Kunjungan Menlu AS dan Pulangnya Sang Pelarian

ilustrasi

Oleh : Supriyanto Martosuwito

Menjelang pulangnya sang pelarian dari Arab Saudi, beredar info bahwa operasi intelejen Amerika ikut memberikan dukungan. Dukungan yang diberikan tentu saja dengan misi.

Misi yang diemban sang pelarian nantinya adalah mengobarkan isu anti China, anti Komunis dan ekonomi Indonesia yang dikuasai dan "dijajah aseng". Seperti yang sebelumnya.

Menu tambahan : "rezim anti ulama" -
"rezim pro komunis". Hapalan lama!

Amerika memang makin keteter menghadapi kedigdayaan China yang berjaya di ekonomi dunia saat ini - sementara negeri mereka masih dirongrong Covid 19 dan krisis ekonomi. Di sisi lain, AS adalah Satpam Kerajaan Arab Saudi. "Tanpa perlindungan kita, Arab hanya bertahan dua minggu (dari serangan asing), " kata Donald Trump!

Maka tak sulit mencomot satu keluarga warga asing yang bermasalah dengan imigrasi. Cuma kesulitan bayar visa. Sekoper dollar beres.

Sementara dari dalam negeri, Pak Kumis konon menyiapkan berkoper kopor uang lainnya untuk jemputan dan penyambutan dan diplot dukung Wan Abud sebagai RI 1 berikutnya.

Jangan heran bila isu SARA berkobar lagi. Toa di masjid masjid dan majelis taklim dioptimalkan lagi. Pakai gaya Tunisia lagi.

"Jika ingin menguasai orang bodoh bungkuslah kebathilan dengan agama". Begitulah dalil/adagium Ibnu Rusyd, filsuf Andalusia, yang masih ampuh. Lihat saja Aqua dan susu SGM jadi sasaran.

Kemaren dengan ayat dan mayat sukses menendang Ahok BTP dari Balaikota DKI Jakarta. Kali ini sasarannya Istana Negara.

Ada simbiosis mutualisme. Amerika akhirnya menemukan juga siapa kubu lokal yang anti istana berikut sumber logistiknya. Kartu "truft" tengah dimainkan. Ada banyak yang ngambek karena tidak diajak di kabinet. Mending rusuh saja!

Benar juga pak mantan panglima itu : ada proxy lagi main di sini.

Ngapain ngirim kapal induk Armada VII ke Lautan Hindia, buat gertak-gertak - kalau dengan teriakan ayat, mayat dan nasi bungkus ormas bisa turun dan kerahkan massa berjuta juta?

PEKAN LALU Menlu Amerika Serikat Mike Pompeo mengingatkan betapa bahayanya Komunis China bagi Indonesia. Dia menyatakannya saat berpidato di depan Gerakan Pemuda Ansor, organisasi sayap kepemudaan Nahdlatul Ulama, ormas terbesar di Indonesia.

Peringatan yang terdengar sangat "Orba sekali" - tapi masih mempan di benak kaum puritan radikal. Faksi Militer kubu pro Cendana.

"Ancaman terbesar bagi masa depan kebebasan beragama adalah perang Partai Komunis China terhadap orang-orang dari umat manapun, Muslim, Buddha, Kristen, juga praktisi Falun Gong," kata Mike Pompeo dalam acara yang dipandu oleh Yahya Cholil Staquf, tokoh Nahdlatul Ulama (NU) - organisasi Islam dan induk GP Ansor seperti dilansir dari Antara, Kamis, 29 Oktober 2020.

Jurus pamungkas dilontarkan. Agitasi dan provokasi dikobarkan. Teriak bahaya "Komunas-komunis". Asing - aseng digaungkan lagi.

Nggambleh.

LAWATAN Menlu Amerika Serikat ke Indonesia, merupakan bagian dari rangkaian kunjungan yang dijadwalkan ke sejumlah negara yakni India, Sri Lanka, dan Maladewa, pada 25-30 Oktober 2020 ini.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat Morgan Ortagus mengatakan dalam kunjungan ke Indonesia, Menteri Pompeo ingin menegaskan visi mengenai wilayah Indo-Pacific yang bebas dan terbuka.

Pengamat Hubungan Internasional Hikmahanto Juwana mengatakan kunjungan Pompeo ke Indonesia di tengah pandemi Covid-19 menjelang Pilpres AS mengundang banyak pertanyaan.

Dia menilai kunjungan tersebut kemungkinan besar berkaitan dengan kekhawatiran AS terhadap Indonesia yang dianggap terlalu dekat dengan China.

Apalagi, kata dia, belakangan ini China sangat agresif di Laut China Selatan. "Bahkan China dengan kekuatan ekonomi dan penemuan vaksin telah mengembangkan pengaruh ke negara-negara kawasan," jelas Hikmahanto di Jakarta .

Agresivitas ekonomi China, menurut buku putih Departemen Pertahanan AS, memungkinkan Negara Tirai Bambu itu meminta sejumlah negara untuk membangun pangkalan militer, termasuk Indonesia. Mengimbangi AS.

AS berharap Indonesia berada di belakang Washington. "Permintaan AS untuk mendaratkan pesawat tempur mata- mata beberapa waktu lalu dapat dikatakan demikian," kata Hikmahanto.

Karena inilah, pengambil kebijakan di Indonesia harus bisa menjaga politik luar negeri bebas aktif terhadap China, Amerika Serikat, maupun negara mana pun, kata Hikmahanto.

"Indonesia jangan terseret oleh kepentingan tertentu Amerika Serikat lantaran kunjungan menteri luar negerinya, " ujar anggota Komisi I DPR Willy Aditya, mengamini.

Pandangan yang sama disampaikan pengamat hubungan internasional Dewi Fortuna Anwar.

Selain menjaga hubungan kemitraan strategis dengan Indonesia, kunjungan Menteri Pompeo berkaitan rivalitas mereka dengan China saat ini.

"Hubungan dengan China kan lebih banyak ke ekonomi, terutama bidang investasi infrastruktur. Jadi seandainya ada kekhawatiran dari AS bahwa Indonesia dekat dengan China, tentu harus ada upaya Amerika Serikat untuk memperluas pengaruhnya pada bidang ekonomi," tambah dia.

Menurut Dewi, eskalasi di Laut Cina Selatan harus disudahi dengan perdamaian dan hubungan yang lebih produktif.

Tapi Amerika, kita sama sama tahu, selalu datang dengan pendekatan wortel dan tongkat ("carrot and stick approach").

"You bantu Amerika atau I (ai) turunkan Pak Kumis? " gertaknya kali ini.

Jadi, berhenti dah ngomong komunas komunis!!

Kayak keluarga Cendana aja.

Nggambleh. ***

Sumber : Status Facebook Supriyanto Martosuwito

Friday, November 6, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: