Kultum

ilustrasi

Oleh : Fuad Adi

Salah satu kegiatan lain di bulan ramadhan adalah maraknya Kultum, biasanya dilaksanakan usai sholat tarawih sebelum witir dan setelah jamaah subuh. Sesuai dengan namanya Kuliah Tujuh Menit, istilah untuk pengajian singkat dengan durasi maksimal tujuh menit, meski praktiknya lebih sering melampaui dari durasi waktu yang dimaksud. Asal tidak menjadi kuliah tujuh puluh menit saja, kalau tidak ingin banyak jamaah tertidur di tempat.

Dari semula mengikuti Kultum, saya sudah menata hati berniat dan menempatkan kegiatan ini sebagai majelis ilmu. Jika contentnya benar-benar menambah ilmu maka itu bonus buat saya, jika isinya hanya himbauan-himbauan atau terkadang hanya harapan-harapan agar jamaah berbuat baik maka saya anggap sebagai kewajiban sesama muslim untuk saling mengingatkan.

Pada satu kesempatan Kultum diisi oleh dosen muda perguruan tinggi Islam dan seorang aktivis kajian. Isinya cukup menarik dan bagi saya mengandung cukup ilmu. Dia menjelaskan mengenai perbedaan-perbedaan pandangan dalam pemikiran Islam yang berakibat lahirnya beragam madzhab dan hukum. Tetapi terhadap perbedaan itu umat Islam tetap berkewajiban menjaga kedamaian. Bahkan tugas mendamaikan sebuah perselisihan merupakan fardhu kifayah, yakni kewajiban kolektif umat Islam yang hanya akan gugur jika salah seorang diantara umat ada yang mengambil peran itu. Jika tidak ada satupun, maka kewajiban itu tetap melekat pada seluruh umat.

Usai Kultum salah satu jamaah menghampiri dosen tersebut. Sepengetahuan saya jamaah ini tergolong rajin ke masjid hanya saya nyaris tidak pernah melihat berbincang dengan jamaah lain kala di masjid. Langkahnya ketika ke masjid selalu cepat bersemangat dengan celana sedikit terbuka mata kakinya. Sekali saya pernah melihat ia khusuk di salah satu sudut masjid membaca buku tentang syariat berpuasa. Kepada dosen tersebut dia bertanya, yang intinya kenapa bersyariat tidak mengikuti satu madzhab saja agar umat tidak bingung?

Oleh dosen tersebut dijawab, kalau tradisi di pesantren, pengalaman saya dulu ada tingkatan-tingkatan seorang santri belajar agama. Untuk tingkatan paling rendah, biasanya usia-usia SD santri hanya diajarkan satu pendapat saja dalam satu madzhab. Meningkat satu tingkatan, usia-usia SMP, santri diajarkan beberapa perbedaan pendapat, tetapi masih dalam satu madzhab. Tingkatan di atasnya lagi baru diajarkan beragam pendapat lintas madzhab. Karena Islam itu satu, Qur’annya satu, tetapi tafsirnya tidak tunggal. Imam syafi’i bilang, “pendapat saya bisa jadi benar, tetapi barangkali mengandung kesalahan, sebaliknya pendapat yang lain salah, tetapi bisa jadi mengandung kebenaran”. Karena kebenaran mutlak itu hanya milik Allah.

Jamaah itupun terdiam, dan kami pun berpamitan seiring merekahnya matahari pagi.

Sumber : Status Facebook Fuad Adi

Thursday, May 16, 2019 - 09:15
Kategori Rubrik: