Kyai Mata Air

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Jauh belum jaman medsos, mungkin jaman friendster, tapi kami anak pondok tidak punya akses terhadap hp ataupun internet (warnet). Frienster punah sebelum kami sempat berkenalan.

Baru bisa rental warnet setelah terbentuk tim karya ilmiah tamatan, tiap angkatan satu tim. Untuk membantu mencari positioning subjek buku, kadang-kadang rental warnet. Jarang sekali, karena ijin keluar pondokpun sangat terbatas.

Nah, website yang sering saya kunjungi website Gus Mus. Tulisan-tulisannya, riwayat hidup beliau, foto-foto masa muda dan keluarga beliau. Saya sampai bosan, menanti ada foto baru, kisah hidup baru, di website Gus Mus.

Waktu itu jarang sekali ada tokoh yang punya website pribadi yang dikelola secara serius seperti itu. Tokoh luar yang punya web Dr. Wahbah Zuhaili, Syekh Ramadhan al-Bouthi, ditanah air kayaknya belum ada tokoh yang punya interest ke arah itu. Sekaliber Cak Nur pun, website pemikirannya baru dilouncing baru-baru ini kan.

Gus Mus (saya rasa saya latah memanggil beliau dengan sebutan Gus, karena dihadapan beliau saya tidak berani memanggil Gus hhhe) sudah menduga, di internet perlu ada kesejukan, karena beliau tahu di medsos bakal gaduh, panas seperti sekarang.

Saya tidak sempat bertanya kepada beliau saat bertemu, soal gerakan "Mata Air". Selain website, ada juga majalah, sangat bagus, waktu majalah aula masih pakai kertas koran, majalah kertas, layout dan gambar mata air sudah sebagus majalah aula saat ini.

Bahkan meski riak-riak ada juga mata air versi videonya dalam chanel youtube. Tapi bagi saya, beliau sangat futuristik, sebelum gojek, tokopedia, bukalapak diinisiasi, Gus Mus serius membuat gerakan Islam ramah, Islam Cinta, atau Islam saja yang artinya damai, tanpa inbuhan radikal (Islam radikal) di internet.

Sayang, gerakan seperti ini, seperti kampanye menanggulangi climate change (pemanasan gloobal)nya greenpeace, mangobay, fahmina, Gus Durian, dan gerakan sejenis, menjadi narasi 'pinggiran', tidak menjasi arus utama, nyaris tak terdengar.

Beda dengan komplotan penyuka simbol dan angka-angka itu, meskipun hanya segelintir orang tapi terdengar sangat gaduh dan bising.

Selain itu, bagi saya Gus Mus, adalah contoh sempurna manusia yang selesai dengan dirinya. Teladan paripurna. Sikap, perilaku Gus Mus lebih fasih menjelaskan apa itu Islam, daripada ribuan da'i dimimbar dakwah dengan bantuan sejuta pengeras suara.

Disaat nyaris semua orang memburu harta, jabatan, reputasi, dan sorotan, Gus Mus lari dari harta, dunia dan jabatan. Kita berdoa, semoga Gus Mus panjang umur, dan selalu sehat.

Kita telah kehilangan banyak mata air, dan disaat seperti ini, kita belum siap kehilangan oase-oase yang masih tersisa, yang selalu memberi kesejukan itu. Panjang umur duhai Kiyaiku.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Wednesday, February 27, 2019 - 08:15
Kategori Rubrik: