Lagu Jiplakan untuk Capres Kalahan

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Seorang pengamat musik senior memberitahu saya, bahwa lagu yang berjudul ‘2019 Ganti Presiden’ itu lagu jiplakan ‘Better Man’ yang dibawakan oleh Robbie Williams. Kasus penjiplakan lagu, bukan hal baru, bahkan dilakukan orang yang sama pada Pilpres 2014. Kalau dulu, orang mudah mengonanginya, karena mungkin dianggap hanya lagu untuk kampanye, yang biasa minjem lagu jadi dengan mengubah syairnya. Waktu itu yang jadi korban lagu We Will Rock You milik Queen.

Lha, kok kini, untuk Pilpres 2019, kasus sama terulang? Oh, jangan-jangan memang soal kapasitas dan moralitas, mengingat banyak lagu-lagu ciptaannya yang dulu ngehit ternyata hasil dari comot sana-sini, kemudian kayak main puzzle geser sana-sini? Ndilalahnya, si penjiplak itu kini juga dipastikan mendukung capres yang sama. Wong lagu ganti presiden itu maunya mengganti Presiden Jokowi. Siapa penggantinya? Rahasia! Namanya juga belum jelas, wong masih Poyang-payingan, gendulak-gendulik, apa sida apa ora, apa wani apa ora?

 

 

Wong belum deal siapa yang mau ngebayarin atau mau barter politik. Masih galau. Nunggu Jabar dan Jateng ini siapa yang jadi gubernur. Jangan-jangan cuma masyarakat Jakarta saja yang majoritas mudah diancam neraka, dan tak akan dishalatkan jika mati? Ya, kalau mati tidak dishalatkan, yang mati ‘kan bisa shalat sendiri, biar yang pada melayat jatuh cinta terbirit-birit. Lagian, ngapain takut dishalatkan, kalau agamanya Hindu, Buddha, Kristen, Khonghucu? Emang hanya yang beragama Islam saja yang boleh mati?

Maka jika pendukung fanatiknya sama koplaknya, jangan kaget. Seperti halnya si penjiplak lagu tadi, tahu ‘kan siapa yang dimaksud? Moralitasnya dalam karya seni saja meragukan. Bagaimana pula hidupnya, yang makan dari hasil jiplakan? Sama persis keluarga koruptor, yang blangsak karena makan duit colongan.

Pada kenyataannya, para yang menyebut (atau mengelompokkan diri) elite, bagian dari selebritas, hanya melihat kemudahan dan kenikmatan dirinya. Mangka dari itu, jika jaman berubah, dan hidup mereka sedikit menderita, mereka mudah ngamuk. Terus ngomong diwolak-walik. Persis otak kampret, akibat tidurnya menggantung diri dengan gaya akrobatik itu. Karena kerap tidur dengan posisi itu, para kampret bisa jadi tak sadar, otaknya mlotrok ke dengkul.

Akibat tidur kebalik itu juga kalau ngomong bisa jadi diwolak-walik itu. Misal; Jokowi baik, mereka bilang jelek. Misal lho, nggak usah baper. Nanti dikira kampanye. Atau ambil contoh sebaliknya, biar nggak keki. Dikatakan misal Prabowo baik sekali. Padahal? Mau saya tuliskan, atau tafsir sampeyan yang meneruskan kalimatnya?

PKS dan Amien Rais cum suis, sangat pakar dalam hal membolak-balik itu. Beda dengan Gerindra, masih terbata-bata. Kosakata politiknya terbatas. Sehingga yang muncul adalah komentar-komentar yang jadi boomerang, baik lewat Ferry Juliantono, Fadli Zon, dan bahkan Prabowo yang bisa asbun, alias asal nyabun tangan, one man show, atau monoplay.

Ya, orgasme memang bisa dicari lewat jalan apapun. Ada temen saya yang sambil nyetir mobil. Gimana bisa? Ya, nyetir sambil monoplay! Jadi presiden juga bisa presiden-presidenan. Jadi gubernur, ya gubernur-gubernuran. Nanam pohon? Ya, pohon plastik berdaun sirih berbuah dada.

Maka soal nyipta lagu? Ya, lagu-laguan. Apalagi untuk pilpres. Tidak mudah kita percaya dibilang ini gratisan, atau perjuangan dan doa. Halah gambis! Perjuangan mbahmu. Wong untuk bisa yang-yangan dengan Neno Warisman juga nggak gratis toh? Berapa harga jilbab yang dipakainya untuk syuting movie video kemarin? Nraktir dia, meski sekedar takjilan di masjid, kan juga keluar biaya jalan kaki dan whatsappannya?

Ya, karena jaman berubah. Aneh kalau Soeharto longsor kita menginginkan Prabowo., apalagi Tomi Soeharto sebagai penggantinya. Perubahan jaman itu kepastian. Tak menunggu siapa presidennya. Jokowi hanya mengikuti alurnya saja. Apalagi dia bukan orang bodoh dalam berpolitik. Ia pembelajar yang baik, karena ia mau mendengarkan, juga memperhatikan.

Bodohnya ‘musuh’ Jokowi saja, hadir kayak Buta Cakil. Muncul hanya untuk mati, dan menunjukkan bahwa Arjuna yang sakti. Namanya juga Buta Cakil, pethakilan bangga, menunjukkan kedunguannya sendiri, persis filsuf kedunguan kita, yang sempat ngehit tapi diam-diam kini terdiam. Sadar dirinya terlalu inosens memperkuat panggung orang. Dia sih cuma menikmati orgasme intelektualnya saja.

Tapi demikianlah dunia. Minyak campur minyak. Air campur air. Kalau keduanya dicampur? Bisa. Maksudnya, bisa tidak nyampur. Kita tunggu lagu jiplakan berikut, dengan capres kalahan berikutnya.

 

(Sumber: Facebook Sunardian Wirodono)

Sunday, June 10, 2018 - 01:00
Kategori Rubrik: