Lahan Sumber Waras Yang Mereka Ributkan

Oleh : Eko Kunthadi

"Saya sudah selesai membuat design untuk mendirikan bangunan di bekas tanah Sumber Waras. Nantinya bakal ada 1000 kamar untuk penderita kanker dan 1026 kamar untuk penderita stroke dan kelumpuhan otak," ujar Ahok.

"Selain itu akan kami bangun juga 500 kamar mirip apartemen untuk pelayani berbagai penyakit lain. Jadi nanti, jika ada pasien yang sakitnya sudah mencapai stadium 4 dan dia miskin, kami sarankan untuk tidak dikembalikan ke keluarga jika rumahnya tidak layak. Dia bisa menempati kamar apartemen itu. Tetap dengan perawatan," sambungnya lagi.

"Agar pasien itu bisa meninggal dalam suasana dan kondisi yang layak," ujar Ahok. Dia berbicara mengenai rencana pembangunan RS Kanker dan Stroke di bekas lahan Sumber Waras.

Saya tertegun membaca pengalaman statemen itu. Ah, pak Ahok ini, membuat mata saya basah.

Terpampang di pelupuk saya, wajah-wajah pasien yang sakit. orang-orang miskin yang sedang mendapatkan ujian Allah. Ketika dokter sudah menyerah dan nafas sudah di ujung harapan. Mereka terbaring di kasur-kasur lapuk. Di dalam kamar yang minim pencahayaan. Tidur bersama kecoak dan bau bacin yang meruap menusuk paru-paru.

Keluarganya mungkin sudah menyerah. Tapi Allah belum juga menjemputnya. Di kamar yang kusam dan sempit itu, mereka terbaring dengan rasa sakit. Dia menunggu malaikat maut datang menghampiri dipannya yang reot.

Sebuah kematian dalam hidup yang buram di kamar yang suram.

Ahok berusaha memperhatikan bukan saja pasien yang bisa diobati. Bahkan pasien yang secara medis tidak punya harapan hidup pun, juga diperhatikan.

Agar orang bisa meninggal dalam suasana yang layak.

Saya jadi teringat spanduk-spanduk di beberapa mesjid yang menolak mensholatkan jenazah. Saya juga teringat twit Tengku Zulkarnaen yang menyerukan kepada semua cecungguknya untuk juga tidak mensholatkan mereka yang memilih Ahok.

Padahal Islam mengajarkan manusia menghormati jenazah. Bahkan Rasulullah yang mulia berdiri takzim ketika ada iringan pembawa jenazah lewat di depannya.

Nah, di Jakarta ada Gubernur non-muslim yang hendak meniru akhlak Rasul. Dia berusaha memuliakan jenazah. Dia berusaha membuat sarana agar di ujung usianya, orang bisa meninggal dengan kondisi yang layak. Dalam lingkungan yang baik.

Tentu saja semua warga DKI berhak mendapat fasilitas itu. Siapapun yang dicoblosnya dalam Pilkada. Appaun pilihan politiknya.

Tapi di sisi lain ada sebagian mahluk yang mengaku pengikut Nabi, justru mencibir ajarannya. Mereka terang-terangan ingin menistakan jenazah. Di ujung alasan itu hanya untuk berebut kue APBD Rp 100 triliun.

Jika kepada orang mati saja mereka bisa berlaku seperti itu, bagaimana mungkin mereka mampu mengurus orang yang masih hidup? **

Sumber : facebook Eko Kunthadi

 

Wednesday, March 8, 2017 - 10:00
Kategori Rubrik: