragan.

Sebab itu saya berkali-kali mengatakan NU adalah "penangkaran" khazanah Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw dalam semua dimensinya.

Meskipun demikian kata ulama, bacaan yang ampuh adalah bacaan yang tidak langsung terasa khasiatnya, seperti wirid-wirid ijazah Nabi yang popular, misalnya baca tahmid, istigfar, tasbih 33x setiap selesai shalat.

Dibawah kepemimpinan Ketum PAGAR NUSA senior, Pendekar Emha Nabil Haroen Full, disamping pencaksilat warisan leluhur kita, ilmu hikmat dan kanuragan yang mulai tidak dikenal generasi milenial dihidupkan kembali salah satunya melalui kegiatan Ijazah Kubro.

Monggo sami nguri-nguri ilmunya para Nabi para wali.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Wednesday, January 10, 2018 - 12:45
Kategori Rubrik: