Kubu Ganti Presiden Panik Soal Freeport

Ilustrasi

Oleh : Budi Setiawan

Parade ketololan dipertunjukkan oleh kaum dungu yang percaya cerita fiksi yang disebarkan profesor S-1 Rocky Gerung soal Freeport dan ocehan politisi kadal buntung. Kajian dangkal dan tolol juga dipertunjukkan lewat meme dengan kata-kata kurang lebih: ngrebut tanah sendiri kok bayarnya trilyunan.

Meme bodoh lagi mengandung fitnah besar itu dipercaya sebagai kebenaran oleh mereka yang benci Jokowi.Dari mulai anggota satpol PP yang di daerah kaya tambang sampai dengan mereka yang bergelar doktor. Semuanya disatukan dalam sebuah aura kebencian teramat sangat yang memenuhi otak kopyor mereka.

Padahal sejatinya, pengambil alihan 51 persen saham Freeport adalah goresan tinta emas dalam sejarah Indonesia. Salah urus hingga Freeport menjajah tanah Papua mulai dituntaskan. Yang harusnya disambut dengan bangga dan tepuk tangan meriah. Divestasi itu awal dari perjuangan anak bangsa mengelola tambang untuk kesejahteraan rakyat bukan untuk para juru tadah, preman, broker dan penipu politik yang jadi maling untuk jadi konglomerat.

Ada ekonom partai dan gerombolan analis yang sekarang rindu order diajak seminar serta jarang dihubungi media, juga menyebarkan fitnah.

Mereka bilang dengan Inalum menguasai 51 persen, maka pembangunan smelter juga dibiayai Inalum. Freeport enak-enak aja. Ngeruk duit yang susah orang Indonesia juga. Demikian fitnahan mereka.

Padahal pembangunan smelter itu justru awal menggebuk Freeport untuk membangun smelter sebanyak-banyaknya hingga mempunyai nilai tambah ekonomi yang sangat besar ketimbang mengekspor barang mentah. Sebagai pemilik saham mayoritas, pembangunan smelter itu bisa dipercepat. Sebagai pemilik mayoritas, Inalum punya akses data tentang logam apa saja yang terkandung di tambang Freeport, selain emas. Katanya ada uranium, tembaga kelas satu dan logam langka lainnya.

Dengan masuknya Inalum, Indonesia tahu apa yang sebenarnya disembunyikan Freeport selama puluhan tahun. Dan punya keleluasaan untuk memberdayakannya.

Namun potensi ini tidak dilirik dan diedukasi oleh mereka yang ngotot ganti presiden. Tidak ada jiwa satria dan sportif dalam berlaga politik untuk memberikan jempol atas usaha anak bangsa melepaskan negara ini dari penjajahan ekonomi pihak asing.

Harusnya mereka mendukung upaya ini karena bagaimanapun, oposisi atau tidak, divestasi saham Freeport adalah strategis menegakkan marwah bangsa siapapun dia. Ini masalah kedaulatan.

Namun yang dipertontonkan adalah parade fitnah.Yang didasarkan oleh kebencian yang disambut oleh jiwa-jiwa orang tolol.Yang sebagian dari mereka, percaya penuh pada kata-kata para penceramah dobol. Dan dongeng fiksi si Rocky yang memamerkan kedunguan dia.

Bantahan demi bantahan masuk akal mengalir untuk mengkonter kampanye menyebarkan kebodohan itu. Yang membungkam mulut bau mereka dan mendesaknya ke ruang sempit untuk hanya bergaul dengan sesama orang tolol.

Yang bangga luar biasa ketika ada petinggi meresmikan sebuah gardu listrik yang dibangun orang lain.

Ditengah gelak tawa banyak orang menyaksikan ketololan merka.

Dan kaum waras sekali lagi meraih kemenangan besar berjuang menuju 2019.

Jauh meninggalkan mereka yang ngotot ganti presiden yang jelas-jelas isinya kaum pecundang.

Yang tidak ada kecerdasan sedikitpun dalam berjuang.

Karena yang ada cuma kepanikan dan kebingungan mencari cara menumbangkan sang bintang.

Sumber : Status Facebook Budi Setiawan 

Saturday, July 21, 2018 - 18:45
Kategori Rubrik: