Kutawarkan "Racun" Padamu Perempuan

ilustrasi

Oleh : Nana Padmosaputro

“Mbak... suamiku sering banget bohong. Pamitnya pergi mancing sama teman cowo semua, nggak tahunya reuni SMA. Aku lihat di facebook teman seangkatannya.”

“Sering tuh bohong nggak penting kayak gitu. Ngaku ke aku nggak punya duit, jadi dia ogah diajak nonton bioskop. Eee abis itu bisa beliin baju buat keponakan. Aku tahunya ketika ipar telpon, ucapin terimakasih melalui aku.”

“Kalau lagi bener, dia hobi banget kasih bukti foto kemana aja dia pergi dan ngapain.... Makan siang ketoprak aja, dia fotoin, terus dikirim ke WA ku. Tapi setiap kali sedang pergi yang bikin dia merasa bersalah sendiri, tiba-tiba perilakunya yang demen kasih barbuk itu, berhenti. Bisa seharian nggak ada kabar. Ditelpon-telpon juga nggak diangkat.”

“Aku juga nggak pernah tahu berapa gajinya.”

“Aku jadi nggak bisa percaya deh, setiap kali dia bicara.”

******

Semua kalimat itu kubaca di messangerku.

Lalu kuketik balasan begini :

“Problem dengan pembual, itu umumnya ada pada ekspektasi kita sendiri. Persoalannya adalah : KITA SANGAT INGIN PERCAYA KEPADANYA.”

“Kita berharap dia jujur, supaya KITA BISA PERCAYA KEPADANYA.”

“Pernahkah kamu sebal pada tukang jual obat yang sibuk ndobos di perempatan pasar malam?”

“Jika kamu nggak punya rencana untuk menumbuhkan brewok dengan minyak goreng yang dia klaim sebagai obat penumbuh rambut itu.... Maka kamu nggak akan pusing dengan apapun yang diocehkannya kan?”

“Tapi mbak, kami kan suami istri....” dia
menulis jawaban begitu.

“Kenapa, kalau suami istri?” tanyaku balik.

“Ya kan suami istri mustinya saling terbuka dan jujur....”

“Oke. Mustinya. Tapi kenyataanmu, gimana? Kamu mau ngapain dengan kenyataan itu?”

“Nggak tahu.... menurut mbak Nana aku harus gimana....?”

“Ya aku nggak tahu, wong itu suamimu dan pernikahanmu. Kamu yang jalanin, ya kamulah yang tanya ke dirimu sendiri : kamu inginnya gimana dengan sikonmu ini....?”

“Kalau mbak Nana jadi aku, mbak Nana akan ngapain?”

Hahahahahahaha aku tertawa membaca pertanyaan ini.

Selalu gitu deh. Orang-orang menyodorkan permasalahan hidupnya, tapi aku yang disuruh mikir.... Sesudah itu, aku juga yang diminta berandai-andai, seumpama aku ada di posisi mereka.

Kukasih tahu ya..... #SEANDAINYA aku tipe orang yang bisa toleran pada ikatan pernikahan yang merepotkan dan ngabisin energi (karena berpasangan dengan orang yang punya masalah ejakulasi, ‘gatal’ dengan lawan jenis, gangguan emosional atau psikologis)....barangkali sudah sejak dulu-dulu aku rela menikah lagi.

Boleh ya...? Mbesuk-mbesuk jangan bertanya soal penikahan kepadaku lagi.

Karena jawabanku bakal simpel :
Kalau sudah nggak tahan, ceraikan.
Kalau masih mau bertahan, jangan mengeluh.

——-
Catatan : di bawah ini adalah beberapa alternatif yang bisa diambil, jika kamu tak bisa percaya pada pasangan yang hobi bohong.... tapi nggak (atau belum) mau bercerai.

Jadiin tontonan aja, say.... Orang bohong itu lucu kok salto-salto logikanya. Temukan rasa humor pada dirimu, agar hidup ini jadi terasa mendingan.... 

#YBS_sudah_dapat_solusi.
#aku_diijinkan_menulis_kisah_ini

Sumber : Status Facebook Nana Padmosaputro

Tuesday, August 11, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: