Lagi, Membincangkan HTI

Ilustrasi

Oleh : Fuad Adi

Mendiskusikan teroris dan radikalisasi bersama mantan teroris ternyata tidak selalu berada dalam ketegangan suasana.

Menyimak diskusi jelang buka puasa yang diadakan oleh EIN Institut dan Pelita dengan tema "Memahami Proses Radikalisasi Keluarga Pelaku Teror" membuat saya bertahan hingga akhir dan dengan rela hati membatalkan hadir pada acara berlabel sama, Buka Bersama. Bedanya di sini diskusi di sana tausiah. Sama-sama mendapatkan ilmu.

Dan pada kesempatan ini bukan sebatas substansi tema diskusi yang bisa saya peroleh, tetapi mendapatkan salah satu sudut paradigmatik dari salah seorang narasumber, kebetulan sahabat lawas yang belasan tahun tidak bertemu, Prof. Sumanto Al-Qurtubi. Narasumber lainnya, Yusuf Adirima, seorang mantan narapidana terorisme.

Dari Prof. Sumanto, saya melihat betapa persoalan dalam nalar biasa merupakan hal pelik dan cenderung menegangkan, tetapi bisa beliau dudukan sebagai hal yang ringan dan diutarakan dengan humor saja.

Misalnya ketika menjawab pertanyaan mengenai fenomena artis dengan semangat keberagamaannya menyatakan dirinya telah hijrah, lantaran perubahan cara berbusana dari tidak berhijab menjadi berhijab. Termasuk maraknya perempuan bercadar di Indonesia.

Beliau menjawab dengan enteng saja, "hijrah kalau di Pakistan malah penyebutan kelompok LGBT".

"Dan soal cadar, selama saya di Timur Tengah, saya tidak menjumpai perempuan bercadar itu karena motiv melaksanakan syariat, itu hanya tradisi saja. Dan sebetulnya ada yang lebih penting untuk ditutupi selain wajah, ... ", beliau menyebutkan bagian rambut tertentu dari bagian sensetif manusia dan peserta secara menerima saja.

Lebih lanjut beliau sampaikan, "sepanjang saya pelajari ternyata keberagamaan masyarakat Indonesia itu tidak ada yang serius, mereka tidak lebih mementingkan yang seharusnya menjadi penting, contohnya masyarakat lebih mementingkan Lebaran daripada puasa, padahal yang wajib kan puasanya bukan lebarannya. Ini bukti ketidakseriusan".

Dan apakah Anda tahu, kenapa di nusantara ini lebih banyak Islam daripada Kristen. Secara antrapologis, masyarakat nusantara ini mengikuti apa dan bagaimana pemimpinnya. Karena pada waktu itu raja-raja nusantara banyak memilih agama Islam, maka masyarakatnya juga mengikutinya. Dan apakah Anda tahu kenapa raja-raja Nusantara lebih memilih Islam daripada Kristen? Sederhana saja, karena raja lebih memilih memilki satu Tuhan dengan tiga istri daripada tiga Tuhan dengan satu istri. Dan seluruh peserta dari berbagai agama ini tertawa saja mendengarnya.

"Dan setelah itu, apakah raja-raja itu serius berislam, tidak".

"Jadi keberagamaan masyarakat di Indonesia ini masih banyak yang sekedar mengikuti tren saja. Banyak masyarakat berumrah, apakah mereka semunya benar-benar beribadah, sebagian barangkali iya, tetapi sebagian yang lainnya, berwisata, berselfi dan foto-foto"

Ketika ada pertanyaan, "kenapa wahabi-salafi itu gampang saja diterima oleh masyarakat?"

"Iya karena tidak membutuhkan otak, mereka kan gampang saja menyatakan ini haram, ini halal. Karena semakin tinggi keilmuan agama seseorang, semakin alim seseorang, maka beliau tidak akan mudah menyatakan halal atau haram, beliau mempertimbangkan banyak hal dan pemikiran sebelum memutuskan suatu hukum".

Menyampaikan hal "sensitif" dengan pikiran merdeka di depan publik, saya meyakini ada segudang basis keilmuan yang telah dikuasainya, ada sekian sudut pandang yang telah dipahaminya. Sehingga resiko akan timbulnya polemik dari apa yang disampaikan telah benar-benar diukur dan siap dipertanggungjawabkan. Karena ada inti yang telah digenggamnya.

Ketika orang sudah bisa melihat dan menentukan mana yang penting dan tidak penting, mana yang inti dan bukan, segala hal menjadi biasa saja dan semua bisa dihadapi dengan senyum, bahkan persoalan pelik menjadi sumber humornya.

Sumber : Status Facebook Fuad Adi

Friday, June 1, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: