Kutandai Kau, Ahok! Kutandai Kau!

Oleh: Denny Siregar
 

Awas ya, kutandai kau, Ahok..

Kutandai kau karena sudah menggusur warga yang selama ini tinggal ditempat kumuh, jauh dari sehat dan layak. Kau pikir hidup kami tidak enak ?

Kami selama ini hidup enak, tau kau... Kalau banjir kami diliput tv. Dapat sumbangan dari mana-mana, tak usah kerjapun tak apa. Belum sumbangan dari LSM luar negeri yang kasian liat kami. Kalau kau beri kami tempat layak, itu LSM buat orang miskin jadi tak makan. Kau hilangkan pulak rejeki orang-orang itu. Dimana nurani kau...

Tak usah kau pikirkan anak-anak kami. Kami lebih tahu dari kau. 40 tahun kami disini beranak-cicit tak apa. Anak kami tak mengeluh, meski mereka selalu gatal2, TBC, demam berdarah.. Kami terbiasa begini, tahu kau..

Dulu kami juga begitu. Lihat sekarang kami sehat saja. Ya kami tularkan-lah ke anak kami hidup seperti ini. Ini kan sejarah. Ini budaya. Sejarah dan budaya jangan dihilangkan dr wajah kami. Kemiskinan bisa dijual kemana-mana, kalau perlu jadikan tempat wisata. Kau hilangkan pulak periuk nasi orang, bah... azab kali kau.

Kau turunkan pulak tentara waktu penggusuran. Apa pulak maksud kau, Ahok ? Kejam kali kau. Kami sudah siap mau bikin chaos, kau cegah pulak. Hilang nasi bungkus kami, padahal aku sudah pesen yang karet dua. Segan kami sama baju ijo loreng itu. Kalau yang coklat-coklat aja, sudah kami lempar batu mereka. Ah, kau rebut lagi periuk nasi kami... Payah kau..

Apa tak kau pikirkan pilkada nanti kalau kami tak berikan kau suara ? Kan lebih enak kau duduk,duduk saja, biar kami tetap miskin begini asal kami disini. Pasti kupilih kau. Apa pulak kau pake gusur2 segala ? Kau rebut rejeki kami, kau kasi pulak ke politikus-politikus itu. Mereka enak, jual nama kami diundang bicara di stasiun tipi. Sekali datang, minimal 5 juta rupiah hanya untuk caci maki. Lha, kami ? Dapat ampasnya saja sudah bagus kali... Awas ya, kutandai kau....

Tak usahlah kau coba memanusiakan kami. Sudah puluhan tahun kami tak dianggap manusia. Dibiarkan begini, yang penting kasi suara. Sudah jadi kebiasaan kami kumuh begini, trus harus kami salahkan siapa kalau mental kami mental miskin selamanya. Miskin itu kutukan, tahu kau... Siapa pulak kau yang mau robah-roboh kutukan kami. Dewa kau ? Contoh pejabat-pejabat lama... Kau lebatkan kumis saja, ngapain pulak kau perhatikan kami ?

Kau kasih rusun pulak kami dengan semua isinya. Apa pulak kau mau merubah derajat kami ? Kami ini dr dulu miskin, tau gak kau ? Ini terlalu mewah. Kami tidak biasa beol pake gayung, dulu kami tinggal plung saja. Sikat gigi dan mandipun di tempat yang sama. Kau mau rubah nasib kami ?

Kami tidak biasa begini, catat ya.. Lingkungan bersih, terawat itu bukan budaya kami. Ah, macam mana pulak kau.. Tanya JJ Rizal, sejarah kami dari dulu begini ini. Kau cuman bisa tata kota, bukan ahli sejarah. Kimbek kali pun.

Ah, ada kulkas pulak di rusun ini. Mau nyuap kami, kau ? Tipi ma kompor gas-pun kami dikasi. Trus kami harus bayar sewa, gitu ? Apa ? Sewa itu untuk kebersihan rusun sendiri bukan untuk pemprov DKI ? Ah, macam mana pulak.. Kenapa tak kau ambil pulak uang kami, bisa kaya kau nanti. Selama ini kami bayar ke preman utk tinggal disana, sekarang kami harus bayar untuk kepentingan diri kami sendiri ? Logika mana yang kau pakai ? Awasss.. Kutandai kau, ya... Kutandai.

Tak enak pun, ngopi di rusun ini kalau pagi. Tak ada bau eek yang kami rindu. Tak ada yang mengambang di kali yang jadi wisata mata kami. Apalagi nanti kami tak kebanjiran, tak pakai ngungsi-ngungsi... Kami rindu perahu karet itu.. Rindu kali kami.

Bentar, kubaringkan dulu badanku di kasur ini. Ah, nyaman kali pun.. Eh, tak usah kau geer, ahok.. Jangan kau biasakan kami dengan kenyamanan ini. Kami sudah nyaman dengan segala kebusukan disana. Kami sudah bersahabat dgn udara lembab dan nyamuk yg besa-besar. Mana nyamuk itu sekarang ? Manaaa ? Mereka pun tak betah disini, apalagi kami...

Minum kopi dulu lah kau ahok... Biar anak kami nanti yang terima-kasih sama kau. Kami ? Ihhhhh... Gengsi boook... Iya, kan pak Yusril ? Iya kan bu Sarumpaet ? Iya kan wanita ber-gigi emas ? Mana Ahmad Dhani ? Mana ?? Tak adil kali dia, dulu di Kalijodo nyusui anak orang, disini tak disusui-nya pulak anakku..

Udah dulu, koh... Capek kali pun aku merepet. Kucari-cari saluran tipi baru ini. Rasanya ini tipi palsu pun, tak ada acara terjun dari monas itu...

Ahhh..ngopi aja dulu lah aku. Malas kali kupikirkan semua ini...

 

(Sumber: Facebook Denny S)

Tuesday, April 12, 2016 - 10:45
Kategori Rubrik: