Kursi, Oposisi dan Posisi

Oleh: Iyyas Subiakto

 

Ramai diperbincangkan rebutan kursi dlm koalisi dan incaran nakal kaum oposisi, dalam jeda kecil atas kesedihan kita atas berpulangnya Pak Sutopo, dan rasa senang kembalinya Audrey, namun membahas "kursi" masih cukup seksi, karena ada birahi yg datang dan pergi.

Adalah cerita bocoran Demokrat yg konon Gerindra minta kursi bidang ekonomi. Jadi lari sana sini sblm ini seolah tak mau bertemu Jokowi dan pasang harga tinggi cuma naikkan harga tawar yg liar untuk mengambil posisi.

 

 

Kalau bicara kursi dan kedudukan, ada istilah tempat basah dan kering. Budaya ini sdh begitu merusak, jabatan adalah sebuah amanah sudah punah dan musnah, kl skrg Jokowi yg masih memegang kaidah itu, apakah itu awal berseminya kembali sebuah akhlak ttg kebaikan yg lama hilang, atau sebuah pembanding, bahwa Tuhan datang mengingatkan, jabatan adalah amanah yg minta pertanggung jawaban, bukan kesempatan berubah jd setan.

Minggu ini ramai manusia murahan apakah mereka petinggi partai, ketum, dst, bermanuver mengincar jabatan, atau kursi menteri. Nasdem minta 11, PKB nyuwun 10, dst. Saya agak kaget kok Nasdem jd keluar aslinya. Karena dari awal sy mbatin apakah SP sdh jadi sufi, sampai ngecat pesawat dgn nama Jokowi dan statement yg cetar " percuma Nasdem menang, kl Jokowikalah" , aha..politik sll menggelitik. Sekarang aslinya datang juga, tdk ada mie aceh pedas, tanpa harga. Begitu juga Cak Imin atau Muhaimin is Kandar, yg awalnya mencawapreskan diri dgn billboard dimana mana, Muhaimin cawapres, walau jualannya kukut gak nutut, namun stigma bahwa jabatan adalah sebuah impian yg menggiurkan tdk dapat ditepis bgt saja. Sekarang PKB ikut lomba lari narik kursi.

Kita anggap saja semua sudah biasa, eh tunggu dulu, urusan kursi ini menarik krik krik..kalau oposisi saja minta kursi yg ada nama dan harganya, apa koalisi mau dikasi sembarang kursi tanpa nama, ntar dulu Jack.

Khabar burung, PKB minta kursi menteri Desa Tertinggal dan melirik kursi yg diduduki Bu Susi. Ada apa disana, apa isinya, berapa volumenya. Lupakan Desa Tertinggal yg hanya diisi budget dana pembangunan, tapi ntar dulu, bgmn dana desa yg bakal ngucur nyaris 200 T pd 2020, masih bs bocor atau malah ngocor. 

Kelautan, stlh diberesi Bu Susi disana masih banyak ruang yg bs didaur ulang dikembalikan seperti saat zaman ikan minum solar. Ingat kapal kementerian perikanan zaman sblm Bu Susi, ngabisin dana 3T per tahun, incomenya cuma 300 M, jual solar subsidi dilaut kepada kapal asing berkolaborasi dgn aparat. Jutaan ton solar subsidi jadi minuman segar para pencuri. 

Ribuan kapal ikan asing mencuri ikan dgn subsidi solar dari Indonesia, luar biasa bijaknya, dan yg punya kapal konon banyak pejabat di Senayan, dan angkatan. Ikan busuk dimulai dari kepalanya, kata Prof. Sjafi'i Ma'arif.

Kursi satu hal, tapi kalau sudah kursi plus posisi, pasti ada sesuatu yg diniatkan, width and depth, luasannya dan kedalamannya. Rujak cingur itu bukan cuma bumbunya kata orang Surabaya, anda mau yg cuma ada baunya atau yg memang ada congornya. Aha..

Saya berbisik ketelinga kuda, ngik..ini masa transisi, kadang kasian Pak Jokowi, walau sudah diujung zaman, tapi menghabisi sisa perajurit orba gak bisa seketika. Penggantian ini akan makan waktu lama, hanya saja kita berharap sisa yg masih ada segera tobat, tidak mati sesat.

Kebayang menteri muda, Audrey, PSI, semoga darah muda ini tahan godaan dan kuat dalam tekanan. Karena lebih gampang menyelam dalam lautan tekanan, daripada berenang diantara pendosa yg tak pernah merasa berdosa atas perbuatannya.

Kursi, oposisi, dan posisi jadi satu ngerubuti Jokowi..nanti akan kelihatan waktu pelantikan, yg nongol negarawan, atau badut mainan..

(Sumber: facebook Iyyas Subiakto)

Monday, July 8, 2019 - 16:15
Kategori Rubrik: